Langsung ke konten utama

"Lontong Irus Gambut" yang Murah Enaknya

Setiap orang yang dari Banjarbaru mau ke Banjarmasin menggunakan jalur jalan negara yang bernama Jalan Jenderal Achmad Yani, sudah pasti akan melintasi wilayah Kecamatan Gambut, yang secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Banjar. Tapi kalau secara yang lain, tidak usah dibahas, tidak ada kaitan.

Di daerah Gambut, yang tepatnya entah pada kilometer berapa Jl. A. Yani, akan ada sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU). Persisnya pada sisi selatan Jl. A. Yani, atau sisi kiri jika ke arah Banjarmasin. Urang Banjar tak terbiasa menggunakan navigasi utara-selatan-timur-barat. Saya juga pada awalnya, tapi sekarang sudah bisa. Maklum belajar.

Tidak jauh dari TPU tersebut, terus ke arah Banjarmasin, atau terus ke barat TPU, akan ada sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Bangunan panggung sederhana. Pada bangunan itulah terdapat yang jualan lontong. Namanya "Lontong Irus" demikian tulisan yang tertera.

Lontong IRUS, Gambut, Kalimantan Selatan.
Lontong IRUS, Gambut, Kalimantan Selatan.

Menu utama yang tersedia di situ adalah lontong, juga nasi kuning kalau tak salah. Lauk yang tersedia ada telur dan haruan dan apalagi yang lupa, karena memang tak pernah pesan yang lain kecuali dengan dua jenis lauk itu.

Soal selera memang soal pribadi, tapi juga sampai macam pilihan politik dalam pemilu atau pilkada. Hanya saja, selama ini memang paling suka kalau makan lontong ya di tempat itu, di lontong Irus yang punya nama. Meski penjual ini sempat beberapa kali geser tempat. Tapi nampaknya tak jauh-jauh dari daerah situ-situ juga.

Tak banyak yang dituliskan kali ini soal lontong ini. hanya kesimpulan utama dalam dua kata, yakni: enak, murah. Kalau diubah menjadi enak dan murah, maka sudah barang tentu akan menjadi tiga kata. Komposisinya pas semua. Rasa dan tekstur lontongnya yang tidak keras atau terlalu lembek, rasa gurih kuahnya, bumbu lauknya. Pas! Overall okesip lah.

Kalau mau nyoba ke sana, cari saja lokasi dan bangunan sebagaimana sudah dideskripsikan di awal itu, plus akan terlihat saja panci-panci tempat kuah dan lauk, serta deretan lontongnya. Bahkan dari jalan saat kita berkendara roda berapapun.

Tapi, kalau punya selera yang berbeda, tak ada salahnya juga kasih tahu, siapa tau akan sekali waktu mencobanya jika ternyata belum. Silakan... Atau, sesekali kita makan bareng di Lontong Irus? Mau? Nah, ini yang tak bisa menjanjikan apapun. Lebih baik coba masing-masing dulu saja.

Komentar

  1. ((Overall))

    Sungguh ini. Kenapa saya yg liwat situ tak melihat warung acil irus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah. Mana bisa saya tahu apa penyebabnya.

      Hapus

Posting Komentar