Ruangan RahasiaSebuah buku yang kupegang tidak seberapa tebal telah penuh dengan coretan. Design kasar sebuah alat elektronik tiba-tiba muncul. Halaman berikutnya kutulis jelas spesifikasi, arsitektur rancangannya, dan komponen yang harus kubeli. Sekilas coret-coretan itu seperti coretan seorang ilmuwan. Atau lebih tepatnya seperti coretan inventor atau penemu alat elektronik yang bekerja di bagian creative perusahaan terkenal layaknya Apple.

Beberapa jam sebelum itu..

Malam biasa saja, tidak ada yang berlebihan. Aku kembali ke rumah, mengecek telepon masuk, dan duduk sebentar di komputer. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di komputer untuk internetan karena tugasku menumpuk. Deadline demi deadline melintas silih berganti bak pesawat tempur yang siap dengan senjata lengkapnya: senjata otomatis 20 mm, air-to-air missiles, dan segala macamnya.

Otakku berputar kencang. Bukan karena tugas itu membutuhkan waktu, tetapi karena tugas itu bermodalkan ide. Kita semua tau, orang kantoran melakukan hal-hal yang prosedural untuk menyelesaikan tugasnya. Namun bagi seseorang yang bekerja menantang perkembangan, tentu buku Standard Operating Procedure tidak lagi menjadi pedoman. Butuh sesuatu di luar standar, sesuatu yang unik.

Telepon di sebelahku berdering. Suara deringannya tak ada, hanya lampu merah yang menyala-nyala. Aku mengangkat dan mengangguk-angguk penuh arti. Di seberang sana, seorang sekretaris pimpinan proyek berkata: “Hello, Sir. Your blah blah blah blah”. Aku mengerti maksudnya, beberapa hari lagi deadline satu tugasku sudah menanti. Dalam hati aku mengutuk, kenapa waktu tidak bisa diperlambat? Atau otak yang dipercepat? Atau setidaknya pinjamkan aku sebuah ruangan tempat latihan Dragon Ball yang katanya waktu di tempat itu lebih lambat daripada waktu di bumi.

Tentunya hal semacam itu irasional, maka aku harus berpikir secara rasional dan kembali “berpikir” agar tugas selesai. Otak tidak bisa dipercepat, waktu tidak bisa diperlambat. Mengutip filosofi ilmuwan terkenal Albert Einstein: “Jika kamu tidak bisa mengubah hal-hal yang berkaitan langsung pada suatu persamaan, maka ubahlah lingkungannya”. Ding! Itulah yang harus aku lakukan, aku harus menemukan suatu lingkungan yang tepat untuk “berpikir”. Tapi di mana?

30 menit lalu

Aku terpaksa masuk ke ruangan ini. Aku mencoba untuk menolaknya. Namun, semakin keras aku menolak semakin kuat pula keharusan aku untuk masuk ke dalamnya. Di dalam aku duduk termenung. Dan seketika itu semua persamaan-persamaan mulai keluar. Aku selalu menyiapkan kertas notesku. Sungguh hebat di dalam ruangan ini. Ya, aku menemukannya. Inilah lingkungan yang kucari untuk “berpikir”. Tak pernah sebelumnya terlintas olehku. Ditemani suara air yang menetes, pikiranku jauh melayang. Ide demi ide mulai muncul. Dan tanganku pun mulai mencorat-coret. Di ruangan ini aku sadar bahwa manusia dapat melakukan kegiatan multi-tasking terbaiknya.

30 menit berlalu dan aku masih sibuk menulis di ruangan yang inspirasional ini. Handphone berdering dan seseorang di seberang sana berkata: “Where are you sir? Need you in H.Q”. Telepon itu membuyarkan lamunanku, imajinasi, dan tulisan-tulisanku. Aku harus ke sana. Aku sadar dan aku keluar dari ruangan itu. Di tengah perjalanan aku cekikikan. Tahukah teman? Siapkanlah kertas kecil dan pulpen di toilet anda karena di ruangan itulah semua imajinasi anda mengalir. :)

* Maaf teman-teman, aku harus kembali bekerja. Sampai bertemu lagi

Random Posts