Perusahaan minyak yang ada di Indonesia ini kebanyakan adalah perusahaan multinasional. Ada yang bermarkas di Amerika, Perancis, bahkan China. Tidak seperti di Arab (Bu Sunflo pasti lebih tau) dan Venezuela yang perusahaan minyaknya murni punya sendiri, Indonesia harus menggaet beberapa perusahaan multinasional itu karena alasan teknologi, pengalaman, dan modal yang mumpuni.

Nah, ceritanya aku “main-main” ke JOB Pertamina-Petrochina di Mudi, Tuban. Seperti biasa, tugas adalah tugas, tidak boleh ditinggalkan. Dari ExxonMobil di Banyu Urip, Bojonegoro, perjalanan ke Tuban memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Berhubung akses jalan tidak semulus jalan tol Suramadu, maka tarikan mobil terasa berat. Meskipun kencang, lompatan-lompatan kecil sepanjang perjalanan selalu kurasa karena jalannya memang bergelombang.

Kesanku di ExxonMobil dan beberapa perusahaan barat lain, suasana asal perusahaan masih terbawa. Di Exxon saja masih sering kutemui bule wira-wiri. Mereka memang bagian dari company representative dan terkadang memimpin dengan gaya kebarat-baratannya. Belum lagi standard teknis yang biasanya mengacu ke barat.

Petrochina TubanSekedar informasi, Petrochina adalah perusahaan asal China, anak perusahaan CNPC, penghasil minyak terbesar di China. Yang ada di benakku sebelum sampai adalah perusahaan dengan beberapa tulisan China, managernya orang China, dan budaya perusahannya keChina-Chinaan. Mesin-mesin utama pun kupikir buatan China. Ternyata tidak teman, sesampai di sana, satu-satunya tulisan China hanya kutemukan di wearpack. Selebihnya? Tak ada! Wah, perusahaan ini benar-benar go international sepertinya.

Petrochina Mudi memproduksi minyak sekitar 4000 BOPD, didukung oleh beberapa sumur. Satu sumur menggunakan vertical drilling sedang yang lain dengan horizontal drilling. Sumur-sumur ini tidak sesakti sumur lapangan Petrochina Sukowati yang natural flowing sehingga dirasa perlu dipasangkan alat bantu Electric Submersible Pump (ESP) untuk memompa minyak dari reservoir. Air yang diproduksi semakin besar karena setiap sumur minyak pasti mengalami decline. ESP dipasang pada kedalaman 6000 ft, sedangkan reservoirnya sendiri berkedalaman 9000 ft.

Kandungan H2S yang dikandung sangat besar sehingga penanganannya perlu dilakukan dengan ekstra. Belum lagi protes dari masyarakat terkait dengan bau H2S ini kerap terjadi. Mau tidak mau Sulfur Recovery Unit (SRU) pun dibuat. Sulfur yang diproduksi sekitar 6 ton per hari. Menariknya, regulasi tidak memperbolehkan KKKS menjual sulfur yang tergolong Barang Beracun dan Berbahaya (B3) itu. Namun, ada saja yang menadah sulfur ini.

Keep Close the DoorLucunya, saat masuk ke Control Room ada tulisan bahasa Inggris: “Keep close the door!! to keep low temperature in the UPS room, TTD Production Supervisor”. Aku cekikikan membaca tulisan itu. Entah karena aku merasa grammarnya ada yang salah (bener ga ya? Asoka help me, bener ga tu english?) atau karena bahasanya campur-campur. Masa di atas bahasa Inggris, bawahnya “Tertanda (TTD)”.

Safety Helmet Lee BedjoTidak itu saja, di meja tergeletak safety helmet bernamakan Lee Bedjo. Karena tergeletak begitu saja, aku tanya ke staff yang bertugas siapa Lee Bedjo? Aku pikir yang keluar adalah orang China atau setidaknya keturunan China karena namanya persis seperti Bruce Lee, hanya saja Bedjo nama dipakai untuk kesan Indonesia. Ternyata setelah kutunggu-tunggu seseorang keluar, “Ada apa Pak?”. Oh, ini yang namanya Lee Bedjo? Wong Jowo tulen!! Hahaha..

Aku pun senyam-senyum sendiri mengingat kejadian itu.

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • LinkedIn
  • del.icio.us
  • Print
  • PDF
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • StumbleUpon

Random Posts