Ibarat anak kampung pergi ke kota, yang ada di benakku waktu itu mengunjungi Jembatan Suramadu. Konon cerita dari orang Surabaya, jembatan ini adalah ikon kedua Surabaya setelah Do**y. Do**y sendiri adalah “tempat wisata” yang paling banyak ingin dikunjungi oleh “turis” dari luar pulau. Bukan karena ingin menggunakan “jasanya”, tetapi karena penasaran.

Kembali ke Jembatan Suramadu, jembatan ini menghubungkan Surabaya-Madura melintasi selat Madura. Jarak tempuh rata-rata dari ujung Surabaya ke Madura sekitar 15-20 menit dengan menggunakan mobil atau motor. Saat jam 9 pagi melintasi, saya sengaja berjalan lambat. Angin dari laut berhembus kencang dan sepoi-sepoi. Sepanjang jalan dihiasi himbauan untuk waspada terhadap angin dari samping. Bukan apa-apa, kalau motor melintas dan angin tiba-tiba menjadi kencang, jalan motor bisa oleng. Namun, pihak pengelola sudah bisa memprediksi dan mengantisipasi hal ini dengan menutup akses ke jembatan jika terjadi angin kencang.

Dua tiang yang dipancangkan tingginya bukan main, saya sampai mendongak ke atas saat melintasi di bawahnya. Sayang kendaraan tidak diperbolehkan untuk berhenti. Untuk kegiatan mengambil foto, para pengunjung biasanya berhenti di ujung jalan.

Nah karena sifat manusia yang tidak pernah puas, begitu menginjakkan kaki di Madura kami pun tergelitik untuk terus berjalan sampai ke Bangkalan. Dari ujung tol hingga ke Bangkalan dapat ditempuh dengan waktu 15-20 menit pula. Sesampai di Bangkalan kami cuma ke alun-alun karena tidak ada tujuan. Kami pun sibuk mencari tempat tujuan hingga salah satu papan penunjuk jalan bertuliskan “Mercusuar” terpampang dengan jelas.

– bersambung

* Saya baru update WordPress menjadi versi 2.9.2. Update berjalan normal tanpa kendala. Namun saat saya mengupload foto di atas, kok g keresize otomatis ya? Ada yang mengalami masalah serupa? Terima kasih
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • LinkedIn
  • del.icio.us
  • Print
  • PDF
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • StumbleUpon

Related Posts