17 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Istilah idealis, normatif, error, dan turunannya mulai aku kenal sejak SMA. Istilah-istilah itu dulu cukup kukenang karena tanpa istilah itu mungkin kami akan sulit mendeskripsikan royal tidaknya seorang siswa terhadap aturan.
Aku menghabiskan 3 tahun di Lembah Tidar, Magelang. Saat awal bersekolah di SMA Taruna Nusantara aku merasa kebebasanku dikekang. Bagaimana tidak? Tiga tahun sekolah di asrama dengan peraturan yang mengikat jiwa muda terasa seperti bayangan mimpi buruk sebelum tidur. >> Read more…
Sore tadi rencananya mau lihat gerhana matahari. Namun awan sepertinya terlalu perkasa bergelayut di atmosfer hingga menutup pandangan. Hujan tak kunjung turun, sinar mentari pun malu-malu. Listrik mati tambah memperkeruh suasana. Tapi aku tidak ambil pusing, jangan-jangan power plant di sini (kebetulan daerah tempat tinggalku tidak pakai PLN) mau mengurangi emisi membantu mencegah pemanasan global.
Sambil menunggu listrik menyala, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke barber. Kalau dipikir-pikir barber ini profesi yang paling ga sopan. Gimana tidak, masa kerjaannya tiap hari pegang kepala orang. >> Read more…
Sekitar dua tahun lalu (2007) saat di Jogja, aku diajak om untuk makan malam di seputaran Jalan Kaliurang. Sepanjang jalan Kaliurang saat malam tiba berubah jadi keramaian yang ngangenin. Sebenarnya ga terlalu ramai sih, tapi jalan ini selalu padat. Di kanan kiri trotoar bermunculan tenda-tenda dadakan. Jajanan yang menarik mewarnai sepanjang Perempatan Mirota sampai perempatan Pos Polisi samping Fakultas Kehutanan UGM.
Tibalah kami pada salah satu tempat makan. Duduk selonjor, sambil santai menunggu pesanan membuatku bingung hendak ngapain. Eh tiba-tiba saja ada seorang pengamen datang. >> Read more…
9 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Pagi beberapa hari lalu seperti biasa, aku bersiap untuk pergi. Aku berangkat agak telat karena jadwal tidak ketat. Kusempatkan duduk di depan komputer internetan sambil lihat-lihat berita. Tok tok tok, pintu berbunyi. Seorang tua dengan senyumnya masuk.
Ia seorang cleaning service yang tugasnya membersihkan setiap sudut ruangan. Sengaja kugunakan panggilan “cleaning service” untuk menghindari kata-kata pembantu yang berkonotasi jelek. Sebenarnya setiap hari ia datang bekerja saat aku tidak ada, hanya saja pagi itu aku benar-benar melihatnya bertugas. >> Read more…
111 Komentar | Dikunjungi: 308 kali