Setelah hampir 1 minggu tidak senam jari di keyboard menulis blog, akhirnya tangan ini gatal juga. Sibuk memang, tetapi kegiatan ngeblog harus tetap berjalan dong. Bagaimanapun juga ngeblog bukan hanya milik orang yang punya waktu luang, tetapi juga bagi orang sibuk.
Beberapa hari yang lalu, sore masih seperti biasanya. Hanya awan hitam bergelayut di atas. Awan itu terasa sangat dekat. Tanpa kusadari kilatan cahaya pun berulang berkali-kali pertanda hujan akan segera turun. Ya, benar saja, tidak berapa lama hujan turun dengan derasnya. >> Read more…
29 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta.
Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.
Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.
”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda.
“Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore
nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu. >> Read more…
24 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Saat dial-up masih merajalela, aku sering iri melihat orang-orang di luar sana tertawa-tawa dengan kecepatan akses internetnya. Tahun 1998, aku hanya mengandalkan modem Rockwell 33.6 Kbps untuk mengakses internet. Waktu itu Telkomnet Instan belum terkenal (atau belum ada ya?). Untuk browsing aku masih menggunakan Netscape dan IE. Netscape dulu sempat jadi primadona. Sedangkan chatting, mIRC favoritku.
Kala itu chatting di mIRC masih enak dan nyaman, belum beredar banyak Bot, inviter, dan kawan-kawannya. Orang-orang yang ada di sebuah channel bisa dipastikan manusia tulen. Tapi kebanyakan orang bule. Aku paling benci saat mereka menyodorkan URL video. Aku hanya bisa mengelus dada saat mereka menyuruh download file ratusan MB besarnya. Sialan mereka pikirku, ngejek nih. Untuk mendownload sebuah file lagu saja ngos-ngosan, bisa setengah jam lebih kadang-kadang. >> Read more…
21 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Drama republik tahun 2010 ini diwarnai dengan invasi terhadap pejabat ‘korup’. Media dengan alasan demokrasi mengupas habis drama tersebut episode demi episode. Masyarakat tak punya pilihan saat melihat televisi berduyun-duyun mengisi layar kaca pemirsanya dengan suguhan acara itu. Tidak lupa embel-embel “terpercaya, langsung, aktual, dsb” melekat erat-erat.
Sudah hampir setahun masyarakat Indonesia disuguhi pemberitaan media bernada sama. Otak, akal dibombardir dengan informasi yang katanya aktual itu. Tak pelak opini pun berubah-ubah. >> Read more…
66 Komentar | Dikunjungi: 92 kali