24 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Saat dial-up masih merajalela, aku sering iri melihat orang-orang di luar sana tertawa-tawa dengan kecepatan akses internetnya. Tahun 1998, aku hanya mengandalkan modem Rockwell 33.6 Kbps untuk mengakses internet. Waktu itu Telkomnet Instan belum terkenal (atau belum ada ya?). Untuk browsing aku masih menggunakan Netscape dan IE. Netscape dulu sempat jadi primadona. Sedangkan chatting, mIRC favoritku.
Kala itu chatting di mIRC masih enak dan nyaman, belum beredar banyak Bot, inviter, dan kawan-kawannya. Orang-orang yang ada di sebuah channel bisa dipastikan manusia tulen. Tapi kebanyakan orang bule. Aku paling benci saat mereka menyodorkan URL video. Aku hanya bisa mengelus dada saat mereka menyuruh download file ratusan MB besarnya. Sialan mereka pikirku, ngejek nih. Untuk mendownload sebuah file lagu saja ngos-ngosan, bisa setengah jam lebih kadang-kadang. >> Read more…
21 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Drama republik tahun 2010 ini diwarnai dengan invasi terhadap pejabat ‘korup’. Media dengan alasan demokrasi mengupas habis drama tersebut episode demi episode. Masyarakat tak punya pilihan saat melihat televisi berduyun-duyun mengisi layar kaca pemirsanya dengan suguhan acara itu. Tidak lupa embel-embel “terpercaya, langsung, aktual, dsb” melekat erat-erat.
Sudah hampir setahun masyarakat Indonesia disuguhi pemberitaan media bernada sama. Otak, akal dibombardir dengan informasi yang katanya aktual itu. Tak pelak opini pun berubah-ubah. >> Read more…
17 Jan oleh Wahyu Reza Prahara di
Artikel
Istilah idealis, normatif, error, dan turunannya mulai aku kenal sejak SMA. Istilah-istilah itu dulu cukup kukenang karena tanpa istilah itu mungkin kami akan sulit mendeskripsikan royal tidaknya seorang siswa terhadap aturan.
Aku menghabiskan 3 tahun di Lembah Tidar, Magelang. Saat awal bersekolah di SMA Taruna Nusantara aku merasa kebebasanku dikekang. Bagaimana tidak? Tiga tahun sekolah di asrama dengan peraturan yang mengikat jiwa muda terasa seperti bayangan mimpi buruk sebelum tidur. >> Read more…
Sore tadi rencananya mau lihat gerhana matahari. Namun awan sepertinya terlalu perkasa bergelayut di atmosfer hingga menutup pandangan. Hujan tak kunjung turun, sinar mentari pun malu-malu. Listrik mati tambah memperkeruh suasana. Tapi aku tidak ambil pusing, jangan-jangan power plant di sini (kebetulan daerah tempat tinggalku tidak pakai PLN) mau mengurangi emisi membantu mencegah pemanasan global.
Sambil menunggu listrik menyala, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke barber. Kalau dipikir-pikir barber ini profesi yang paling ga sopan. Gimana tidak, masa kerjaannya tiap hari pegang kepala orang. >> Read more…
128 Komentar | Dikunjungi: 234 kali