Sore tadi rencananya mau lihat gerhana matahari. Namun awan sepertinya terlalu perkasa bergelayut di atmosfer hingga menutup pandangan. Hujan tak kunjung turun, sinar mentari pun malu-malu. Listrik mati tambah memperkeruh suasana. Tapi aku tidak ambil pusing, jangan-jangan power plant di sini (kebetulan daerah tempat tinggalku tidak pakai PLN) mau mengurangi emisi membantu mencegah pemanasan global.

Sambil menunggu listrik menyala, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke barber. Kalau dipikir-pikir barber ini profesi yang paling ga sopan. Gimana tidak, masa kerjaannya tiap hari pegang kepala orang. Presiden, menteri yang notabene pejabat di negara ini pasti pernah dipegang-pegang kepalanya oleh tukang cukur rambut hehe.. :D

Tukang potong rambut ini langgananku. Selama ini ia single fighter. Namun tadi aku melihat ia ditemani seorang muda. Anak muda itu juga memotong rambut orang-orang. Wah, setelah antri akhirnya aku dapat giliran. Karena kebetulan yang kosong di tempat si anak muda itu, akhirnya aku pasrahkan kepalaku dipegang dan rambutku dipotong olehnya.

Biasanya ketika aku memotong rambut, aku hanya diam saja. Si Bapak langgananku itu dengan terampil menebas rambutku sesuai gaya ‘biasanya’. Nah, si anak muda ini tiba-tiba kikuk karena aku ngomong seperti ‘biasa’. Si Bapak terpaksa menjelaskan dengan istilahnya mengeluarkan kata sasak, potong pendek, dsb.

Wahwahwah, untuk menjelaskan itu saja si Bapak sampai menelantarkan ‘pasien’ nya. Si anak muda mengiyakan seumpama murid diajari oleh gurunya. Proses potong-potong kali ini lama, tidak seperti biasanya. Sesekali si anak muda tadi bertanya-tanya padaku. Wah, repotnya kalau harus menjelaskan berkali-kali. Tiba-tiba mungkin karena mendengar aku daritadi ditanya-tanya terus, si Bapak datang merapikan rambutku. Dan lagi-lagi ‘pasien’nya ditelantarkan. Si ‘pasien’ Bapak itu hanya bisa melihatku dari cermin. Sebentar saja tidak sampai 5 menit rambutku sudah rapi, persis seperti ‘biasanya’. Si anak muda hanya membersihkan sisa-sisanya saja yang tak seberapa. Setelah selesai, tidak lupa kuucapkan terima kasih.

Kalau saja tadi si Bapak tidak mengambil alih, mungkin rambutku sudah aneh potongannya. Yah, beginilah kalau sudah langganan. Dilayani dan diutamakan seperti raja. Apa yang kita mau biasanya sudah dihafal. Pengalamanku dalam menggunakan layanan jasa, jika sudah merasa cocok, terlebih orang itu memperhatikan, mengenal, dan mengetahui pelanggan dan selera pelanggannya secara personal, itulah langganan terbaik. Cerio.. ;)

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • LinkedIn
  • del.icio.us
  • Print
  • PDF
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • StumbleUpon

Random Posts