<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wahyu Reza Prahara &#187; Lika Liku Hidup</title>
	<atom:link href="http://www.wahyu.web.id/lika-liku-hidup/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahyu.web.id</link>
	<description>Bahas Ini Itu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 05:52:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Perusahaan Asing Rasa Lokal</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/perusahaan-asing-rasa-lokal.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/perusahaan-asing-rasa-lokal.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[banyu urip]]></category>
		<category><![CDATA[bojonegoro]]></category>
		<category><![CDATA[exxonmobil banyu urip]]></category>
		<category><![CDATA[exxonmobil cepu]]></category>
		<category><![CDATA[job pertamina petrochina]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan minyak asing]]></category>
		<category><![CDATA[petrochina mudi]]></category>
		<category><![CDATA[petrochina tuban]]></category>
		<category><![CDATA[produksi sumur minyak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan minyak yang ada di Indonesia ini kebanyakan adalah perusahaan multinasional. Ada yang bermarkas di Amerika, Perancis, bahkan China. Tidak seperti di Arab (Bu Sunflo pasti lebih tau) dan Venezuela yang perusahaan minyaknya murni punya sendiri, Indonesia harus menggaet beberapa perusahaan multinasional itu karena alasan teknologi, pengalaman, dan modal yang mumpuni. Nah, ceritanya aku &#8220;main-main&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/JOB-Pertamina-Petrochina-Mudi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-282" title="JOB Pertamina-Petrochina Mudi" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/JOB-Pertamina-Petrochina-Mudi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Perusahaan minyak </strong>yang ada di Indonesia ini <strong>kebanyakan </strong>adalah perusahaan <strong>multinasional</strong>. Ada yang <strong>bermarkas </strong>di <strong>Amerika</strong>, <strong>Perancis</strong>, bahkan <strong>China</strong>. Tidak seperti di <strong>Arab </strong>(Bu <strong><a href="http://ilikesunflower.wordpress.com">Sunflo</a> </strong>pasti lebih tau) dan <strong>Venezuela </strong>yang perusahaan <strong>minyaknya </strong>murni punya sendiri, <strong>Indonesia</strong> harus <strong>menggaet </strong>beberapa perusahaan <strong>multinasional </strong>itu karena alasan <strong>teknologi</strong>, <strong>pengalaman</strong>, dan <strong>modal </strong>yang <strong>mumpuni</strong>.</p>
<p>Nah, <strong>ceritanya </strong>aku &#8220;main-main&#8221; ke <strong>JOB Pertamina</strong>-<strong>Petrochina </strong>di <strong>Mudi</strong>, <strong>Tuban</strong>. Seperti biasa, <strong>tugas </strong>adalah tugas, tidak boleh <strong>ditinggalkan</strong>. Dari <strong>ExxonMobil </strong>di <strong>Banyu Urip</strong>, Bojonegoro, perjalanan ke Tuban memakan waktu sekitar 1 jam lebih. Berhubung akses jalan tidak <strong>semulus </strong>jalan tol <a href="http://www.wahyu.web.id/penasaran-dengan-suramadu.html"><strong>Suramadu</strong></a>, maka <strong>tarikan </strong>mobil terasa berat. <span id="more-277"></span>Meskipun <strong>kencang</strong>, lompatan-lompatan kecil <strong>sepanjang perjalanan </strong>selalu kurasa karena jalannya memang <strong>bergelombang</strong>.</p>
<p>Kesanku di <strong>ExxonMobil </strong>dan beberapa <strong>perusahaan </strong>barat lain, suasana asal <strong>perusahaan </strong>masih terbawa. Di <strong>Exxon </strong>saja masih sering kutemui <em>bule</em> <em>wira</em>-<em>wiri</em>. Mereka <strong>memang </strong>bagian dari <em>company representative</em> dan <strong>terkadang memimpin </strong>dengan gaya kebarat-baratannya. <strong>Belum </strong>lagi <em>standard </em>teknis yang <strong>biasanya </strong>mengacu ke barat.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Petrochina-Tuban.jpg"><img class="size-medium wp-image-278 alignright" title="Petrochina Tuban" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Petrochina-Tuban-300x225.jpg" alt="Petrochina Tuban" width="300" height="225" /></a><strong>Sekedar informasi</strong>, <strong>Petrochina </strong>adalah perusahaan asal <strong>China</strong>, anak perusahaan <strong>CNPC</strong>, penghasil minyak <strong>terbesar </strong>di <strong>China</strong>. Yang ada di benakku sebelum sampai adalah <strong>perusahaan </strong>dengan beberapa <strong>tulisan</strong> China, <strong><em>manager</em>nya </strong>orang <strong>China</strong>, dan budaya perusahannya <em>keChina</em>-<em>Chinaan</em>. <strong>Mesin</strong>-<strong>mesin </strong>utama pun <strong>kupikir </strong>buatan China. Ternyata tidak teman, sesampai di sana, satu-satunya <strong>tulisan China </strong>hanya kutemukan di <strong><em>wearpack</em></strong>. <strong>Selebihnya</strong>? Tak ada! Wah, perusahaan ini benar-benar<em> go international</em> sepertinya.</p>
<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Wellhead-Mudi-11.jpg"><img class="size-medium wp-image-281 alignleft" title="Wellhead Mudi 11" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Wellhead-Mudi-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Petrochina Mudi </strong>memproduksi minyak sekitar <strong>4000 </strong>BOPD, <strong>didukung </strong>oleh beberapa <strong>sumur</strong>. Satu <strong>sumur </strong>menggunakan <em>vertical drilling </em>sedang yang lain dengan <em>horizontal </em>drilling. Sumur-sumur ini <strong>tidak </strong>sesakti sumur lapangan <strong>Petrochina Sukowati </strong>yang <em>natural flowing</em> sehingga <strong>dirasa </strong>perlu <strong>dipasangkan </strong>alat bantu <em>Electric Submersible Pump</em> (ESP) untuk <strong>memompa</strong> minyak dari <em>reservoir</em>. Air yang <strong>diproduksi </strong>semakin besar karena setiap <strong>sumur minyak </strong>pasti mengalami <em>decline</em>. ESP dipasang pada kedalaman <strong>6000 </strong>ft, sedangkan <em>reservoir</em>nya sendiri <strong>berkedalaman </strong>9000 ft.</p>
<p>Kandungan <strong>H2S </strong>yang <strong>dikandung </strong>sangat besar sehingga <strong>penanganannya</strong> perlu dilakukan <strong>dengan </strong>ekstra. Belum lagi <strong>protes </strong>dari <strong>masyarakat </strong>terkait dengan bau H2S ini <strong>kerap </strong>terjadi. Mau tidak mau <em><strong>Sulfur Recovery Unit</strong></em> (SRU) pun dibuat. <em>Sulfur </em>yang <strong>diproduksi </strong>sekitar 6 ton per hari. Menariknya, <strong>regulasi </strong>tidak memperbolehkan <strong>KKKS </strong>menjual <em>sulfur </em>yang tergolong <strong>Barang Beracun dan Berbahaya</strong> (B3) itu. Namun, ada saja yang <strong>menadah </strong><em>sulfur </em>ini.</p>
<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Keep-Close-the-Door.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-279" title="Keep Close the Door" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Keep-Close-the-Door-300x225.jpg" alt="Keep Close the Door" width="300" height="225" /></a>Lucunya</strong>, saat masuk ke <strong><em>Control Room</em></strong> ada tulisan bahasa Inggris: <em>&#8220;Keep close the door!! to keep low temperature in the UPS room, TTD Production Supervisor&#8221;</em>. Aku <em><strong>cekikikan</strong> </em>membaca tulisan itu. Entah <strong>karena </strong>aku merasa <em>grammar</em>nya ada yang salah (bener ga ya? <strong><a href="http://www.mukabantal.com">Asoka</a> </strong><em>help me</em>, bener ga tu <em>english</em>?) atau karena <strong>bahasanya </strong>campur-campur. Masa di atas <strong>bahasa</strong> Inggris, bawahnya &#8220;<strong>Tertanda </strong>(<strong>TTD</strong>)&#8221;.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Safety-Helmet-Lee-Bedjo.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-280" title="Safety Helmet Lee Bedjo" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Safety-Helmet-Lee-Bedjo-300x225.jpg" alt="Safety Helmet Lee Bedjo" width="300" height="225" /></a>Tidak itu saja, di meja <strong>tergeletak </strong><em>safety helmet</em> bernamakan <strong>Lee Bedjo</strong>. Karena <strong>tergeletak </strong>begitu saja, aku tanya ke <em>staff </em>yang <strong>bertugas </strong>siapa Lee Bedjo? Aku <strong>pikir </strong>yang keluar adalah <strong>orang China </strong>atau setidaknya <strong>keturunan China </strong>karena namanya persis seperti <strong>Bruce Lee</strong>, hanya saja <strong>Bedjo </strong>nama dipakai untuk <strong>kesan </strong>Indonesia. Ternyata setelah <strong>kutunggu</strong>-<strong>tunggu </strong>seseorang keluar, <strong>&#8220;Ada apa Pak?&#8221;</strong>. Oh, ini yang <strong>namanya </strong>Lee Bedjo? <strong>Wong Jowo</strong> tulen!! <strong>Hahaha</strong>..</p>
<p>Aku pun senyam-senyum sendiri mengingat kejadian itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/perusahaan-asing-rasa-lokal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>126</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membeli Obat, Kenali Hak Kita</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/membeli-obat-kenali-hak-kita.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/membeli-obat-kenali-hak-kita.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 12:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[cerita obat]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan obat generik]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan obat generik]]></category>
		<category><![CDATA[membeli obat]]></category>
		<category><![CDATA[obat generik]]></category>
		<category><![CDATA[obat generik murah]]></category>
		<category><![CDATA[obat murah]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan obat generik dan non generik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman ini sedikit aku share, agar kita bisa mengenal hak kita saat membeli obat. Aku tidak mempermasalahkan judul toko, nama warung, atau brand apoteknya. Aku juga tidak memperdulikan dokter, apoteker, atau siapa di balik fenomena ini. Tapi rasa-rasanya ini pengalamanku yang ketiga dalam membeli obat. Dua malam lalu, aku dari acara makan malam berencana membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Obat-Generik-Murah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-265" title="Obat Generik Murah" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Obat-Generik-Murah.jpg" alt="obat generik, obat murah" width="233" height="209" /></a>Pengalaman </strong>ini <strong>sedikit </strong>aku <em>share</em>, agar kita bisa mengenal hak kita saat membeli <strong>obat</strong>. Aku tidak <strong>mempermasalahkan </strong>judul <strong>toko</strong>, nama <strong>warung</strong>, atau <em>brand <strong> </strong></em><strong>apoteknya</strong>. Aku juga tidak memperdulikan <strong>dokter</strong>, <strong>apoteker</strong>, atau siapa di balik <strong>fenomena </strong>ini. Tapi rasa-rasanya ini <strong>pengalamanku </strong>yang ketiga dalam <strong> membeli </strong>obat.</p>
<p>Dua <strong>malam </strong>lalu, aku dari acara <strong>makan malam </strong>berencana <strong>membeli </strong>obat <strong>pesanan </strong>teman. Bukan obat <strong>demam</strong>, <strong>flu</strong>, atau <strong>pilek</strong>. Obat ini untuk <strong>penyakit </strong><em>Herpes</em>. Asal-usul <strong>virus </strong>penyebab <strong>penyakit </strong>belum jelas, ditengarai karena <strong>sanitasi </strong>air yang kurang. Jadilah malam itu aku ke <strong>apotek </strong>langganan. <span id="more-264"></span>Karena <strong>oh </strong>karena <strong>sudah </strong>malam, <strong>terpaksa </strong>aku ambil jalan lain ke <strong>perempatan </strong>lampu merah tempat apotek <strong>24 jam </strong>mangkal.</p>
<p>Aku <strong>datang </strong>ke kasir, minta <strong>obat </strong>untuk sakit <em>herpes</em>. Tidak lama <strong>kemudian</strong>, mbak <em>waiter </em>datang membawa <strong>obat salep</strong>. Ukurannya <strong>kecil</strong>, tidak besar. Aku pun siap-siap <strong>merogoh kantong </strong>untuk membayar.</p>
<p>Aku:  &#8220;Berapa Mbak?&#8221;</p>
<p><em>Waiter</em>: &#8220;Rp 58.000,-&#8221;</p>
<p>Dalam hatiku <strong>berpikir</strong>, apa karena aku datang <strong>mengendarai </strong>mobil <strong>BMW</strong> keluaran <strong>baru</strong>, kaos <strong>Giordano</strong>, dan sendal <strong>mahal </strong>(<strong>lebay mimpi mode</strong>: <strong>on</strong>) terus mereka <strong>seenaknya </strong>memberikan obat <strong>dengan </strong>harga <strong>setinggi </strong>itu? <strong>Terus terang </strong>untuk <strong>menebus </strong>obat <strong>se<em>mini</em> </strong>itu yang <strong>kutaksir </strong>masa pakainya tak sampai 3 hari pun, aku merasa <strong>tidak rela</strong>. Kalau sudah <strong>kepepet</strong> sih tidak apa-apa, tapi ini <strong>obat </strong>untuk <strong>temanku </strong>yang uang <strong>titipannya </strong>tidak seberapa. Sedangkan di <strong>sana </strong>dia berharap untuk <strong>sembuh</strong>. Dengan gelagat <strong>dokter </strong>sok tau, aku pun langsung <strong>meminta </strong>obat lain.</p>
<p><strong>Aku</strong>: &#8220;Mbak, tolong <em><strong>Acyclofir </strong></em>generik aja&#8221;</p>
<p>Si Mbak <em>waitres </em>pun <strong>cengang</strong>-<strong>cengong </strong>melenggang ke dalam <strong>kemudian</strong> keluar membawa <strong>salep </strong>dengan ukuran <strong>lumayan</strong>. Hanya saja di situ tertulis &#8220;<strong>Obat Generik</strong>&#8220;. Tanpa ba-bi-bu aku <strong>keluarkan </strong>uang Rp 5.000,- dan <strong>kubayar </strong>tanpa kutanya lagi <strong>berapa </strong>harganya karena aku sudah lumayan <strong>tidak enak hati</strong>. Dan benar saja, <strong>uang </strong>Rp 5.000,- itu lebih karena harga <strong>obatnya </strong>hanya Rp 4.500,-.</p>
<p><strong>Malam </strong>itu, karena lagak sok tauku, uang <strong>sejumlah </strong>40an ribu <strong>selamat</strong>. <em>Acyclovir </em>adalah salah satu obat yang <strong>kukenal </strong>namanya, <strong>peruntukannya</strong>, dan <strong>kegunaannya </strong>selain <em>paracetamol </em>serta kroni-kroninya.</p>
<p>&#8212; Di tempat <strong>berbeda </strong>dan <strong>waktu </strong>berbeda</p>
<p>Di <strong>lain hari </strong>tepat <strong>setahun </strong>lalu saat aku <strong>pulang </strong>dari <strong><a href="http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html">Jambi</a> </strong>ke <a href="http://www.wahyu.web.id/seorang-pengamen-seniman.html"><strong>Yogyakarta</strong></a>, omku telah <strong>menunggu </strong>kedatanganku di <strong>rumah sakit</strong>. Si <strong>tante </strong>mau operasi. Pra <strong>operasi</strong>, tante harus <strong>disuntik bermacam obat</strong> selama seminggu, dan diberi <strong>infus</strong>, serta segala macam <strong>obat </strong>lainnya. Awalnya aku <strong>biasa </strong>aja. Sampai aku <strong>sadar </strong>saat seorang <strong>dokter</strong> <strong>keluarga</strong>, datang <strong>berkunjung</strong>. Setelah <strong>mengecek </strong>sana sini, dokter tadi <strong>bertanya </strong>ke si om, kenapa tidak pakai <strong>obat </strong>generik? Om <strong>menjawab </strong>dengan lugu: &#8220;Ga <strong>ditawarin </strong>kok, saya tidak tau&#8221;. Dia langsung <strong>memerintahkan </strong>suster <strong>mengganti</strong> obat-obatan  jadi <strong>obat generik</strong>.</p>
<p>Saat itu <strong>aku </strong>juga <strong>berpikir</strong>, apa karena <strong>ruangan </strong>itu <strong>ruangan </strong>VIP kemudian mereka <strong>seenaknya </strong>saja memberi <strong>obat mahal </strong>tanpa <strong>persetujuan</strong> pasien atau <strong>keluarga</strong>? Dan <strong>untung </strong>saja setelah itu, si om hanya <strong>mengeluarkan </strong>uang <strong>satu </strong>koma <strong>sekian juta </strong>untuk <strong>operasi </strong>dan <strong>pengobatan</strong>. Sedangkan saat awal <strong>pihak rumah sakit memperkirakan </strong>biaya operasi dan <strong>pengobatan </strong>hingga 15 juta rupiah.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Sebagai <strong>renungan </strong>saja, kadang kita <strong>tidak </strong>diberikan pilihan saat <strong>membeli</strong> obat. <strong>Terlebih </strong>jika kita <strong>tidak tahu </strong>obat apa yang <strong>hendak </strong>kita beli. Dan <strong>sialnya</strong>, fenomena ini sepertinya sudah <strong>lazim </strong>dan <strong>wajar </strong>terjadi. Kalau dipikir-pikir <strong>harga obat </strong>non-generik itu <strong>ternyata </strong>mahal lho. Harganya bisa <strong>puluhan </strong>bahkan <strong>ratusan </strong>kali lipat lebih mahal daripada obat <strong>generik</strong> karena <strong>komponen </strong>biaya <strong>R&amp;D</strong> dan <strong>iklan </strong>yang lebih besar.</p>
<p>Padahal <strong>bahan aktif </strong>obat generik itu sama dengan <strong>obat </strong>non-generik, hanya saja <strong>kecepatan </strong>reaksinya berbeda. Itu <strong>dikarenakan </strong>obat non-<strong>generik </strong>memakai bahan <strong>pendukung </strong>yang lebih baik dan melalui <strong>riset </strong>yang lebih <strong>mendalam </strong>sehingga lebih cepat <strong>memberikan </strong>efek bagi tubuh. Sedangkan obat <strong>generik </strong><strong>diracik </strong>berdasarkan acuan standar buku <em><strong>farmakope</strong></em>.</p>
<p>Meskipun <strong>begitu</strong>, sebagai <strong>pasien </strong>kita harus tau hak-hak kita. <strong>dr Marius Widjajarta, SE</strong> berpesan: <em>&#8220;Mintalah obat generik ketika  berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan  informasi yang benar, jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No.  8 tahun 1999.&#8221;</em></p>
<p><strong>Sosialisasi </strong>dan <strong>edukasi </strong>ke masyarakat <strong>mengenai </strong>obat generik menjadi   <strong>perlu </strong>dan wajib untuk dilakukan. Kenali <strong>lebih </strong>dekat obat generik, maka kita pasti akan <strong>diuntungkan </strong>karena meski harga murah tapi <strong>mutu </strong>tidak   kalah.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/membeli-obat-kenali-hak-kita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>117</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bebek Sinjay Madura, Sambal Asam Pedas</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/bebek-sinjay-madura-sambal-asam-pedas.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/bebek-sinjay-madura-sambal-asam-pedas.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 12:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bangkalan]]></category>
		<category><![CDATA[bebek bangkalan]]></category>
		<category><![CDATA[bebek khas madura]]></category>
		<category><![CDATA[bebek sinjay]]></category>
		<category><![CDATA[khas madura]]></category>
		<category><![CDATA[makanan khas madura]]></category>
		<category><![CDATA[makanan madura]]></category>
		<category><![CDATA[soto madura]]></category>
		<category><![CDATA[suramadu]]></category>
		<category><![CDATA[tol suramadu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Saat pertama masuk Bangkalan melalui Suramadu saya melewati persawahan yang hijau. Jalannya persis seperti highway di luar negeri, mulus dan rata tidak bergelombang. Saya juga sempat jepret sana sini, namun karena kartu memori handphone saya kena virus alhasil semua jepretannya hilang. Mungkin karena di kanan kiri tidak ada penghalang, angin dari laut berhembus dengan sepoi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Bebek-Sinjay1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-233" title="Bebek Sinjay" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Bebek-Sinjay1-300x225.jpg" alt="Bebek Sinjay" width="300" height="225" /></a>Saat pertama masuk <strong>Bangkalan </strong>melalui <a href="http://www.wahyu.web.id/penasaran-dengan-suramadu.html"><strong>Suramadu</strong></a><strong> </strong>saya melewati <a href="http://www.wahyu.web.id/pahlawan-di-balik-layar.html"><strong>persawahan</strong></a><strong> </strong>yang <strong>hijau</strong>. Jalannya persis seperti <strong><em>highway </em></strong>di <strong>luar negeri</strong>, <strong>mulus </strong>dan <strong>rata </strong>tidak bergelombang. Saya juga sempat <strong><em>jepret </em></strong>sana sini, namun karena <strong>kartu memori </strong><a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html"><em>handphone</em></a><em> </em>saya kena <em><strong>virus </strong></em>alhasil semua <em>jepretannya </em><strong>hilang</strong>. Mungkin karena di kanan kiri<strong> tidak ada penghalang</strong>, angin dari <strong>laut </strong>berhembus dengan <strong>sepoi </strong>ke sana kemari.</p>
<p>Hari sudah <strong>terik </strong>waktu itu, <strong>perut keroncongan </strong>tidak karuan. Si <strong>cacing</strong> sepertinya sudah meminta <strong>jatah</strong>. Saya <strong>sempatkan </strong>untuk mencari <strong>makanan</strong> khas <strong>Madura </strong>sepanjang <strong>jalan</strong>. <span id="more-226"></span>Awalnya sempat <strong>bingung </strong>juga karena saya tidak tau <strong>makanan khas Madura </strong>selain <strong>Soto Madura</strong>. Ternyata pacar teman saya asli <strong>Bangkalan</strong>. Dengan <strong>sigap </strong>dia <strong>memencet</strong> nomor-nomor di <strong><em>HP</em>nya </strong>dan tidak sampai semenit dia pun berkata dengan <strong>lantang</strong>: <strong>&#8220;Ayo makan di Bebek Sinjay&#8221;</strong></p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Pemandangan-Alam-Bebek-Sinjay.jpg"><img class="size-medium wp-image-234 alignright" title="Pemandangan Alam Bebek Sinjay" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Pemandangan-Alam-Bebek-Sinjay-300x225.jpg" alt="Pemandangan Alam Bebek Sinjay" width="300" height="225" /></a>Pucuk <strong>dicinta</strong>, <strong>ulam </strong>pun tiba. Aroma <strong>khas gorengan </strong>bebek menyeruak di radius <strong>10 </strong>meter <strong>warung </strong>tersebut. Karena <strong>warung </strong>ini letaknya tepat di samping <strong>jalan </strong>menuju <strong>Bangkalan</strong>, pengunjung pun <strong>membludak </strong>ramai. Apalagi <strong>waktu </strong>itu jam <strong>makan </strong>siang. Kami pun yang dari tadi sudah <strong>tak tahan</strong> langsung duduk ke <strong>meja lesehan </strong>kosong berpemandangan <strong>gunung</strong> dan <strong>sawah</strong>.</p>
<p>Kami duduk <strong>manis </strong>menunggu <strong>pelayan </strong>datang <strong>menyodorkan </strong>menunya. Namun setelah <strong>5 menit menunggu</strong>, tak satu pun pelayan datang. Usut punya <strong>usut</strong>, ternyata cara memesannya <strong>beda</strong>. Haha, benar-benar <strong>kampungan</strong>! <strong>Pengunjung </strong>harus memesan <strong>terlebih </strong>dulu di <strong>kasir</strong>, kemudian langsung <strong>bayar</strong>. Nah, setelah itu kita diberi <strong>catatan </strong>bertuliskan <strong>menu </strong>yang kita <strong>pesan</strong>. Setelah <strong>kembali </strong>ke tempat duduk, barulah panggil si <strong>pelayan </strong>dan berikan kertas tadi baru pesanan <strong>diantarkan</strong>. <em><strong>Katrok</strong></em>! <em>Haha</em>..</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Porsi-Bebek-Sinjay.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-235" title="Porsi Bebek Sinjay" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Porsi-Bebek-Sinjay-300x225.jpg" alt="Porsi Bebek Sinjay" width="300" height="225" /></a>Meskipun <strong>porsi </strong>nasi dan <strong>bebeknya sedikit</strong>, namun kekurangan itu <strong>terbayarkan </strong>dengan <strong>rasa bebek </strong>yang <strong>khas</strong>. Rasa bebek gorengnya saya beri nilai <strong>8/10</strong>. Yang <strong>khas </strong>adalah <strong>sambalnya</strong>. Saya tidak tau itu <strong>sambal</strong> apa, yang <strong>jelas </strong>sambal ini <strong>tidak digoreng</strong> terlebih dulu dan rasa asam <strong>mendominasi</strong>. Rasa pedas <strong>sambalnya awet </strong>di lidah. Saran saya, pesan minuman yang <strong>manis </strong>dan <strong>dingin </strong>untuk <strong>mengimbanginya</strong>. Per Februari 2010, satu porsi bebek ini dapat ditebus dengan harga Rp 9.000,- dan es teh Rp 2.000,-</p>
<p>Sambil menikmati <strong>pemandangan </strong>yang indah sembari mengelus-elus perut yang sudah kenyang, kami pun larut dalam <strong>suasana</strong> Madura berhembuskan <strong>angin </strong>tak kunjung <strong>berhenti</strong>.</p>
<p>&#8211;<em>bersambung</em></p>
<p>* Rasa pedas sambal ini relatif. Bagi saya cukup pedas. :)</p>
<p>* Porsi makanannya juga relatif sedikit.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/bebek-sinjay-madura-sambal-asam-pedas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penasaran dengan Suramadu</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/penasaran-dengan-suramadu.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/penasaran-dengan-suramadu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 09:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[akses ke madura]]></category>
		<category><![CDATA[angin dari samping]]></category>
		<category><![CDATA[suramadu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Ibarat anak kampung pergi ke kota, yang ada di benakku waktu itu mengunjungi Jembatan Suramadu. Konon cerita dari orang Surabaya, jembatan ini adalah ikon kedua Surabaya setelah Do**y. Do**y sendiri adalah &#8220;tempat wisata&#8221; yang paling banyak ingin dikunjungi oleh &#8220;turis&#8221; dari luar pulau. Bukan karena ingin menggunakan &#8220;jasanya&#8221;, tetapi karena penasaran. Kembali ke Jembatan Suramadu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Jembatan-Suramadu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-217" title="Jembatan Suramadu" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Jembatan-Suramadu.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ibarat <strong>anak kampung</strong> pergi ke kota, yang ada di <strong>benakku </strong>waktu itu mengunjungi <strong>Jembatan Suramadu</strong>. Konon cerita dari orang <strong>Surabaya</strong>, <strong>jembatan </strong>ini adalah <strong>ikon kedua</strong> Surabaya setelah <em><strong>Do**y</strong></em>. <em><strong>Do**y</strong></em> sendiri adalah <strong>&#8220;tempat wisata&#8221;</strong> yang paling banyak ingin <strong>dikunjungi </strong>oleh <strong>&#8220;turis&#8221;</strong> dari<strong> luar pulau</strong>. Bukan karena ingin <strong>menggunakan &#8220;jasanya&#8221;</strong>, tetapi karena <strong>penasaran</strong>.</p>
<p>Kembali ke <strong>Jembatan Suramadu</strong>, jembatan ini <strong>menghubungkan </strong>Surabaya-Madura <strong>melintasi selat </strong><strong>Madura</strong>. Jarak <strong>tempuh rata-rata</strong> dari ujung <strong>Surabaya ke Madur</strong>a sekitar <strong>15-20 menit</strong> dengan <strong>menggunakan</strong> mobil atau motor. Saat <strong>jam 9 pagi</strong> <strong>melintasi</strong>, saya <strong>sengaja </strong>berjalan lambat. Angin dari laut <strong>berhembus kencang</strong> dan sepoi-sepoi. <span id="more-215"></span>Sepanjang jalan dihiasi <strong>himbauan </strong>untuk<strong> waspada terhadap angin dari samping</strong>. Bukan <strong>apa-apa</strong>, kalau motor <strong>melintas </strong>dan angin tiba-tiba <strong>menjadi kencang</strong>, jalan motor bisa <em><strong>oleng</strong></em>. Namun, pihak <strong>pengelola </strong>sudah bisa <strong>memprediksi </strong>dan <strong>mengantisipasi </strong>hal ini dengan <strong>menutup akses ke jembatan</strong> jika terjadi angin kencang.</p>
<p>Dua <strong>tiang </strong>yang <strong>dipancangkan tingginya </strong>bukan main, saya sampai <strong>mendongak </strong>ke atas saat melintasi di bawahnya. Sayang kendaraan<strong> tidak diperbolehkan untuk berhenti</strong>. Untuk kegiatan <strong>mengambil foto</strong>, para pengunjung biasanya <strong>berhenti di ujung jalan</strong>.</p>
<p>Nah karena sifat manusia yang <strong>tidak pernah puas</strong>, begitu menginjakkan kaki di Madura kami pun <strong>tergelitik </strong>untuk terus <strong>berjalan </strong>sampai ke <strong>Bangkalan</strong>. Dari ujung <strong>tol </strong>hingga ke <strong>Bangkalan </strong>dapat ditempuh dengan waktu <strong>15-20 menit pula</strong>. Sesampai di Bangkalan kami cuma ke<strong> alun-alun</strong> karena tidak ada tujuan. Kami pun sibuk <strong>mencari </strong>tempat tujuan hingga salah satu <strong>papan </strong>penunjuk jalan bertuliskan <strong>&#8220;Mercusuar&#8221;</strong> terpampang dengan jelas.</p>
<p>&#8211; bersambung</p>
<h5>* Saya baru update WordPress menjadi versi 2.9.2. Update berjalan normal tanpa kendala. Namun saat saya mengupload foto di atas, kok g keresize otomatis ya? Ada yang mengalami masalah serupa? Terima kasih</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/penasaran-dengan-suramadu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>91</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Surabaya Bung!</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/ini-surabaya-bung.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/ini-surabaya-bung.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 14:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[gubernuran surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[memberhentikan truk]]></category>
		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir 1 minggu tidak senam jari di keyboard menulis blog, akhirnya tangan ini gatal juga. Sibuk memang, tetapi kegiatan ngeblog harus tetap berjalan dong. Bagaimanapun juga ngeblog bukan hanya milik orang yang punya waktu luang, tetapi juga bagi orang sibuk. Beberapa hari yang lalu, sore masih seperti biasanya. Hanya awan hitam bergelayut di atas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/surabaya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-210" title="surabaya" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/02/surabaya-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Setelah hampir <strong>1 minggu</strong> tidak <strong>senam jari di keyboard</strong> menulis <em>blog</em>, akhirnya tangan ini <strong>gatal </strong>juga. <strong>Sibuk </strong>memang, tetapi <strong>kegiatan <em>ngeblog</em></strong><em> </em>harus tetap berjalan <em>dong</em>. Bagaimanapun juga <strong><em>ngeblog </em>bukan hanya </strong>milik orang yang punya <strong>waktu luang</strong>, tetapi juga <strong>bagi orang sibuk</strong>.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, <strong>sore masih</strong> seperti biasanya. Hanya <strong>awan hitam bergelayut</strong> di atas. Awan itu terasa <strong>sangat dekat</strong>. Tanpa kusadari <strong>kilatan cahaya</strong> pun berulang <strong>berkali-kali</strong> pertanda <strong>hujan akan segera turun</strong>. Ya, benar saja, tidak berapa lama <strong>hujan turun dengan derasnya</strong>.<span id="more-209"></span></p>
<p>Akhir-akhir ini <strong>hujan </strong>di Surabaya <strong>tidak pernah telat</strong> dari jadwal. Sore hari sudah menjadi <strong>langganan </strong>hujan <strong>mengguyur </strong>kota yang <strong>siangnya panas bukan main ini</strong>. Jadi, sore itu aku <strong>pulang </strong>kantor dari arah <strong>Jalan Pemuda</strong>. Aku mengambil jalan <strong>lewat Gubernuran</strong> trus belok kiri.</p>
<p>Hujan <strong>deras</strong> bukan main. Pandangan mata hanya <strong>sebatas 100 meter</strong>. Dari <strong>kejauhan </strong>di perempatan <strong>lampu merah</strong> aku melihat <strong>segerombolan</strong> <strong>anak-anak</strong> <strong>berumur tanggung </strong>membawa-bawa bola (persis seperti <strong>bonek ingin nonton sepak bola</strong>) mengacung-acungkan tangannya minta <strong>tumpangan</strong>.  Tidak ada yang <strong>menggubris</strong>.</p>
<p>Tiba-tiba sebuah mobil <em><strong>pick up</strong></em> <strong>menyalipku </strong>dari kanan <strong>hendak belok ke kiri</strong>. <strong>Dan </strong>jreng, <strong>anak-anak</strong> itu berlarian <strong>naik ke bak mobil</strong> yang sedang melaju itu <strong>tanpa minta izin</strong>. Si <strong>supir </strong>sepertinya<strong> <em>cuek bebek</em></strong> melihat <strong>atraksi </strong>itu. Aku <strong>ikuti </strong>mobil itu. Jauh dari situ, di <strong>perempatan lampu merah</strong> berikutnya mereka <strong>turun </strong>dan kulihat di <strong>lampu merah itu</strong> juga banyak <strong>segerombolan </strong>anak lainnya <strong>sudah menunggu</strong>. Mereka <strong>menyatu </strong>dan <strong>sekilas </strong>kulihat mereka <strong>memberhentikan sebuah truk</strong>.</p>
<p>&#8220;<strong>Memang </strong>begitu mas,<strong> ga ada yang berani</strong> menghentikan mereka. Mungkin mereka mau <strong>nonton bola</strong>.&#8221; kata temanku.</p>
<p>&#8220;Lho <strong>kok gitu</strong>? Kan <strong>bahaya</strong>. Kalau mereka <strong>jatuh </strong>siapa yang <strong>tanggung jawab?</strong>&#8221; protesku.</p>
<p>&#8220;Ini <strong>Surabaya </strong>Bung&#8221;</p>
<p>Lho? <strong>Apa hubungannya</strong> dengan Surabaya? Haha.. <strong>Pembicaraan</strong> itu <strong>berakhir </strong>dengan <strong>tanda tanya</strong> di kepalaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/ini-surabaya-bung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makna Kata Langganan</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/makna-kata-langganan.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/makna-kata-langganan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 15:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[langganan]]></category>
		<category><![CDATA[tukang cukur]]></category>
		<category><![CDATA[tukang potong rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Sore tadi rencananya mau lihat gerhana matahari. Namun awan sepertinya terlalu perkasa bergelayut di atmosfer hingga menutup pandangan. Hujan tak kunjung turun, sinar mentari pun malu-malu. Listrik mati tambah memperkeruh suasana. Tapi aku tidak ambil pusing, jangan-jangan power plant di sini (kebetulan daerah tempat tinggalku tidak pakai PLN) mau mengurangi emisi membantu mencegah pemanasan global. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Tukang-Cukur-Rambut.gif"><img class="size-medium wp-image-153 alignleft" title="Tukang Cukur Rambut" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Tukang-Cukur-Rambut-300x300.gif" alt="" width="300" height="300" /></a>Sore tadi rencananya mau lihat <strong>gerhana matahari</strong>. Namun awan sepertinya terlalu <strong>perkasa </strong>bergelayut di atmosfer hingga menutup <strong>pandangan</strong>. Hujan tak kunjung <strong>turun</strong>, sinar mentari pun <strong>malu-malu</strong>. <strong>Listrik mati</strong> tambah <strong>memperkeruh </strong>suasana. Tapi aku <strong>tidak ambil pusing</strong>, jangan-jangan <em>power plant</em> di sini (kebetulan daerah tempat tinggalku <strong>tidak pakai PLN</strong>) mau mengurangi emisi <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dongeng-pemanasan-global-oleh-bahan-bakar-fosil-dan-penanggulangannya/">membantu <strong>mencegah pemanasan global</strong></a>.</p>
<p>Sambil <strong>menunggu </strong>listrik menyala, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke <strong><em>barber</em></strong>. Kalau dipikir-pikir <em>barber </em>ini <strong>profesi yang paling <em>ga </em>sopan</strong>. Gimana tidak, masa kerjaannya tiap hari <strong>pegang </strong>kepala orang.<span id="more-150"></span> <strong>Presiden</strong>, <strong>menteri </strong>yang notabene pejabat di negara ini pasti <strong>pernah </strong>dipegang-pegang kepalanya oleh<strong> tukang cukur rambut</strong> hehe.. :D</p>
<p>Tukang potong rambut ini <strong>langgananku</strong>. Selama ini ia <strong><em>single fighter</em></strong>. Namun tadi aku melihat ia <strong>ditemani </strong>seorang muda. Anak muda itu <strong>juga memotong</strong> rambut orang-orang. Wah, setelah antri akhirnya aku dapat <strong>giliran</strong>. Karena kebetulan yang kosong di tempat si anak muda itu, akhirnya aku <strong>pasrahkan kepalaku</strong> dipegang dan rambutku dipotong olehnya.</p>
<p>Biasanya ketika aku <strong>memotong rambut</strong>, aku hanya diam saja. Si Bapak <strong>langgananku </strong>itu dengan terampil <strong>menebas </strong>rambutku sesuai <strong>gaya &#8216;biasanya&#8217;</strong>. Nah, si anak muda ini <strong>tiba-tiba kikuk</strong> karena aku ngomong <strong>seperti &#8216;biasa&#8217;</strong>. Si Bapak <strong>terpaksa </strong>menjelaskan dengan istilahnya mengeluarkan kata<strong> sasak, potong pendek, dsb</strong>.</p>
<p><em>Wahwahwah</em>, untuk <strong>menjelaskan </strong>itu saja si Bapak sampai <strong>menelantarkan &#8216;pasien&#8217; nya</strong>. Si anak muda mengiyakan <strong>seumpama murid diajari oleh gurunya</strong>. Proses potong-potong kali ini <strong>lama</strong>, tidak seperti <strong>biasanya</strong>. Sesekali si anak muda tadi <strong>bertanya-tanya</strong> padaku. Wah, repotnya kalau harus <strong>menjelaskan berkali-kali</strong>. Tiba-tiba mungkin karena mendengar aku daritadi <strong>ditanya-tanya</strong> terus, si Bapak datang <strong>merapikan rambutku</strong>. Dan lagi-lagi <strong>&#8216;pasien&#8217;nya ditelantarkan</strong>. Si &#8216;pasien&#8217; Bapak itu hanya bisa <strong>melihatku </strong>dari cermin. Sebentar saja <strong>tidak sampai 5 menit</strong> rambutku sudah rapi, <strong>persis seperti &#8216;biasanya&#8217;</strong>. Si anak muda hanya <strong>membersihkan </strong>sisa-sisanya saja yang <strong>tak seberapa</strong>. Setelah selesai, tidak lupa kuucapkan <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/penghargaan-untuk-peran-yang-terlupakan/"><strong>terima kasih</strong></a>.</p>
<p>Kalau saja tadi si Bapak tidak mengambil alih, mungkin rambutku sudah aneh potongannya. Yah, <strong>beginilah kalau sudah langganan</strong>. <strong>Dilayani </strong>dan <strong>diutamakan </strong>seperti <strong>raja</strong>. Apa yang kita mau biasanya <strong>sudah dihafal</strong>. Pengalamanku dalam menggunakan layanan jasa, jika sudah <strong>merasa cocok</strong>, terlebih orang itu <strong>memperhatikan</strong>, <strong>mengenal</strong>, dan <strong>mengetahui </strong>pelanggan dan <strong>selera </strong>pelanggannya <strong>secara personal</strong>, itulah<strong> langganan terbaik</strong>. Cerio.. ;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/makna-kata-langganan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Pengamen Seniman</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/seorang-pengamen-seniman.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/seorang-pengamen-seniman.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 11:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pengamen]]></category>
		<category><![CDATA[pengamen]]></category>
		<category><![CDATA[seniman pengamen]]></category>
		<category><![CDATA[seorang pengamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar dua tahun lalu (2007) saat di Jogja, aku diajak om untuk makan malam di seputaran Jalan Kaliurang. Sepanjang jalan Kaliurang saat malam tiba berubah jadi keramaian yang ngangenin. Sebenarnya ga terlalu ramai sih, tapi jalan ini selalu padat. Di kanan kiri trotoar bermunculan tenda-tenda dadakan. Jajanan yang menarik mewarnai sepanjang Perempatan Mirota sampai perempatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Jalan-Kayu-Putih-Sebelah-Jakal-Jalan-Kaliurang.jpg"><img class="size-medium wp-image-144 alignleft" title="Jalan Kayu Putih, Sebelah Jakal Jalan Kaliurang" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Jalan-Kayu-Putih-Sebelah-Jakal-Jalan-Kaliurang-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sekitar <strong>dua tahun lalu</strong> (2007) saat di <strong>Jogja</strong>, aku diajak om untuk <strong>makan malam </strong>di seputaran<strong> Jalan Kaliurang</strong>. Sepanjang jalan Kaliurang saat malam tiba berubah jadi <strong>keramaian </strong>yang <em>ngangenin</em>. Sebenarnya <em>ga</em> terlalu ramai <em>sih</em>, tapi <strong>jalan ini selalu padat</strong>. Di kanan kiri trotoar bermunculan tenda-tenda <strong>dadakan</strong>. Jajanan yang menarik mewarnai sepanjang <strong>Perempatan Mirota</strong> sampai <strong>perempatan Pos Polisi </strong>samping <strong>Fakultas Kehutanan UGM</strong>.</p>
<p><strong>Tibalah </strong>kami pada salah satu tempat makan. Duduk <strong>selonjor</strong>, sambil <strong>santai</strong> menunggu pesanan membuatku bingung hendak <em>ngapain</em>. Eh <strong>tiba-tiba saja</strong> ada seorang <strong>pengamen </strong>datang.<span id="more-142"></span> Dia <em>genjrang-genjreng ga</em> sampai semenit, <em>trus </em>mutar minta uang <strong><em>saweran</em></strong>. Aku perhatikan tampangnya dengan <strong>seksama</strong>. Mukanya <strong>ketus</strong>, <strong>senyum </strong>pun tak ada. <strong>Modalnya </strong>hanya satu gitar kecil tiga senar. <strong>Suaranya </strong>pun kadang <strong>fals</strong>, tidak <em>match </em>dengan <em>genjrengan </em>gitarnya.</p>
<p>Saat minta <em><strong>sawer</strong></em>, dia berikan sebuah <em>aqua </em><strong>gelas </strong>yang telah dipotong. Jika orang yang dimintai <strong>enggan memberikan</strong>, dia pun <strong>menunggu </strong>dan tanpa malu <strong>meminta-minta lagi</strong> di depan mereka. Alhasil ada seorang pasangan muda-mudi dengan <strong>muka kesal</strong> mengeluarkan uang <strong>100 </strong>rupiah. <em>Eh </em>sambil lalu si pengamen itu menggerutu &#8220;<strong>Pelit banget sih cuma 100 perak doang</strong>&#8220;.</p>
<p>Dalam hatiku pun <strong>protes </strong>tak kalah <strong>hebatnya </strong>&#8220;<em>Lha </em><strong>mainmu </strong>cuma segitu, mukamu <strong>kaya Bang Napi</strong>, <strong>maksa </strong>lagi. Kok ya dikasih masih <strong>menggerutu</strong>&#8220;. Tapi itu cuma <strong>sebatas </strong>di dalam hati. Kalau aku ngomong ke orangnya langsung bisa-bisa sepuluh menit kemudian mungkin dia <strong>panggil</strong> teman-temannya dan aku <strong>habis dihajar</strong>, hehe.. :D</p>
<p><em>Ga </em>sampai <strong>lima menit</strong> kemudian, datang lagi <strong>sekelompok </strong>orang. Tiga orang ini <strong>beraksi layaknya orkestra</strong>. Ada yang <strong>tepuk </strong>tangan, ada yang <em><strong>menggenjreng </strong></em>gitar, dan ada yang <strong>mengerincingkan </strong>alat musik yang aku lupa namanya. Kali ini <strong>mereka </strong>lebih <strong>beradab</strong>. Sebelum main mereka izin <strong>dulu</strong>, kemudian baru <strong>menyanyi</strong>kan satu judu lagu. <strong>Suaranya </strong>lumayan. <strong>Gitarnya </strong>sudah bagus, benar-benar <strong>gitar 6 senar</strong>, walaupun sempat kuperhatikan <strong>merknya tak ada</strong>. Namun, <strong>belum selesai</strong> satu lagu mereka berhenti dan mulai <strong>mengedarkan </strong>topinya meminta uang. Orang-orang ada yang <strong>memberi</strong>, ada yang <strong>tidak</strong>. Hebatnya <strong>mereka </strong>tidak <strong>marah </strong>dan <strong>maksa </strong>saat ada yang tidak memberi uang. Aku memberinya 500 perak untuk menghargai itu.</p>
<p>Di tengah <strong>makan</strong>, seorang lagi <strong>datang</strong>. Kali ini ia benar-benar <strong>seorang</strong>. Mukanya sudah <strong>paruh baya</strong>. Kacamata yang dipakai persis <strong>kacamata Betty La Fea</strong>, kotak besar menutupi wajahnya. Gitarnya <strong>bagus</strong>, dan uniknya di mulut sang pengamen <strong>tersangga </strong>sebatang <strong>harmonica</strong>. Sebelum bermain dia dengan <strong>sopannya </strong>meminta izin karena <strong>mengganggu makan</strong>.</p>
<p>Aku <strong>salut </strong>saat dia <strong>mendekati </strong>sepasang muda-mudi yang tadi <strong>ketus</strong>, kemudian dengan ramah dia <strong>berbisik</strong>: &#8220;<strong>Mau request lagu apa Mas, Mbak?</strong>&#8221; Spontan si <strong>cewe </strong>langsung minta sebuah lagu (aku lupa judulnya). Dengan piawai si pengamen memainkannya. <strong>Alunan </strong>melodi dari <strong>harmonicanya </strong>sangat <strong>selaras </strong>dengan <strong>kocokan </strong>gitar coklatnya yang <strong>menawan</strong>. Aku sampai berhenti <strong>makan </strong>mendengar lagu itu. Selesai satu <strong>lagu </strong>(ya, benar-benar selesai) si <strong>cewe </strong>dengan cepat mengeluarkan uang 5000an dan <strong>memberikannya </strong>ke si pengamen disusul <strong>senyuman </strong>si cowok.</p>
<p>Tak <strong>selesai </strong>sampai di situ, ia ke <strong>mejaku</strong>. Ia <strong>bertanya </strong>dengan <strong>ramah</strong>, &#8220;<strong>mau lagu apa mas?</strong>&#8221; Tak sempat berpikir kusebutkan saja lagu<strong> Ermy Kulit yang judulnya Pasrah</strong>. Lagu itu memang kurang terkenal jaman sekarang. Jarang pula dinyanyikan pengamen. Namun sekali lagi, aku dibuatnya <strong>salut</strong>. Lagu itu dengan <strong>gampang </strong>bak pemain <strong>profesional </strong>ia mainkan, tentu dengan <strong>alunan </strong>harmonicanya. Belum habis ia main, aku sodorkan uang <strong>Rp 10.000</strong>,-. Tiba-tiba ia <strong>berhenti bermain</strong> dan <em>ngomong</em>: &#8220;<strong>Belum selesai mas, sebentar lagi ya..</strong>&#8221; sambil tersenyum. Selesai main, dengan ramah ia mengucapkan<strong> terima kasih</strong>. Ia mengambil uang Rp 10.000,- ku yang sudah kusodorkan semenjak tadi dan memasukkannya ke saku. Alangkah <strong>terkejutnya </strong>aku saat uang itu dia kembalikan <strong>Rp 5.000,</strong>-. &#8220;<strong>Rp 5.000 saja mas, cukup</strong>&#8220;. Omku tersenyum padanya, dia pun tersenyum kembali <strong>seolah-olah</strong> mereka sudah pernah bertemu.</p>
<p><strong>Wow&#8230;&#8221;Keren banget ni pengamen&#8221;</strong>, pikirku. Omku tiba-tiba ngomong: &#8220;Dia itu sering <em>muter</em>-<em>muter </em>sini kalau <strong>malam</strong>. Kalau <strong>sore</strong>, malam <strong>Minggu</strong>,  atau tengah <strong>malam </strong>dia biasanya isi acara musik di cafe <strong>X,Y,dan Z</strong>. Kalau lagi <strong>kosong</strong>, ya <strong>ngamen</strong>, gitu <em>sih </em>kata orang-orang sekitar sini.</p>
<p>Baru sekali aku ketemu <strong>pengamen </strong>seperti beliau. Rp 10.000,- yang kukeluarkan <strong>memang </strong>pantas dia dapatkan. Seorang <strong>pengamen </strong>yang <strong>berjiwa seniman</strong>. <strong>Bermain untuk kepuasan pendengarnya, bukan untuk sekedar mengisi perutnya</strong>.</p>
<p>Catatan: maaf, tulisan tidak bermaksud merendahkan kelompok tertentu. :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/seorang-pengamen-seniman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>88</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2010, Diawali dan Diakhiri Hari Jum&#8217;at</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/2010-diawali-dan-diakhiri-hari-jumat.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/2010-diawali-dan-diakhiri-hari-jumat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 17:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[2010 diakhiri jumat]]></category>
		<category><![CDATA[2010 diawali jumat]]></category>
		<category><![CDATA[2010 jumat]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini cerah. Awan hanya bertebaran tipis seperti semburat gulali, hilang saat dipandang agak lama. Bulan tak lupa bertugas malam ini, ia tetap menerangi walau tak seterang matahari. Sinarnya yang lembut dan tak menusuk lebih menentramkan daripada sinar matahari di siang hari. Tak terasa beberapa saat yang lalu &#8216;waktu&#8217; melewati hitungan 2009 dengan gagahnya. Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-90" href="http://www.wahyu.web.id/lika-liku-hidup/2010-diawali-dan-diakhiri-hari-jumat/attachment/selamat-tahun-baru-2010/"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="Selamat Tahun Baru 2010" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Selamat-Tahun-Baru-2010-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Malam ini <strong>cerah</strong>. Awan hanya <strong>bertebaran tipis</strong> seperti <strong>semburat gulali, </strong>hilang saat dipandang agak lama. <strong>Bulan </strong>tak lupa <strong>bertugas malam ini</strong>, ia tetap <strong>menerangi </strong>walau tak seterang matahari. <strong>Sinarnya yang lembut</strong> dan tak menusuk lebih <strong>menentramkan </strong>daripada sinar matahari di siang hari.</p>
<p><strong>Tak terasa</strong> beberapa saat yang lalu &#8216;waktu&#8217; melewati <strong>hitungan 2009</strong> dengan <strong>gagahnya</strong>. Tanpa rasa <strong>ragu</strong>, tanpa <strong>takut </strong>sedikitpun. Ia menerobos apapun. Dan saat kita semua sadar, hanyalah <strong>waktu yang tak berhenti melangkah</strong>.<span id="more-85"></span></p>
<p>Aku sesaat yang lalu <strong>menengadah ke angkasa</strong>, tatapanku <strong>nanar tak fokus menatap bulan</strong> yang bulat. Hawa dingin <strong>menggelitik</strong>, seperti malam biasanya. Toh aku sudah sering <strong>menatap langit malam</strong>, hawa dingin tak menyurutkanku <strong>menyapanya</strong>. Aku <strong>tenang </strong>saat malam larut. Sebab malam itu <strong>sunyi</strong>, <strong>sepi</strong>. Waktu yang sangat <strong>indah untuk berpikir</strong>, untuk meminta sesuatu pada <strong>Yang Kuasa</strong>.</p>
<p>Di luar sana kudengar <strong>raungan knalpot motor-motor </strong>perkasa. Klaksonnya tak kalah <strong>memekik</strong>. Benda aneh <strong>meluncur ke udara</strong> dan meledak seakan-akan <strong>benda itu tak berharga</strong>. Bunyinya yang nyaring <strong>mengotori </strong>angkasa. Namun itu <strong>samar kudengar</strong>. Persis samarnya ketika seseorang tidur dan ada orang lain <strong>menapak kakinya</strong> di luar kamar. Saat kumpulan manusia itu <strong>sibuk merayakan Tahun Baru</strong>, aku terdiam <strong>menatap langit</strong>. Hari ini hari <strong>Jum&#8217;at</strong> pikirku. <strong>Jum&#8217;at, hari suci</strong>. Tanpa sadar kubuka <a href="http://www.wahyu.web.id/lain-lain/nokia-n70-ku-sembuh-lagi/"><strong>hpku</strong></a>, <strong>kugeser tombol</strong> ke sana kemari. Mataku hanya tertuju satu tanggal, <strong>31 Desember 2010</strong>. Hari terakhir tahun ini. Pikirku saat itu, <strong>untuk menetapkan satu tujuan, kita harus mengetahui awal dan akhir</strong>.</p>
<p>Aku <strong>tersenyum kaku</strong>, melihat akhir tahun ini juga jatuh di hari Jum&#8217;at. <strong>Tidak sengaja?</strong> Atau hanya <strong>ilusi mata?</strong> Benar, ternyata hari Jum&#8217;at. 2010, Diawali Jum&#8217;at dan diakhiri Jum&#8217;at pula. Terbayang lagi, Jum&#8217;at hari suci. Dalam benakku, aku bertekad akan meningkatkan kualitas dan kuantitas <strong>ibadahku padaNya</strong>. Mungkin ini satu pertanda halus agar aku selalu mengingatNya.</p>
<p>Terlepas dari itu, niat-niat lain tahun ini pun harus <strong>kupersiapkan dengan matang</strong>. Aku harus <strong>menemui seseorang</strong> di pertengahan tahun ini. Seseorang yang selama ini aku nanti-nantikan untuk kutemui. Di samping itu, ada keluargaku pula di sana yang telah lama menunggu. Aku harus menemui mereka. Rasa rinduku <strong>membuncah</strong>, sedikit di bawah rasa rinduku <strong>padaNya</strong>.</p>
<p><strong>2010, selamat datang</strong>. Kedatanganmu hanya beberapa hari dari tahun baru Islam. Namun semangatmu <strong>tetap bergelora</strong>, membakar segala <strong>asa di dada</strong>. Semoga tahun ini <strong>lebih baik dari tahun-tahun kemarin</strong> agar aku dan semua orang <strong>termasuk orang yang beruntung</strong>. Buat teman-teman, jangan lupa untuk <strong>selalu berbuat yang terbaik pada siapapun, pada apapun, kapanpun, dan dimanapun</strong>. Karena suatu saat, <strong>benih itu akan berbuah dan engkau lah yang akan memetiknya</strong>.</p>
<p><strong>Selamat tahun baru 2010..</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/2010-diawali-dan-diakhiri-hari-jumat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terkenang Saat di Jambi</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 19:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lika Liku Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ancoi]]></category>
		<category><![CDATA[angkot jambi]]></category>
		<category><![CDATA[batang hari]]></category>
		<category><![CDATA[batanghari]]></category>
		<category><![CDATA[hotel jambi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan sawit]]></category>
		<category><![CDATA[hutan sawit jambi]]></category>
		<category><![CDATA[jagung bakar]]></category>
		<category><![CDATA[kota jambi]]></category>
		<category><![CDATA[kue apollo]]></category>
		<category><![CDATA[lempok]]></category>
		<category><![CDATA[makan jagung bakar]]></category>
		<category><![CDATA[mesjid seribu tiang]]></category>
		<category><![CDATA[oleh oleh jambi]]></category>
		<category><![CDATA[oleh oleh khas jambi]]></category>
		<category><![CDATA[sungai batang hari]]></category>
		<category><![CDATA[sungai batanghari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saudara kita Bapak Aulia Fitri sedang diselimuti duka karena kehilangan mesin canggihnya, saya sendiri sedang bergundah hati karena program simulasi proses yang sering saya gunakan tak tahu ke mana rimbanya. Padahal lagi sangat perlu untuk mengerjakan sesuatu. Dulu terakhir saya pakai beberapa bulan lalu. Namun, seingat saya file instalasinya benar-benar masih utuh saat saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-51" title="Kota Jambi Februari 2009" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Kota-Jambi-Februari-2009-300x247.jpg" alt="Kota Jambi Februari 2009" width="300" height="247" />Kalau saudara kita <strong>Bapak Aulia Fitri</strong> sedang diselimuti duka karena <a href="http://aulia87.wordpress.com/2009/12/18/duka-cita-di-tahun-baru/"><strong>kehilangan mesin canggihnya</strong></a>, saya sendiri sedang <strong>bergundah hati </strong>karena <strong>program simulasi proses</strong> yang sering saya gunakan tak tahu ke mana rimbanya. Padahal lagi sangat perlu untuk mengerjakan sesuatu. Dulu terakhir saya pakai beberapa bulan lalu. Namun, seingat saya file instalasinya benar-benar masih utuh <strong>saat saya masih di Jambi</strong> sekitar setahun lalu.</p>
<p>Mari kita lupakan sejenak rasa gundah ini dengan <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/facebook-atau-ngeblog/"><strong>menulis blog</strong></a> hehe :D. <strong>Ngomong-ngomong tentang Jambi</strong>, dulu saya tinggal di Hotel Matahari 1 daerah Simpang Pulai. Agak lama juga tinggal di Jambi karena saya harus mengevaluasi performa kompresor di salah satu perusahaan migas di sana. Masih berbekas di benak saya <strong>beberapa kesan</strong> selama di sana.<span id="more-46"></span></p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-50" title="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Well Conoco Phillips" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hutan-Sawit-Jambi-di-Sekitar-Well-Conoco-Phillips-300x225.jpg" alt="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Well Conoco Phillips" width="300" height="225" />Seperti kebanyakan kota-kota di Sumatera lainnya, Jambi merupakan <strong>kota yang tenang</strong>. Saya &#8216;feel like home&#8217; di sana. Meskipun <strong>kota ini tidak sebesar kota Medan atau pun Palembang</strong>, namun <strong>taraf hidup</strong> masyarakat Jambi sudah <strong>lumayan</strong>. Saya <strong>belum menemukan ada pengemis/peminta-minta</strong> berkeliaran di jalan atau duduk-duduk di samping Mall menunggu sekoin receh.</p>
<p>Kotanya <strong>damai</strong>, <strong>aman</strong>, dan <strong>masih jauh dari polusi</strong> karena industri-industri belum begitu banyak (beruntunglah Jambi hehe..). Kendaraan juga belum begitu padat. Jarang saya temukan kendaraan <strong>mengantri sesi lampu merah di sini</strong> (macet maksudnya : P hehe). Nah, fakta menarik tentang transportasi roda empat ini adalah <strong>angkotnya yang unik</strong>.</p>
<p>Tidak seperti di Jawa, angkot di Jambi hampir semuanya <em><strong>full sound system</strong></em> dan disetel keras-keras sepanjang hari. Hebatnya semua sopir (atau pemilik) seolah-olah <strong>berlomba menghias angkot</strong> mereka sekeren mungkin. Entah <strong><em>bemper</em>nya </strong>dibuat artistik, <strong><em>velg</em> </strong>yang dipasang lebar, atau bagian atas disematkan <em><strong>spoiler </strong></em><strong>bak sayap Batman</strong>. Semua dilakukan agar calon penumpang tertarik. Siap-siaplah pasang kuping dan rasakan <strong>jantung anda berdegup</strong> mengikuti irama karena kerasnya musik..hehe.</p>
<p>Bangunan di kota Jambi <strong>didominasi bangunan-bangunan tua</strong>. Tidak ada gedung pencakar langit. Bangunan bertingkat tinggi pun biasanya cuma hotel. Jarang terlihat <strong>gaya bangunan baru</strong>. Mungkin karena pertumbuhan penduduknya tergolong kecil, jadi para <em>developer </em>tidak sesumbar membangun perumahan-perumahan seperti di daerah Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Oh iya, di tengah kota Jambi terdapat <strong>mesjid seribu tiang</strong>. Meskipun tiangnya tidak seribu, namun masyarakat menyebutnya mesjid seribu tiang karena tiang penopangnya banyak dan berjejer-jejer.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-48" title="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Pig Launcher" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hutan-Sawit-Jambi-di-Sekitar-Pig-Launcher-300x225.jpg" alt="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Pig Launcher" width="300" height="225" />Sementara sebelah luar kota Jambi dipenuhi dengan <strong>hutan sawit</strong>. Kebetulan saat itu saya sedang menuju ke arah stasiun kompresor sejalan ke arah Pekanbaru. Sepanjang jalan saya melihat <strong>hutan </strong>dan sawit masih hijau tumbuh di tanah. Benar kata-kata Bimbo, <strong>tanah kita memang tanah surga</strong>. Kalau saja masyarakat kita mau menjaga dan mengelolanya dengan baik, tentu kita akan <strong>menuju peradaban yang lebih baik</strong>.</p>
<p>Kota Jambi berada di tengah-tengah, jadi tidak mungkin menemukan laut seperti <a href="http://liza-fathia.com/2009/12/eksotisme-pantai-lampuuk.html"><strong>Lampuuk yang eksotis</strong></a>. Satu-satunya objek wisata yang sempat saya lihat adalah <strong>Ancoi</strong>. <strong>Ancoi </strong>terletak di pesisir sungai Batanghari sebelah <strong>pasar Angso Duo</strong>. Di sana biasanya muda-mudi menghabiskan waktu melihat hamparan sungai yang lebar ditemani &#8216;<strong>makan jagung bakar</strong>&#8216; yang sudah menjadi <strong>tradisi</strong>.</p>
<p>Oleh-oleh khas jambi yang sempat saya beli pun tidak seberapa banyak. Paling-paling <strong>lempok</strong>, <strong>kerupuk</strong>, dan sejenisnya.  Yang buat saya tertarik adalah kue lapis Apollo karena saya memang menyukainya sejak kecil. Apollo di Jawa jarang bahkan mungkin tidak ada yang menjualnya. Bagi yang belum tau, Apollo itu sejenis kue lapis Biskuat hehe&#8230;</p>
<p>Mungkin kalau ada waktu, ingin rasanya kembali lagi ke Jambi khusus untuk main-main melihat keindahan alamnya. Indonesia luas, namun hanya sebagian dari kita yang menyadari <strong>betapa indahnya Indonesia</strong> ;) Ada yang mau ikut? hehe</p>

<a href='http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/wahyu-reza-prahara-di-jambi' title='Wahyu Reza Prahara di Jambi'><img width="150" height="150" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Wahyu-Reza-Prahara-di-Jambi-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Wahyu Reza Prahara di Jambi" title="Wahyu Reza Prahara di Jambi" /></a>
<a href='http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/hutan-sawit-jambi-di-sekitar-pig-launcher' title='Hutan Sawit Jambi di Sekitar Pig Launcher'><img width="150" height="150" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hutan-Sawit-Jambi-di-Sekitar-Pig-Launcher-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Pig Launcher" title="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Pig Launcher" /></a>
<a href='http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/hutan-sawit-jambi-di-sekitar-stasiun-kompressor' title='Hutan Sawit Jambi di Sekitar Stasiun Kompressor'><img width="150" height="150" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hutan-Sawit-Jambi-di-Sekitar-Stasiun-Kompressor-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Stasiun Kompressor" title="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Stasiun Kompressor" /></a>
<a href='http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/hutan-sawit-jambi-di-sekitar-well-conoco-phillips' title='Hutan Sawit Jambi di Sekitar Well Conoco Phillips'><img width="150" height="150" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Hutan-Sawit-Jambi-di-Sekitar-Well-Conoco-Phillips-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Well Conoco Phillips" title="Hutan Sawit Jambi di Sekitar Well Conoco Phillips" /></a>
<a href='http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/kota-jambi-februari-2009' title='Kota Jambi Februari 2009'><img width="150" height="150" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Kota-Jambi-Februari-2009-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Kota Jambi Februari 2009" title="Kota Jambi Februari 2009" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/terkenang-saat-di-jambi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

