Setelah hampir 1 minggu tidak senam jari di keyboard menulis blog, akhirnya tangan ini gatal juga. Sibuk memang, tetapi kegiatan ngeblog harus tetap berjalan dong. Bagaimanapun juga ngeblog bukan hanya milik orang yang punya waktu luang, tetapi juga bagi orang sibuk.

Beberapa hari yang lalu, sore masih seperti biasanya. Hanya awan hitam bergelayut di atas. Awan itu terasa sangat dekat. Tanpa kusadari kilatan cahaya pun berulang berkali-kali pertanda hujan akan segera turun. Ya, benar saja, tidak berapa lama hujan turun dengan derasnya.

Akhir-akhir ini hujan di Surabaya tidak pernah telat dari jadwal. Sore hari sudah menjadi langganan hujan mengguyur kota yang siangnya panas bukan main ini. Jadi, sore itu aku pulang kantor dari arah Jalan Pemuda. Aku mengambil jalan lewat Gubernuran trus belok kiri.

Hujan deras bukan main. Pandangan mata hanya sebatas 100 meter. Dari kejauhan di perempatan lampu merah aku melihat segerombolan anak-anak berumur tanggung membawa-bawa bola (persis seperti bonek ingin nonton sepak bola) mengacung-acungkan tangannya minta tumpangan.  Tidak ada yang menggubris.

Tiba-tiba sebuah mobil pick up menyalipku dari kanan hendak belok ke kiri. Dan jreng, anak-anak itu berlarian naik ke bak mobil yang sedang melaju itu tanpa minta izin. Si supir sepertinya cuek bebek melihat atraksi itu. Aku ikuti mobil itu. Jauh dari situ, di perempatan lampu merah berikutnya mereka turun dan kulihat di lampu merah itu juga banyak segerombolan anak lainnya sudah menunggu. Mereka menyatu dan sekilas kulihat mereka memberhentikan sebuah truk.

Memang begitu mas, ga ada yang berani menghentikan mereka. Mungkin mereka mau nonton bola.” kata temanku.

“Lho kok gitu? Kan bahaya. Kalau mereka jatuh siapa yang tanggung jawab?” protesku.

“Ini Surabaya Bung”

Lho? Apa hubungannya dengan Surabaya? Haha.. Pembicaraan itu berakhir dengan tanda tanya di kepalaku.

Random Posts