Di samping sebuah rumah kecil seorang kakek asyik mencangkul lubang. Lubang itu tak dalam, paling-paling cuma sedalam hasta, setengah meter. Rumah Kakek Ali kecil, namun pekarangannya luas. Banyak sekali pohon berbuah yang rindang-rindang. Setiap tahun ada saja yang berbuah. Entah durian, mangga, jambu, kedondong, bahkan rambutan.

Sang Kakek sangat asyik mencangkul, saat seorang kakek datang menggeleng-gelengkan kepalanya di samping pagar. Kakek Ali tersenyum padanya, menyapa sambil tetap mencangkul. Matahari hampir mencapai puncak, tegak di atas kepala. Seseekali Kakek Ali menyeka keringat di dahinya. Namun, tak tampak sedikitpun semangatnya pudar. Kakek Suh yang dari tadi berdiri di pagar pun tak kuat lagi menahan mulutnya untuk berkicau.

Kakek Suh: Hey Ali, tak capekkah kau? Apa yang kau lakukan? Sudah siang begini, masih saja kau sibukkan diri kau itu dengan mencangkul.

Kakek Ali: Aku mau menanam jeruk bali Suh.

Kakek Suh: (sambil tertawa keras)… Ada-ada saja kau Ali, kau buat aku tertawa terbahak-bahak. Kau tau, umurmu sudah 82 tahun bulan depan. Aku pun juga. Kukira kau pintar. Dulu sejak sekolah di Sekolah Rakyat, kau yang paling pintar. Tapi, bodohnya kau ternyata. Jeruk bali itu kau tanam sekarang, kapan kau bisa makan buahnya? Paling-paling tak sampai 5 tahun lagi kita sudah menghadap sang Khalik. Bodoh kali kau Ali..

Dengan tenang dan mimik tetap tersenyum Kakek Ali menjawab dengan sabar.

Kakek Ali: Suh, kau kan tetanggaku. Kau suka durian tidak?

Kakek Suh: Ya suka lah. Pura-pura tak tau ya? Masa kau tak ingat, waktu kecil dulu setiap ada durian jatuh kan aku yang selalu bela-belain ambil. Sampai sekarang pun, pohon durian di belakang rumahku itu tak henti-hentinya berbuah. Tak bosan-bosan aku makan buah durian itu. Rasanya persis seperti kita saat masih kecil.

Kakek Ali: (sambil tetap tersenyum).. Suh, kau pasti tau siapa yang menanam pohon durian itu yang sudah berdiri kokoh sejak kita kecil kan? Aku menanam pohon ini untuk anakku agar mereka bisa memakan buahnya, untuk cucuku agar mereka tak melupakanku. Untuk generasi penerusku, agar mereka dapat manfaat dari pohon ini.

Kakek Suh terdiam. Ia menatap langit dengan tajam. Ia teringat hal yang selalu dibanggakannya sejak kecil, yaitu almarhum ayahnya yang telah menanam pohon durian, buah kesukaannya. Tiba-tiba air matanya menetes.

* Cerita untuk Kakekku Ali, maaf aku tak bisa datang saat engkau dipanggil yang Maha Kuasa. Maafkan aku Kakek… :(

Semoga kita semua sadar, apa yang kita lakukan hari ini akan dipetik oleh anak-anak kita di kemudian hari.

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • LinkedIn
  • del.icio.us
  • Print
  • PDF
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • StumbleUpon

Random Posts