<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wahyu Reza Prahara &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.wahyu.web.id/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.wahyu.web.id</link>
	<description>Bahas Ini Itu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 05:52:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ruangan Rahasia</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/ruangan-rahasia.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/ruangan-rahasia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 10:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ruangan rahasia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah buku yang kupegang tidak seberapa tebal telah penuh dengan coretan. Design kasar sebuah alat elektronik tiba-tiba muncul. Halaman berikutnya kutulis jelas spesifikasi, arsitektur rancangannya, dan komponen yang harus kubeli. Sekilas coret-coretan itu seperti coretan seorang ilmuwan. Atau lebih tepatnya seperti coretan inventor atau penemu alat elektronik yang bekerja di bagian creative perusahaan terkenal layaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/05/Ruangan-Rahasia.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-327" title="Ruangan Rahasia" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/05/Ruangan-Rahasia.gif" alt="Ruangan Rahasia" width="250" height="237" /></a>Sebuah buku yang kupegang tidak seberapa tebal telah penuh dengan <strong>coretan</strong>. <em>Design </em>kasar sebuah alat <strong>elektronik </strong>tiba-tiba <strong>muncul</strong>. Halaman berikutnya kutulis jelas spesifikasi, arsitektur <strong>rancangannya</strong>, dan <strong>komponen </strong>yang harus kubeli. Sekilas coret-coretan itu seperti coretan seorang <strong>ilmuwan</strong>. Atau lebih tepatnya seperti coretan <em><strong>inventor </strong></em>atau penemu alat <strong>elektronik</strong> yang bekerja di bagian <em>creative </em>perusahaan terkenal layaknya <strong>Apple</strong>.</p>
<p><strong>Beberapa jam sebelum itu..</strong></p>
<p><strong>Malam </strong>biasa saja, tidak ada yang <strong>berlebihan</strong>. Aku kembali ke rumah, mengecek telepon masuk, dan duduk sebentar di komputer. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di komputer untuk internetan karena tugasku <strong>menumpuk</strong>.<span id="more-326"></span> <strong><em>Deadline </em></strong>demi <em>deadline </em>melintas silih berganti bak pesawat tempur yang siap dengan senjata lengkapnya: <strong>senjata otomatis </strong>20 mm, air-to-air missiles, dan segala macamnya.</p>
<p>Otakku berputar <strong>kencang</strong>. Bukan karena tugas itu <strong>membutuhkan waktu</strong>, tetapi karena tugas itu <strong>bermodalkan ide</strong>. Kita semua tau, orang kantoran melakukan hal-hal yang <strong>prosedural </strong>untuk menyelesaikan tugasnya. Namun bagi seseorang yang bekerja menantang <strong>perkembangan</strong>, tentu buku <em>Standard Operating Procedure</em> tidak lagi menjadi pedoman. Butuh sesuatu di luar standar, sesuatu yang <strong>unik</strong>.</p>
<p>Telepon di sebelahku <strong>berdering</strong>. Suara deringannya tak ada, hanya lampu <strong>merah </strong>yang menyala-nyala. Aku <strong>mengangkat </strong>dan mengangguk-angguk penuh arti. Di seberang sana, seorang <strong>sekretaris </strong>pimpinan proyek berkata: <em>&#8220;Hello, Sir. Your blah blah blah blah&#8221;</em>. Aku mengerti maksudnya, beberapa hari lagi <em><strong>deadline </strong></em>satu tugasku sudah menanti. Dalam hati aku mengutuk, kenapa waktu tidak bisa <strong>diperlambat</strong>? Atau otak yang <strong>dipercepat</strong>? Atau setidaknya pinjamkan aku sebuah ruangan tempat latihan <strong>Dragon Ball</strong> yang katanya waktu di tempat itu lebih lambat daripada waktu di bumi.</p>
<p>Tentunya hal semacam itu <strong>irasional</strong>, maka aku harus berpikir secara rasional dan kembali &#8220;<strong>berpikir</strong>&#8221; agar tugas selesai. Otak tidak bisa <strong>dipercepat</strong>, waktu tidak bisa <strong>diperlambat</strong>. Mengutip filosofi ilmuwan terkenal Albert Einstein: &#8220;Jika kamu tidak bisa mengubah hal-hal yang berkaitan langsung pada suatu persamaan, maka ubahlah lingkungannya&#8221;. Ding! Itulah yang harus aku lakukan, aku harus menemukan suatu <strong>lingkungan</strong> yang tepat untuk &#8220;berpikir&#8221;. Tapi di mana?</p>
<p><strong>30 menit lalu</strong></p>
<p>Aku terpaksa masuk ke <strong>ruangan </strong>ini. Aku mencoba untuk <strong>menolaknya</strong>. Namun, semakin keras aku menolak semakin kuat pula keharusan aku untuk masuk ke dalamnya. Di dalam aku duduk <strong>termenung</strong>. Dan seketika itu semua <strong>persamaan</strong>-<strong>persamaan </strong>mulai keluar. Aku selalu menyiapkan <strong>kertas</strong> <strong>notesku</strong>. Sungguh hebat di dalam ruangan ini. Ya, aku menemukannya. Inilah <strong>lingkungan </strong>yang kucari untuk &#8220;berpikir&#8221;. Tak pernah sebelumnya <strong>terlintas </strong>olehku. Ditemani suara air yang <strong>menetes</strong>, pikiranku jauh <strong>melayang</strong>. Ide demi ide mulai muncul. Dan tanganku pun mulai mencorat-coret. Di ruangan ini aku sadar bahwa manusia dapat melakukan kegiatan <em>multi-tasking</em> <strong>terbaiknya</strong>.</p>
<p>30 menit berlalu dan aku masih sibuk menulis di ruangan yang inspirasional ini. <strong>Handphone </strong>berdering dan seseorang di seberang sana berkata: <em>&#8220;Where are you sir? Need you in H.Q&#8221;</em>. Telepon itu <strong>membuyarkan </strong>lamunanku, <strong>imajinasi</strong>, dan tulisan-tulisanku. Aku harus ke sana. Aku sadar dan aku keluar dari ruangan itu. Di tengah perjalanan aku <strong>cekikikan</strong>. Tahukah teman? Siapkanlah kertas kecil dan pulpen di toilet anda karena di ruangan itulah semua imajinasi anda <strong>mengalir</strong>. :)</p>
<p><em>* Maaf teman-teman, aku harus kembali bekerja. Sampai bertemu lagi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/ruangan-rahasia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>63</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis, Bermanfaatkah?</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/menulis-bermanfaatkah.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/menulis-bermanfaatkah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 11:26:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat menulis]]></category>
		<category><![CDATA[otak kanan]]></category>
		<category><![CDATA[otak kiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah kesibukan yang amat sangat minggu ini, terlintas sebersit pertanyaan saat aku hendak tidur semalam: &#8220;Apa manfaat menulis?&#8221;. Sedari kecil kita sudah belajar membaca dan menulis. Bahkan dulu saat aku kecil, orang-orang tua akan sangat bangga ketika anak mereka &#8220;lebih cepat&#8221; bisa membaca dan menulis dari anak orang lain. Mari sejenak kita melupakan makna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Menulis.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-309" title="Menulis" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Menulis.gif" alt="" width="200" height="218" /></a>Di tengah kesibukan yang amat sangat minggu ini, terlintas sebersit <strong>pertanyaan </strong>saat aku hendak tidur semalam: &#8220;<em>Apa manfaat menulis</em>?&#8221;. Sedari kecil kita sudah belajar <strong>membaca dan menulis</strong>. Bahkan dulu saat aku kecil, orang-orang tua akan sangat <strong>bangga </strong>ketika anak mereka &#8220;lebih cepat&#8221; bisa <strong>membaca dan menulis </strong>dari anak orang lain.</p>
<p>Mari sejenak kita melupakan makna <strong>menulis </strong>pada zaman itu karena <strong>menulis</strong> yang kumaksud bukan <strong>menulis </strong>serangkaian huruf-huruf B-U-D-I menjadi sebuah kata <strong>Budi tanpa </strong><strong>makna</strong>. <strong>Menulis </strong>yang <strong>kumaksud </strong>adalah <strong>menuangkan suatu pikiran </strong>dalam bentuk <strong>tulisan</strong>. <strong>Tulisan </strong>itu yang nantinya menjadi jembatan yang menghubungkan pikiran kita dan pikiran pembaca.<span id="more-308"></span></p>
<p>Aku punya seorang <strong>teman</strong>. Awal <strong>perkenalan</strong>, aku mengenalnya melalui tulisan-tulisan yang dibuatnya. Ia hidup di <strong>desa kecil</strong>, jauh dari keramaian hiruk pikuk kota. Rasa-rasanya aku sulit membayangkan perjuangan beratnya yaitu menjadi seorang <em>blogger</em>. Ya, dia seorang <em>blogger, teman</em>. Mungkin teman-teman banyak yang <strong>mengenalnya</strong>. Ia bukan <strong>seorang </strong>yang dengan mudah <strong>mendapatkan </strong>koneksi internet karena ia adalah seorang <strong>penyadap</strong> <strong>karet</strong>. Aku ulangi sekali lagi, seorang <strong>penyadap karet</strong>! Yang lakon hidupnya pergi ke <strong>hutan </strong>dan mengiris batang demi batang pohon karet dan menyadap <strong>getahnya</strong>.</p>
<p>Aku sudah lama tidak membaca <strong>tulisan </strong>barunya. Tulisan terakhir yang ia terbitkan adalah tulisan terakhir yang kubaca. Itu adalah <strong>tulisan </strong>dua bulan lalu, tepat di <strong>penghujung bulan Januari </strong>2010. Di tulisan itu aku mendapati <strong>kenyataan </strong>yang hampir tak <strong>kupercaya</strong>. Ia adalah seorang yang tidak pandai <em>ngomong</em>, alias orang yang <a href="http://ranggasetya.wordpress.com"><strong>susah ngomong</strong></a>. Namun, tulisan-tulisannya <strong>berkata </strong>lain. Tulisan itu menggambarkan seorang yang pandai merangkai <strong>berkata</strong>-<strong>kata</strong>, setidaknya juga melalui <strong>lisan, </strong>melalui<strong> ucapannya</strong>. Itulah hebatnya <strong>tulisan.</strong></p>
<p>Pernah suatu ketika aku ada <strong>pertemuan </strong>dengan <strong>seseorang</strong>. Beberapa hari sebelum <strong>berbicara</strong>, <strong>bercengkrama</strong>, <strong>presentasi </strong>(atau apalah istilahnya itu) aku sempatkan untuk membaca-baca tulisannya. Entah itu <strong>bukunya</strong>, <strong>artikel</strong>, atau jurnal-jurnal ilmiah yang pernah dibuatnya. Dan sedikit banyak dari tulisan aku bisa mengenal karakter orang itu. <strong>Romantiskah</strong>, <strong>visioner</strong>, atau mungkin <strong>berhumor </strong>tinggikah ia? Sadar tidak sadar, karakter seseorang <strong>berpengaruh </strong>pada tulisan-tulisannya.</p>
<p>Seseorang yang suka menulis secara tidak langsung telah <strong>melatih </strong>dan <strong>mengasah </strong>kerja otak. Sebagian orang mengemukakan saat kita menulis <strong>otak</strong> <strong>kanan </strong>lah yang bekerja karena berkaitan erat dengan ide dan kreativitas. Namun, sebagian lagi berpendapat bahwa saat menulis <strong>otak kiri</strong> yang mengambil peran karena menuntut seseorang untuk berpikir <strong>runut</strong>, <strong>sistematis</strong>, dan <strong>logis</strong>. Tak ada yang salah dalam keduanya. Faktanya dengan menulis kita akan menemukan otak kita makin berkembang dan terasah.</p>
<p>Nah jika seseorang telah jatuh cinta pada kegiatan menulis, bukan tak mungkin karya <strong>tulisan </strong>itu akan berkembang <strong>derajatnya</strong>. Dengan tulisan seseorang dapat mendapatkan <strong>uang</strong>! <strong>Mengapa</strong>? Karena <strong>ide</strong>, <strong>berita</strong>, <strong>cerita</strong>, tulisan yang bagus dalam mengajak orang, <strong>ulasan</strong>, pendapat tentang sesuatu, dan hasil buah pikir lainnya tidaklah gratis. <strong>Kolumnis</strong>, <strong>novelis</strong>, <strong>jurnalis</strong>, dan <em>blogger </em>adalah <strong>contohnya</strong>.</p>
<p>Sekarang mari kita renungkan lagi, ternyata menulis itu banyak manfaatnya ya? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/menulis-bermanfaatkah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Samsung Corby Touch, Kelebihan dan Kekurangan</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/samsung-corby-touch-kelebihan-dan-kekurangan.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/samsung-corby-touch-kelebihan-dan-kekurangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 16:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[corby]]></category>
		<category><![CDATA[harga samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[harga samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[kapasitas maksimum pesan samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan dan kekurangan samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan dan kekurangan samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[lcd sentuh samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[maksimum pesan corby]]></category>
		<category><![CDATA[maksimum pesan samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[n70]]></category>
		<category><![CDATA[nokia n70]]></category>
		<category><![CDATA[review samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[ringkasan samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[samsung corby]]></category>
		<category><![CDATA[samsung corby touch]]></category>
		<category><![CDATA[spesifikasi samsung corby touch]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;I used to use Nokia, but now I have Samsung in my hand.&#8221; Kedengaran keren bukan? Yup, sudah sebulan Samsung Corby Touch ini ada di tanganku. Rencananya aku benar-benar akan migrasi dari Nokia ke produsen lain. Tapi ternyata aku salah, Nokia is better i think. Samsung Corby Touch, handphone stylish gaya anak muda yang sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Samsung-Corby.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-303" title="Samsung Corby" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Samsung-Corby-300x233.jpg" alt="Kelebihan dan Kekurangan Samsung Corby" width="300" height="233" /></a>&#8220;<em>I used to use <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html">Nokia</a>, but now I have Samsung in my hand</em>.&#8221; Kedengaran <strong>keren </strong>bukan? Yup, sudah sebulan <strong>Samsung Corby Touch </strong>ini ada di tanganku. <strong>Rencananya </strong>aku benar-benar akan <strong>migrasi </strong>dari <strong>Nokia </strong>ke produsen lain. Tapi ternyata aku <strong>salah</strong>, <em>Nokia is better i think</em>.</p>
<p><strong>Samsung Corby Touch</strong>, <em>handphone <strong>stylish </strong></em>gaya <strong>anak muda </strong>yang sedang <em><strong>ngetrend</strong></em>. Siapa sangka <strong>dibalik desainnya </strong>yang unik, <strong>tersimpan</strong> <strong>kekurangan </strong>yang (<em>menurutku</em>) <strong>mengganggu</strong>. Bahkan beberapa poin terasa amat sangat <strong>mengganggu</strong>. <em>By the way, I like Samsung Corby&#8217;s theme song, Technicolour</em> ;)<span id="more-301"></span></p>
<p><strong>Sebelum </strong>kita <strong>berbicara </strong>jauh tentang <strong>kekurangan </strong><em>handphone </em>ini, ada baiknya aku <strong>membeberkan kelebihan </strong>yang dipunyainya. Ok, <em>ready</em>? <em>Let&#8217;s</em> <em>start</em>.</p>
<p><strong>1. <em>LCD Touch Technology Inside</em></strong>. Anda ingin <strong>merasakan </strong>teknologi <strong>layar sentuh</strong>? <em>Handphone </em>ini aku rasa sudah cukup <strong>mewakili</strong>. Tidak seperti <em>handphone </em>yang dimiliki <strong>Nokia</strong>, LCD ini sudah <strong>mengadopsi </strong>layar sentuh berbasis <strong>kapasitif</strong>. Sedangkan <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html">Nokia</a> <strong>5800 </strong>contohnya, masih menggunakan <strong>teknologi </strong>berbasis <strong>resistif</strong>. Kelebihan <strong>kapasitif </strong>dibandingkan <strong>resistif</strong>? Bandingkan saja <strong>iPhone </strong>atau <strong>iPod Touch </strong>dengan Nokia <strong>5800</strong>. <strong>iPhone </strong>dan <strong>iPod Touch </strong>mengusung <em>capacitive touch screen</em> pada layar mereka.</p>
<p><strong>2. Murah</strong>. <em>Has anyone disagree with it?</em> <em>Okay, it&#8217;s relative</em>. Akan tetapi, setauku ini adalah <em>handphone touch screen </em><strong>termurah </strong>yang pernah ada. Harga barunya hanya sekitar <strong>Rp 1.500.000,- sampai Rp 1.700.000,-</strong> (per Februari 2010, <strong>tergantung lokasi </strong>dan <strong>penjual</strong>).</p>
<p><strong>3. <em>Stylish</em>, modern, and gaul banget</strong>. <em>I admit that&#8217;s personal and subjective</em>. Namun tidak dapat <strong>dipungkiri</strong>, desain <em>handphone </em>ini bisa dibilang <strong>gaul banget</strong>. Dengan <em>back casing</em> yang bisa digonta-ganti sesuai <em>theme</em>, ia akan sangat <em>matchy </em>untuk <strong>anak muda </strong>yang <em>stylish</em>.</p>
<p><strong>4. Spesifikasi standard terpenuhi</strong>. <em>Handphone </em>ini mempunyai kamera 2.0 MP, bisa <strong>merekam</strong>, <em>support </em><strong>Java</strong>, <em>radio</em>, dan <em>memory card</em>.</p>
<p><em>I&#8217;m done with the advantages. Let&#8217;s move on disadvantages.</em></p>
<p><strong>1. Tidak support 3G</strong>. Bagi anda yang <strong>mendambakan </strong>koneksi super, entah ingin <strong>memanfaatkan </strong>sebagai modem atau melakukan <em><strong>video </strong><strong>call</strong></em>, anda <strong>cukup</strong> <strong>mimpi saja </strong>karena koneksi <em>handphone </em>ini hanya sebatas <strong>EDGE </strong>saja.</p>
<p><strong>2. Tidak support <em>zoom </em>untuk gambar</strong>. Agak <strong>membingungkan </strong>di sini. Aku akan <strong>menjelaskannya</strong>. Anda punya <em>handphone </em><a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html"><strong>Nokia</strong></a>? Anda mengambil <strong>gambar</strong>, kemudian <strong>menyimpannya</strong>. Saat anda butuh melihat lebih <strong>detail</strong>, anda akan melakukan <em>zoom </em>bukan? Saat kita melakukan <em>zoom</em>, Nokia akan <em>merender </em><strong>gambar </strong>sampai <strong>sesuai </strong>dengan resolusi <strong>maksimalnya</strong>. Bagaimana dengan <strong>Samsung</strong> <strong>Corby Touch</strong>? Tampaknya <em>engineer handphone </em><strong>Samsung Corby Touch</strong> ini tidak memperhatikannya. Anda punya <strong>gambar</strong>? Anda harus <strong>puas </strong>melihat gambar itu sebesar <strong>layar </strong>hp anda. Anda tidak bisa melakukan <em>zoom </em>karena saat anda <em>zoom </em>gambar tersebut akan <strong>pecah</strong>, <strong>sebesar </strong>apapun resolusi gambar yang anda <strong>punya</strong>.</p>
<p><strong>3. Tidak bisa menyimpan pesan yang lebih dari 160 karakter ke komputer</strong>. Di <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html">Nokia</a>, anda punya <strong>Nokia PC Suite</strong> yang dapat dengan mudah <strong>mentransfer </strong>pesan yang ada di <em><strong>handphone </strong></em>ke <strong>komputer</strong>. Dan, tidak ada masalah untuk <strong>menyimpan </strong>segala jenis pesan, entah itu <strong>MMS </strong>dan <strong>sebagainya</strong>. Bagaimana dengan <strong>Samsung Corby Touch</strong>? Sebenarnya <strong>Samsung Corby Touch</strong> mempunyai <strong>Samsung PC Studio</strong>. Tapi sayang seribu sayang, pesan yang lebih dari 160 karakter tidak akan bisa ditampilkan di <strong>komputer</strong>. Bersedihlah bagi anda yang senang menyimpan pesan ke <strong>komputer</strong>.</p>
<p><strong>4. Tidak cocok untuk anda yang berjari-jari raksasa</strong>. Pertama saya menggunakan <em>handphone </em>ini, rasanya seperti <strong>kikuk</strong>. Saya mencari <em>stylus</em>, tapi <em>stylus </em>tidak berlaku di sini. <strong>Konsekuensi </strong>anda <strong>menggunakan </strong><em>Capasitive Touch Screen</em>, anda tidak <strong>akan </strong>bisa menggunakan <em>stylus</em>. <strong>Praktis</strong> anda harus <strong>menggunakan </strong>jari-jari anda. Pikir <strong>ulang jika </strong>jari-jari anda <strong>besar </strong>karena anda harus <strong>menyesuaikan </strong>diri melatih <strong>akurasi </strong>jari anda.</p>
<p><strong>5. Kartu memori tidak mudah dilepas cabut</strong>. Tidak seperti <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html"><strong>Nokia N70</strong></a> <strong>punyaku</strong>, kartu memori <strong>Samsung Corby Touch </strong>terletak di <strong>belakang</strong> tertutup dengan <em>back casing</em>. Jika anda ingin mengambil <em><strong>memory card</strong></em>, itu artinya anda harus mencabut <em>casing</em>nya.</p>
<p><strong>6. Kapasitas pesan 500 (maksimum)</strong>. Untuk anda yang jarang <strong>menghapus </strong>pesan, ini merupakan kabar <strong>buruk</strong>. Pada kenyataannya sebelum <strong>500 </strong>anda sudah <strong>diharuskan menghapus </strong>pesan karena <em>memory</em> penuh. Tidak seperti <strong>Nokia </strong>yang memberikan pilihan untuk <strong>menyimpan </strong>di <strong>memori telepon </strong>atau <strong>kartu memori</strong>, <em>Samsung Corby Touch</em> tidak memberikan pilihan itu.</p>
<p><strong>7. Pencarian kontak sulit</strong>. Anda pernah <strong>mencari kontak </strong>di Nokia (khususnya pengguna <strong>Symbian</strong>)? Ketika anda <strong>memasukkan </strong>huruf dan <strong>rangkaian </strong>nama, tidak <strong>peduli </strong>itu <strong>nama belakang</strong>, nama <strong>depan</strong>, atau nama <strong>tengah</strong>, semua kata yang <strong>berhubungan </strong>dengan itu akan <strong>ditampilkan</strong>. Jadi <strong>misalkan </strong>anda ingin <strong>mencari </strong><em>Wahyu Reza Prahara</em>, tetapi anda hanya ingat sebagian saja. Cukup ketikkan <strong>Reza </strong>atau <strong>Prahara</strong> maka <strong>Wahyu</strong> <strong>Reza Prahara </strong>akan terdapat di <strong>daftar</strong>. Samsung Corby Touch? Yup, anda harus tau <strong>nama depannya</strong>. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dengan mengetikkan kata <strong>Reza </strong>atau <strong>Prahara </strong>saja. Ini mimpi buruk bagi anda yang mempunyai <strong>banyak relasi </strong>dan tersimpan di kontak.</p>
<p><strong>7. Fitur <em>multitasking </em>yang setengah-setengah</strong>. Mengapa aku bilang <strong>setengah</strong>-<strong>setengah</strong>? Memang <em>Samsung Corby Touch</em> dapat <strong>menjalankan </strong>banyak aplikasi dengan waktu <strong>bersamaan</strong>. Akan tetapi, itu khusus <strong>untuk</strong> <strong>Java </strong>saja. Dan jeleknya, anda tidak dapat berpindah dengan cepat dari satu aplikasi ke aplikasi lain dengan <strong>mudah </strong>seperti di Nokia. Anda harus <em>meminimize </em>satu aplikasi terlebih <strong>dahulu</strong>, baru ke <strong>aplikasi lainnya </strong>lewat menu <strong>awal</strong>.</p>
<p><strong>8. Tidak bisa merubah <em>theme </em>dan <em>font</em></strong>. <em>Theme </em>yang tersedia hanya 4 dan selama <strong>hidup </strong>anda, anda <strong>hanya </strong>bisa memakai 4 <em>theme </em>dan 3 <em>font </em>itu.</p>
<p><strong>9. Fitur laporan pengiriman pesan tidak berdiri sendiri</strong>. Artinya anda harus <strong>menerima </strong>laporan pengiriman seperti <strong>menerima pesan</strong>, dan itu <strong>terhitung </strong>satu sms dari <strong>500 </strong>sms. <strong>Payah</strong>.</p>
<p><strong>10. Tidak bisa mematikan koneksi internet aktif</strong>. Jika anda menggunakan <strong>Nokia</strong>, anda <strong>meminimize browser </strong>anda dan ingin GPRS mati untuk jangka <strong>waktu </strong>tertentu, maka dengan <strong>mudah </strong>anda <strong>tinggal </strong>ke <strong>konektivitas </strong>dan <strong>mematikan<em> </em></strong><em>access point</em> yang aktif. Di <em>Samsung Corby Touch</em> anda <strong>tidak dapat </strong>melakukan itu. Alhasil, <strong>penggunaan </strong>baterai pun akan lebih <strong>boros</strong>.</p>
<p>Aku rasa cukup dulu sekian, sebenarnya masih ada lagi. Tapi, untuk menghormati pengguna loyal Samsung di seluruh dunia, aku cukupkan sekian. Salam :)</p>
<p><em>* Ini adalah pandangan subjektif penulis. Dan tidak ada sedikitpun ingin menjatuhkan Samsung secara general. Penulis hanya membandingkan beberapa fitur yang ada dengan handphone lain.</em></p>
<p><em>** Maaf bahasa aku campur-campur, biar keliatan gaol haha..<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/samsung-corby-touch-kelebihan-dan-kekurangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>92</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nokia Tak Peduli Lingkungan Hidup?</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 14:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mencegah pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[limbah handphone]]></category>
		<category><![CDATA[limbah hijau handphone]]></category>
		<category><![CDATA[limbah hijau selular]]></category>
		<category><![CDATA[mencegah pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[nokia go green]]></category>
		<category><![CDATA[nokia n70 hang]]></category>
		<category><![CDATA[nokia peduli lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[nokia service center surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat Nokia N70 ku yang sempat &#8220;batuk-batuk&#8221; bulan Desember tahun lalu? Tiga minggu sudah dia masuk ke Nokia Service Center WTC Surabaya. Permasalahannya sama, klasik! Sebagian komponen kurasa sudah termakan umur. Sebagian lagi sepertinya mulai tidak sehat saat Nokia N70 ku itu tercelup air. Beberapa waktu lalu, keadaannya yang sudah mulai sakit-sakitan masih bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Handphone-Hijau.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-296" title="Handphone Hijau" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Handphone-Hijau-220x165.gif" alt="" width="220" height="165" /></a>Masih <strong>ingat <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html">Nokia N70</a> </strong>ku yang sempat &#8220;<strong>batuk</strong>-<strong>batuk</strong>&#8221; bulan Desember tahun lalu? <strong>Tiga minggu </strong>sudah dia <strong>masuk </strong>ke <strong>Nokia <em>Service</em></strong> <strong><em>Center </em>WTC </strong><strong>Surabaya</strong>. Permasalahannya sama, <strong>klasik</strong>! Sebagian <strong>komponen </strong>kurasa sudah <strong>termakan umur</strong>. Sebagian lagi sepertinya mulai tidak <strong>sehat </strong>saat <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html">Nokia N70</a> ku itu <strong>tercelup </strong>air.</p>
<p>Beberapa <strong>waktu </strong>lalu, <strong>keadaannya </strong>yang sudah mulai <strong>sakit</strong>-<strong>sakitan </strong>masih bisa <strong>dipaksakan </strong>bekerja. Namun ternyata, tepat <strong>minggu ketiga </strong>Februari lalu ia tak <strong>dapat </strong>ditolong lagi. Buru-buru kubawa ke &#8220;<strong>rumah sakit</strong>&#8220;nya karena <strong>tak ada </strong>tanda-tanda kehidupan darinya alias <strong>mati total</strong>!<span id="more-291"></span></p>
<p><em><strong>Curcol</strong></em> sedikit <em>ya</em>, sampai hari ini aku <strong>masih bertanya</strong>-<strong>tanya </strong>bagaimana <strong>kabar <a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html">Nokia N70</a> </strong>ku itu. Si <strong>Mbak</strong>, yang berjanji akan <strong>meneleponku </strong>akan <strong>mengabari </strong>paling lambat tanggal <strong>5 Maret</strong> kemarin, tidak ada <strong>kabar </strong>berita. Aku <strong>tungguin </strong>saja, lagipula aku <strong>belum </strong>ada waktu untuk ke <strong>Surabaya </strong>dalam waktu dekat ini :D</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang <strong>Nokia</strong>, <strong>perusahaan </strong>dengan salah satu  <em><strong>market</strong><strong>share </strong></em>terbesar di dunia ini, ternyata <strong>peduli </strong>juga dengan <strong>lingkungan</strong> hidup Indonesia lho. Memang menurut <em>UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup</em>, setiap orang harus <strong>memperhatikan dampak </strong>yang diterima lingkungan akibat <strong>usaha</strong> yang dilakukannya. Dan <strong>Nokia </strong>selaku salah satu <strong>produsen </strong>telepon selular <strong>terbesar </strong>di dunia <strong><em>concern </em></strong>akan hal ini.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Nokia-Peduli-Lingkungan.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-294" title="Nokia Peduli Lingkungan" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Nokia-Peduli-Lingkungan-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ketika masuk <strong>ruangan </strong><em>Service Center</em> <strong>Nokia</strong>, benda yang sempat menarik <strong>perhatianku </strong>adalah sebuah <strong>kotak berwarna hijau</strong><strong></strong>. Karena banyak orang waktu itu, aku sengaja <strong>pura</strong>-<strong>pura </strong>mengambil tempat duduk <strong>dekat</strong> dengan <strong>kotak </strong>itu agar aku bisa mengabadikan fotonya. Di atasnya tertulis: &#8220;<em>Masukkan handphone, baterai atau charger bekas anda ke kotak ini, dan kami akan mengolahnya</em>&#8220;.</p>
<p>Wah, <strong>diolah </strong>jadi apa? Dan apa maksud kata &#8220;<strong>mengolah</strong>&#8221; timbul? <strong>Mengolah</strong> setauku adalah sebuah <strong>proses</strong>, mengubah <strong>sesuatu </strong>menjadi yang lain. Mungkin yang dimaksud dengan <strong>mengolah </strong>di sini adalah <strong>mengambil</strong> <strong>komponen</strong>-<strong>komponen </strong>yang ada untuk dimanfaatkan kembali. <strong>Pak Rio Seto</strong> memberi contoh implementasi <a href="http://rioseto.wordpress.com/2010/03/09/stop-press-teknologi-limbah-handphone/">pemanfaatan kembali limbah <em>handphone</em></a> dengan jelas di blog beliau.</p>
<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Nokia-Tanam-Pohon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-295" title="Nokia Tanam Pohon" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Nokia-Tanam-Pohon-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Juga</strong>, sebagai <strong>kompensasi </strong>karena kita telah <strong>menyumbangkan </strong>barang bekas <strong>Nokia</strong>, mereka <strong>berjanji </strong>akan menanam 1 pohon di daerah aliran sungai <strong>Ciliwung</strong>. Jadi, siapa bilang Nokia tak peduli lingkungan hidup? Inilah bentuk <strong>komitmen </strong>Nokia peduli lingkungan, salah satunya untuk <strong>mencegah </strong>dan <strong>mengurangi </strong>dampak pemanasan global.</p>
<p>Sempat <strong>terpikir </strong>untuk <strong>memasukkan </strong><a href="http://www.wahyu.web.id/nokia-n70-ku-sembuh-lagi.html">Nokia N70</a> ku ke situ jika memang tidak <strong>bisa ditolong </strong>lagi. Tapi, jauh di <strong>lubuk </strong>hatiku, aku masih <strong>berharap</strong> <em>handphone </em>itu masih bisa <strong>diperbaiki </strong>dan <strong>kembali </strong>seperti sedia kala. Semoga</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/nokia-tak-peduli-lingkungan-hidup.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>123</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan di Balik Layar</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/pahlawan-di-balik-layar.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/pahlawan-di-balik-layar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 18:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bangga]]></category>
		<category><![CDATA[bertani]]></category>
		<category><![CDATA[cerita bagus]]></category>
		<category><![CDATA[di balik layar]]></category>
		<category><![CDATA[kebanggaan]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan di balik layar]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan tidak terkenal]]></category>
		<category><![CDATA[petani]]></category>
		<category><![CDATA[rasa bangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si Pemuda. “Oh… Saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Petani-Bangga.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-207" title="Petani, Bangga" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Petani-Bangga-300x300.jpg" alt="Petani, Bangga" width="300" height="300" /></a>Beberapa <strong>tahun </strong>yang silam, seorang <strong>pemuda terpelajar </strong>dari <strong>Semarang</strong> sedang <strong>berpergian </strong>naik pesawat ke <strong>Jakarta</strong>.<br />
Di sampingnya <strong>duduk </strong>seorang <strong>ibu </strong>yang sudah <strong>berumur</strong>.<br />
Si <strong>Pemuda menyapa</strong>, dan tak lama mereka <strong>terlarut </strong>dalam <strong>obrolan </strong>ringan.</p>
<p>”<strong>Ibu</strong>, ada <strong>acara </strong>apa pergi ke <strong>Jakarta </strong>?” tanya si <strong>Pemuda</strong>.</p>
<p>“Oh… <strong>Saya </strong>mau ke <strong>Jakarta </strong>terus “<strong><em>connecting flight</em></strong>” ke <strong>Singapore</strong><br />
<strong>nengokin </strong>anak saya yang ke dua” jawab <strong>ibu itu</strong>.<span id="more-204"></span></p>
<p>”<strong>Wouw</strong>….. <strong>hebat </strong>sekali <strong>putra </strong>ibu, <strong>pemuda </strong>itu <strong>menyahut </strong>dan terdiam  <strong>sejenak</strong>. <strong>Pemuda </strong>itu <strong>merenung</strong>. Dengan <strong>keberanian </strong>yang didasari rasa <strong>ingin  tahu</strong> pemuda itu <strong>melanjutkan pertanyaannya</strong>.</p>
<p>”Kalau saya <strong>tidak salah</strong>, anak yang di <strong>Singapore </strong>tadi, putra <strong>yang  kedua</strong> ya Bu??<br />
Bagaimana dengan <strong>adik-adiknya</strong>??”</p>
<p>Oh ya, si <strong>Ibu bercerita </strong>dengan <strong>tenang dan </strong>mimik <strong>santai</strong>:<br />
“Anak saya yang ketiga <strong>seorang Dokter</strong> di <strong>Malang</strong>,<br />
yang keempat kerja di<strong> Perkebunan di Lampun</strong>g,<br />
yang kelima menjadi <strong>Arsitek </strong>di <strong>Jakarta</strong>,<br />
yang keenam menjadi <strong>Kepala Cabang Bank</strong> di <strong>Purwokerto</strong>,<br />
yang ke tujuh menjadi <strong>Dosen </strong>di <strong>Semarang</strong>.””</p>
<p><strong>Pemuda </strong>tadi <strong>diam</strong>, <strong>hebat </strong>ibu ini, bisa <strong>mendidik </strong>anak-anaknya<br />
dengan <strong>sangat </strong>baik, dari anak <strong>kedua </strong>sampai ke <strong>tujuh</strong>. Si Pemuda <strong>tergelitik</strong> untuk <strong>menanyakan </strong>anak ibu yang <strong>pertama </strong>karena daritadi si Ibu <strong>tidak pernah bercerita</strong> tentangnya.</p>
<p>”terus <strong>bagaimana </strong>dengan anak <strong>pertama </strong>ibu?”</p>
<p>Sambil <strong>menghela </strong>napas panjang, ibu itu <strong>menjawab</strong>,</p>
<p>”anak <strong>saya </strong>yang <strong>pertama Petani </strong>di <strong>Godean Jogja </strong>nak. Dia <strong>menggarap</strong> <strong>sawahnya sendiri </strong>yang tidak <strong>terlalu </strong>lebar “</p>
<p><strong>Pemuda </strong>itu segera <strong>menyahut</strong>, “<strong>Maaf </strong>ya Bu, <strong>ibu </strong>agak <strong>kecewa </strong>ya  dengan <strong>anak pertama </strong>ibu? <strong>Adik</strong>-<strong>adiknya berpendidikan tinggi </strong>dan sukses di  <strong>pekerjaannya</strong>, sedang dia hanya <strong>menjadi petani</strong>?“</p>
<p>Dengan <strong>tersenyum </strong>ibu itu <strong>menjawab</strong>,</p>
<p>” <strong>Ooo </strong>…<strong>tidak</strong>, <strong>tidak </strong>begitu nak…. <strong>Justru </strong>saya <strong>paling bangga </strong>dengan <strong>anak pertama</strong> saya, karena <strong>dialah </strong>yang <strong>membiayai sekolah </strong>semua adik-adiknya dari <strong>hasil </strong>dia <strong>bertani</strong>”.</p>
<p><strong>Orang bijak berkata: &#8220;Hal yang paling penting adalah BUKAN SIAPA ANDA, TETAPI APA YANG TELAH ANDA PERBUAT&#8221;</strong></p>
<pre>Cerita ini saya <strong>kutip </strong>dari internet dengan sedikit perubahan.</pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/pahlawan-di-balik-layar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecepatan Internet Indonesia dan Dunia</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/kecepatan-internet-indonesia-dan-dunia.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/kecepatan-internet-indonesia-dan-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 05:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[internet indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan akses internet di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan download di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan download di korea]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan download indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan download korea]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan internet]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan internet dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan internet indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan upload di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mengecek kecepatan internet]]></category>
		<category><![CDATA[pengguna internet dunia]]></category>
		<category><![CDATA[pengguna internet indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Saat dial-up masih merajalela, aku sering iri melihat orang-orang di luar sana tertawa-tawa dengan kecepatan akses internetnya. Tahun 1998, aku hanya mengandalkan modem Rockwell 33.6 Kbps untuk mengakses internet. Waktu itu Telkomnet Instan belum terkenal (atau belum ada ya?). Untuk browsing aku masih menggunakan Netscape dan IE. Netscape dulu sempat jadi primadona. Sedangkan chatting, mIRC [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-196" title="Kecepatan Internet" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-296x300.jpg" alt="" width="296" height="300" /></a>Saat <em>dial-up</em> masih <strong>merajalela</strong>, aku sering <strong>iri </strong>melihat orang-orang di luar sana <strong>tertawa-tawa</strong> dengan <strong>kecepatan akses internetnya</strong>. <strong>Tahun 1998</strong>, aku hanya <strong>mengandalkan </strong>modem <strong>Rockwell 33.6 Kbps</strong> untuk <strong>mengakses </strong>internet. Waktu itu <strong>Telkomnet Instan</strong> <strong>belum terkenal</strong> (atau belum ada ya?). Untuk browsing aku masih <strong>menggunakan <em>Netscape </em>dan IE</strong>. <em><strong>Netscape </strong></em>dulu sempat jadi <strong>primadona</strong>. Sedangkan <strong><em>chatting, </em>mIRC </strong>favoritku.</p>
<p>Kala itu <strong><em>chatting </em></strong>di <strong>mIRC </strong>masih <strong>enak dan nyaman</strong>, belum beredar banyak <strong>Bot, inviter, dan kawan-kawannya</strong>. <strong>Orang-orang</strong> yang ada di sebuah <em>channel </em>bisa <strong>dipastikan </strong>manusia <strong>tulen</strong>. Tapi <strong>kebanyakan </strong>orang <em>bule</em>. Aku <strong>paling benci </strong>saat mereka <strong>menyodorkan </strong>URL <em>video</em>. Aku hanya bisa <strong>mengelus dada</strong> saat mereka menyuruh <em>download </em>file <strong>ratusan MB</strong> besarnya. <strong>Sialan </strong>mereka pikirku, <em><strong>ngejek </strong></em>nih. Untuk <strong>mendownload </strong>sebuah <strong><em>file </em></strong>lagu saja <em>ngos-ngosan</em>, bisa <strong>setengah jam lebih kadang-kadang</strong>.<span id="more-184"></span></p>
<p><strong>Sekarang</strong>, <strong>10 tahun berlalu</strong>. Aku kembali <strong>ingat </strong>masa-masa itu. <strong>Terbersit niat </strong>untuk <strong>mengecek </strong>kembali <strong>kecepatan akses internet di Indonesia</strong> dan perbandingannya dengan yang lain. <strong>Mari kita lihat</strong>. Berikut adalah <strong>statistik kecepatan akses internet di Indonesia dan dunia </strong>versi Speedtest.net.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-Dunia.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-186" title="Kecepatan-Internet-Dunia" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-Dunia.gif" alt="Kecepatan Internet Dunia" width="221" height="279" /></a>Gambar di samping adalah <strong>data statistik kecepatan </strong>akses internet rata-rata <strong>penduduk dunia</strong>. Eropa masih bisa <strong>tersenyum </strong>karena mereka berada di urutan <strong>pertama</strong>. <strong>North America</strong> (Amerika Utara) juga <strong>tidak kalah saing</strong> dengan berada di <strong>posisi kedua</strong>. Hal ini mungkin terjadi karena <strong>North America</strong> memiliki <strong>daerah yang lebih luas daripada Eropa</strong> sehingga faktor <strong>pembaginya menjadi besar</strong> pula. <strong>Indonesia </strong>yang berada di Asia <strong>cukup puas </strong>berada di<strong> posisi ke empat</strong> mengungguli <strong>Amerika Selatan</strong> (Meksiko dan kawan-kawan) serta <strong>Africa</strong>. Yang <strong>membanggakan</strong>, pengguna internet di <strong>Asia </strong>adalah yang <strong><a href="http://www.internetworldstats.com/stats.htm">terbanyak</a></strong> dibandingkan dengan kawasan lain yaitu <strong>sebesar 42% pemakai internet di seluruh dunia</strong>.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-Asia.gif"><img class="alignright size-full wp-image-188" title="Kecepatan-Internet-Asia" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-Asia.gif" alt="Kecepatan Internet di Asia" width="221" height="430" /></a>Gambar di samping kanan menunjukkan<strong> rata-rata kecepatan akses internet di Asia</strong>. <strong>Korea </strong>sangat berjaya <strong>nangkring di posisi pertama</strong>, bahkan di <strong>seluruh dunia</strong>. Di sana <strong>hampir seluruh </strong>daerah mulai dari <strong>Seoul </strong>sampai daerah terpencil seperti <strong>Onyang, Jumunjing, dan Osan</strong> mendapatkan kecepatan akses internet yang sangat <strong><em>ngebut</em></strong>.</p>
<p>Mungkin karena <strong>Korea negara kecil</strong> mereka bisa <strong>membangun infrastruktur internet</strong> hingga <strong>sehebat </strong>itu. Ditambah lagi <strong>Korea </strong>merupakan <strong>titik pertemuan jalur-jalur internet</strong> (<strong>CMIIW</strong>) di dunia. Sudah <strong>pasti </strong>dan tidak usah <strong>diragukan </strong>lagi hal ini pasti <strong>mendongkrak kecepatan akses</strong> internet di negeri bermusim empat itu.</p>
<p>Lalu di mana <strong>Indonesia</strong>? <strong>Sabar</strong>, Indonesia masih <strong>berada di urutan bawah</strong>. Rata-rata <strong>kecepatan </strong><em><strong>download</strong> </em>di Indonesia adalah sebesar <strong>1.31 Mbps</strong>. Jika <strong>disetarakan </strong>dengan MB/s maka <strong>1.31 Mbps adalah sekitar 165 KB/s</strong>. Cukuplah untuk <strong><em>streaming </em>YouTube</strong> tidak putus-putus. <a href="http://www.wahyu.web.id/ber-facebook-dengan-baik-dan-aman.html"><strong>Facebook-an juga sudah sangat lancar</strong></a> dengan kecepatan segitu.</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-di-Indonesia.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-189" title="Kecepatan-Internet-di-Indonesia" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Internet-di-Indonesia.gif" alt="Kecepatan-Internet-di-Indonesia" width="221" height="430" /></a>Nah, di sebelah kiri adalah <strong>statistik kecepatan akses internet untuk Indonesia</strong>. Aku <strong>terkejut </strong>saat melihat rata-rata <strong>kecepatan </strong>akses internet di <strong>Sulawesi Tenggara</strong> yang mencapai <strong>6.24 Mbps</strong>. Siapa yang <strong>berkontribusi </strong>begitu besarnya hingga <strong>kecepatan di sana sangat cepat</strong>? Apakah <em>sample </em>terbatas pada beberapa orang memiliki <strong>akses kecepatan </strong>tinggi atau memang di sana <strong>internetnya begitu cepat</strong>? Hanya <strong>Tuhan </strong>yang tahu :D. Kecepatan <strong>akses </strong>di tempat lain <strong>tidak ada yang janggal</strong>, semua memiliki <strong>kecepatan </strong>yang merata <strong>khususnya di kota-kota besar</strong>.</p>
<p>Saat ini <strong>Indonesia </strong>menduduki<strong> <a href="http://www.speedtest.net/global.php">posisi 136 </a></strong>(versi Speedtest.net) di <strong>seluruh </strong>dunia. Jika <strong>dibanding-bandingkan</strong> dengan negara-negara tetangga seperti <strong>Singapura </strong>dan <strong>Malaysia</strong>, jelas ini sangat <strong>ketinggalan</strong>.</p>
<p>Meskipun masih <strong>ketinggalan</strong>, <strong>semoga </strong>beberapa tahun lagi <strong>Indonesia </strong>dapat <strong>mengejar ketertinggalannya </strong>dalam hal <strong>kecepatan </strong>akses internet.</p>
<p><strong>Catatan</strong>:</p>
<ol>
<li><strong>Data </strong>diambil dari <strong>Speedtest.net </strong>tanggal <strong>24 Januari 2010</strong>. Data ini terus <strong>berubah </strong>seiring dengan <strong>banyaknya pengguna</strong> yang <strong>melakukan </strong><em>test </em>di sana, namun demikian data ini <strong>cukup mewakili</strong> karena <strong><em>sample </em></strong>sudah cukup banyak dan <strong>relatif konstan</strong>. Untuk data yang <em><strong>real-time</strong> </em>dapat <strong>mengunjungi </strong>Speedtest.net.</li>
<li><strong>Kecepatan </strong>akses <strong>diukur </strong>dalam satuan <strong>Mbps </strong>(Megabit per second). Tentunya <strong>Mbps berbeda dengan MB/s </strong>yang biasa muncul saat kita melakukan <em>download</em>. <strong>1 Mbps kira-kira setara dengan 125 KB/s</strong></li>
<li><strong>Kecepatan akses internet</strong> merujuk kepada kecepatan <em>download</em></li>
</ol>
<p><em><strong>Screenshot </strong></em>di bawah saya ambil waktu saya melakukan koneksi di <strong>Korea </strong>(<strong>mimpi</strong>, hahahha). Meskipun t<strong>empatnya abal-abal</strong>, tapi sampai <strong>1MB/s atau sekitar 8Mbps</strong>. <strong>Benar-benar mimpi.</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Download.jpg"><img class="size-medium wp-image-190  aligncenter" title="Kecepatan Download" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Kecepatan-Download-300x223.jpg" alt="" width="300" height="223" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/kecepatan-internet-indonesia-dan-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>135</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut Jadi Pejabat</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/takut-jadi-pejabat.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/takut-jadi-pejabat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 15:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita anak]]></category>
		<category><![CDATA[ketidakadilan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penegakan hukum indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[takut menjadi pejabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Drama republik tahun 2010 ini diwarnai dengan invasi terhadap pejabat &#8216;korup&#8217;. Media dengan alasan demokrasi mengupas habis drama tersebut episode demi episode. Masyarakat tak punya pilihan saat melihat televisi berduyun-duyun mengisi layar kaca pemirsanya dengan suguhan acara itu. Tidak lupa embel-embel &#8220;terpercaya, langsung, aktual, dsb&#8221; melekat erat-erat. Sudah hampir setahun masyarakat Indonesia disuguhi pemberitaan media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Penjara.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-178" title="Penjara" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Penjara.jpg" alt="" width="357" height="340" /></a>Drama </strong>republik <strong>tahun 2010 </strong>ini <strong>diwarnai </strong>dengan invasi terhadap <strong>pejabat &#8216;korup&#8217;</strong>. Media dengan alasan <strong>demokrasi mengupas habis</strong> drama tersebut <strong>episode demi episode</strong>. Masyarakat <strong>tak punya pilihan</strong> saat melihat televisi <strong>berduyun-duyun</strong> mengisi layar kaca pemirsanya dengan <strong>suguhan </strong>acara itu. Tidak lupa <strong>embel-embel</strong> &#8220;<strong>terpercaya</strong>, <strong>langsung</strong>, <strong>aktual</strong>, dsb&#8221; <strong>melekat </strong>erat-erat.</p>
<p>Sudah <strong>hampir </strong>setahun masyarakat Indonesia <strong>disuguhi </strong>pemberitaan media <strong>bernada </strong>sama. <strong>Otak</strong>, <strong>akal dibombardir </strong>dengan <strong>informasi </strong>yang katanya <strong>aktual </strong>itu. Tak pelak <strong>opini </strong>pun berubah-ubah.<span id="more-176"></span></p>
<p>Dalam <strong>mimpi </strong>aku jalan bersama-sama <strong>dengan seorang anak kecil</strong>. Umurnya kira-kira <strong>enam tahun</strong>. Di lengan baju kirinya tertulis <strong>Sekolah Dasar</strong>. Aku <strong>tidak ingat</strong> SD mana yang tertulis karena<strong> jarang manusia ingat mimpinya</strong> dengan detail. Namun yang pasti <strong>si bocah adalah Indonesia asli</strong>.</p>
<p><strong>Aku</strong>, yang dalam mimpi itu <strong>berperan sebagai <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/penghargaan-untuk-peran-yang-terlupakan/">guru</a></strong>, <em>ngobrol </em>dengan <strong>mimik mendidik</strong>.</p>
<p><strong>Aku</strong>: &#8220;Kalau besar nanti, kamu <strong>harus jadi pemimpin</strong>. Ketua kelas biasanya <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/idealis-normatif-atau-error/"><strong>calon pemimpin</strong></a>. Kalau kamu jadi <strong>Presiden</strong>, jadi <strong>Direktur</strong>, pasti banyak yang <strong>senang</strong>&#8220;, ocehku <strong>menyemangatinya</strong>, sembari melihat <strong>matanya yang berbinar penuh harapan</strong>.</p>
<p><strong>Bocah</strong>: &#8220;<strong>Ga mau</strong> Pak Guru&#8221;</p>
<p><strong>Aku</strong>: &#8220;<em>Lho </em>kenapa?&#8221;</p>
<p><strong>Bocah</strong>: &#8220;Takut <strong>ditangkap</strong>, nanti masuk <strong>penjara</strong>&#8221;</p>
<p><strong>Aku</strong>: &#8220;Masa?&#8221;</p>
<p><strong>Bocah</strong>: &#8220;Iya Pak Guru. Pak Guru pasti<strong> ga nonton TV</strong> ya..&#8221;</p>
<p>Saat bangun, <strong>keringatku bercucuran</strong>. Mataku <strong>merah </strong>membelalak. Jantung <strong>berdegup </strong>kencang. Seperti <strong>mimpi buruk </strong>saja. Dalam pikiran yang <strong>tak karuan</strong>, aku banyak <strong>merenung</strong>. Kasihan <strong>masyarakat</strong>, tidak semua dapat menilai <strong>pemberitaan </strong>itu dengan bijak. Apalagi <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya/"><strong>anak-anak</strong></a>, <strong>dijejali </strong>dengan tontonan &#8220;<em>itu-itu</em>&#8221; saja pasti berpengaruh terhadap <strong>psikologis </strong>dan <strong>cara berpikirnya</strong>.</p>
<p>Di <strong>era informasi</strong> ini, <strong>televisi </strong>dan <strong>internet </strong>merupakan media yang <strong>paling giat menyebar berita</strong>. Sangat <strong>menarik </strong>memang. Anda tahu <em>headline</em> akhir-akhir ini yang <strong>meledak di pasaran</strong>?</p>
<p>1. <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/01/15/194427/1279609/612/pansus-century-tidak-beretika">&#8216;Ulah&#8217; sebagian anggota dewan terhormat</a>.</p>
<p>2. <a href="http://www.detiknews.com/read/2009/12/15/143945/1260498/10/antasari-tegang-dengarkan-rekaman-percakapan-di-gran-mahakam-diputar">Drama tahta dan wanita seorang penegak hukum yang terhormat</a>.</p>
<p>3. <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/01/15/175007/1279537/10/perlakuan-istimewa-di-penjara-hampir-di-seluruh-negara">Uang bisa membeli &#8216;keadilan&#8217; di negara tercinta ini, bahkan di penjara sekalipun</a>.</p>
<p>4. <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/01/21/172537/1283559/10/presiden-diminta-tanggung-jawab-kasus-century">Ribut-ribut uang rakyat yang katanya digunakan untuk menanggulangi dampak sistemik ekonomi</a>.</p>
<p>5. Dan seterusnya&#8230;</p>
<p>Memang jika <strong>ditelaah </strong>lebih lanjut, <strong>harta</strong>, <strong>tahta</strong>, dan <strong>wanita tak luput</strong> beredar bak <strong>lingkaran setan</strong>, <strong>diperebutkan dan dipuja</strong>. <strong>Hukum </strong>serasa <strong>tak mampu</strong> menghitamkan atau memutihkan yang <strong>abu-abu</strong>. Kadang-kadang <strong>yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan</strong>. Yang tidak tahu menahu <strong>jadi terlibat,</strong> <strong>pelaku utama malah melenggang</strong>. <strong>Duduk </strong>di kursi kekuasaan tinggi <strong>belum </strong>tentu enak, malah <strong>dipenuhi </strong>rasa was-was. Begitulah <strong>potret </strong>bila menjadi <strong>pejabat </strong>di <strong>negara </strong>tercinta kita saat ini. Jika <strong>klimaks </strong>tercapai, coba <strong>tanyakan </strong>pada diri dan sekeliling anda sendiri:<strong> &#8220;masihkah anda mau menjadi pejabat?&#8221;</strong></p>
<p><strong>* Update: </strong>&#8220;Tampaknya memang jauh lebih enak menjadi pengusaha daripada menjadi pejabat&#8221;, <a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/01/22/19062197/Boediono.Lebih.Enak.Jadi.Pengusaha.daripada.Pejabat">kata Pak Boediono</a>, Wapres kita saat ini seolah-olah setuju dengan tulisan ini :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/takut-jadi-pejabat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>97</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idealis, Normatif, atau Error</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/idealis-normatif-atau-error.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/idealis-normatif-atau-error.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 16:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara magelang]]></category>
		<category><![CDATA[sma tn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Istilah idealis, normatif, error, dan turunannya mulai aku kenal sejak SMA. Istilah-istilah itu dulu cukup kukenang karena tanpa istilah itu mungkin kami akan sulit mendeskripsikan royal tidaknya seorang siswa terhadap aturan. Aku menghabiskan 3 tahun di Lembah Tidar, Magelang. Saat awal bersekolah di SMA Taruna Nusantara aku merasa kebebasanku dikekang. Bagaimana tidak? Tiga tahun sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Balairung-SMA-Taruna-Nusantara.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-166" title="Balairung SMA Taruna Nusantara" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Balairung-SMA-Taruna-Nusantara-300x223.jpg" alt="" width="300" height="223" /></a>Istilah <strong>idealis</strong>, <strong>normatif</strong>, <em><strong>error</strong></em>, dan turunannya mulai aku kenal sejak <strong>SMA</strong>. Istilah-istilah itu dulu cukup <strong>kukenang </strong>karena tanpa istilah itu mungkin kami akan sulit <strong>mendeskripsikan royal tidaknya seorang siswa terhadap aturan</strong>.</p>
<p>Aku <strong>menghabiskan 3 tahun</strong> di Lembah Tidar, <strong>Magelang</strong>. Saat awal bersekolah di <a href="http://www.taruna-nusantara-mgl.sch.id"><strong>SMA Taruna Nusantara</strong></a> aku merasa <strong>kebebasanku </strong>dikekang. Bagaimana tidak? <strong>Tiga tahun sekolah</strong> di asrama dengan peraturan yang <strong>mengikat jiwa muda</strong> terasa seperti bayangan <strong>mimpi buruk</strong> sebelum tidur. <span id="more-164"></span>Namun aku <strong>sadar</strong>, setelah <strong>lulus </strong>perasaan itu <strong>tergantikan </strong>dengan <strong>perasaan bangga</strong> dan<strong> terima kasih</strong> yang amat besar. Bahkan sekarang aku (dan seluruh <strong>alumni </strong>tentunya) pasti <strong>ingin sekali kembali</strong> merasakan<strong> jaman-jaman <span style="text-decoration: line-through;">jahiliyah</span></strong>itu. Haha..</p>
<p><strong>Kembali </strong>ke topik awal. Dulu saat kepala sekolah masih dijabat <strong>Bapak Mayjen. Untung Susoro</strong> (dulu Brigjen), saya <strong>terngiang </strong>kata-kata beliau: <strong>&#8220;SMA TN ini seperti miniatur Indonesia&#8221;</strong>. Istilah-istilah idealis, normatif, atau <em>error </em>rasa-rasanya <strong>cocok menggambarkan keadaan di masyarakat</strong>. Mari kita lihat seperti apa <strong>ciri-ciri</strong> ketiganya.</p>
<p><strong>Idealis</strong>. Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan ini adalah orang yang sangat <strong>idealis</strong>. Idealis dalam arti <strong>teguh pendirian</strong> dalam mengikuti peraturan yang berlaku. Tak jarang orang seperti ini <strong>mempengaruhi orang-orang di sekitarnya</strong> untuk mengikuti peraturan. Kalau-kalau saja ada yang <strong>melanggar</strong>, ia berada di <strong>garda paling depan</strong> memperingati si <strong>pelanggar</strong>. Namun kadang sifatnya yang<strong> &#8216;berlebihan&#8217; </strong>dan terkesan <strong>kaku </strong>dalam menaati peraturan <strong>kurang membuat nyaman</strong> orang lain.</p>
<p><strong>Normatif</strong>. Golongan ini merupakan <strong>turunan </strong>dari golongan <strong>idealis</strong>. Orang-orang dalam golongan ini <strong>mengikuti peraturan</strong> seperti biasanya. Namun ia<strong> tidak sekaku</strong> orang-orang tipe idealis. Ia biasanya lebih <strong>fleksibel </strong>dalam <strong>menafsirkan peraturan</strong>. Orang-orang seperti ini biasa <strong>lebih mudah membaur</strong> dengan orang-orang lain.</p>
<p><em><strong>Error</strong></em>. Sudah <strong>dapat ditebak</strong> orang yang tergolong ke dalam kategori ini adalah orang yang sering <strong>membangkang peraturan</strong>. Mereka biasanya masuk ke dalam <strong>&#8216;geng&#8217; kecil</strong> dan  <strong>membentuk komunitasnya sendiri</strong>. Orang seperti ini sebenarnya <strong>terbagi dua</strong>, orang yang mempengaruhi orang lain untuk membangkang peraturan dan yang <strong>hanya melancarkan aksinya bersama komunitasnya sendiri</strong>. Aksi mereka <strong>terbagi lagi</strong>, yang <strong>merugikan </strong>dan <strong>tidak merugikan</strong> orang lain. Mereka juga sering <strong>dihukum </strong>atas kelakuannya. Tidak selamanya mereka <strong>dibenci</strong>, ada juga yang bisa <strong>membaur</strong>. Umumnya yang bisa membaur adalah <strong>mereka yang tidak merugikan orang lain</strong>.</p>
<p>Sekarang coba perhatikan sekeliling lingkungan anda, teman anda, orang-orang yang anda kenal, dan anda sendiri. <strong>Tergolong yang manakah anda?</strong> :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/idealis-normatif-atau-error.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>114</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghargaan untuk Peran yang Terlupakan</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/penghargaan-untuk-peran-yang-terlupakan.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/penghargaan-untuk-peran-yang-terlupakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 16:01:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[alat kebersihan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya berterima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya mengucap terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan pada sesama]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan untuk peran yang terlupakan]]></category>
		<category><![CDATA[peran yang terlupakan]]></category>
		<category><![CDATA[petugas kebersihan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Pagi beberapa hari lalu seperti biasa, aku bersiap untuk pergi. Aku berangkat agak telat karena jadwal tidak ketat. Kusempatkan duduk di depan komputer internetan sambil lihat-lihat berita. Tok tok tok, pintu berbunyi. Seorang tua dengan senyumnya masuk. Ia seorang cleaning service yang tugasnya membersihkan setiap sudut ruangan. Sengaja kugunakan panggilan &#8220;cleaning service&#8221; untuk menghindari kata-kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Alat-Kebersihan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" title="Alat Kebersihan" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Alat-Kebersihan-251x300.jpg" alt="" width="251" height="300" /></a>Pagi <strong>beberapa hari lalu </strong>seperti biasa, aku bersiap untuk pergi. Aku berangkat <strong>agak telat</strong> karena jadwal tidak ketat. Kusempatkan duduk di depan komputer <strong>internetan </strong>sambil lihat-lihat berita. Tok tok tok, <strong>pintu berbunyi</strong>. Seorang tua dengan <strong>senyumnya </strong>masuk.</p>
<p>Ia seorang <strong><em>cleaning service</em></strong> yang tugasnya membersihkan setiap sudut ruangan. <strong>Sengaja </strong>kugunakan <strong>panggilan </strong>&#8220;<em>cleaning service</em>&#8221; untuk <strong>menghindari </strong>kata-kata <strong><span style="text-decoration: underline;">pembantu </span></strong>yang <strong>berkonotasi jelek</strong>. Sebenarnya setiap hari ia datang bekerja saat aku tidak ada, hanya saja pagi itu aku benar-benar melihatnya bertugas.<span id="more-130"></span></p>
<p><strong>CS</strong>: &#8220;Belum berangkat pak?&#8221;</p>
<p><strong>Aku</strong>: &#8220;Belum, lagi liat berita. Indonesia kerjaannya berselisih melulu ya Pak&#8221;..</p>
<p><strong>CS</strong>: &#8220;Oh iya Pak, ga habis-habis.. hehe&#8230;&#8221;</p>
<p><a href="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Surabaya-2009.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-133" title="Surabaya, 2009" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Surabaya-2009-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sambil tertawa kecil, namun <strong>sigap </strong>ia mengayunkan-ayunkan <strong>sulak</strong> (kemoceng) di sekitar mejaku ke sana kemari. Sebentar saja <strong>pekerjaan </strong>awal <strong>membersihkan debu </strong>selesai. Sampah harianku tak lupa diambil, dibuang ke <strong>tong sampah</strong>. Tumpukan barang-barang yang semalam berserakan disusunnya dengan <strong>rapi</strong>, bahkan <strong>kelewat rapi</strong>. Gorden, jendela, kolong meja, semua bersih tak bersisa. Selesai itu ia <strong>menyapu</strong>.</p>
<p>Tak sadar ia <strong>kembali </strong>lagi dengan <strong>alat pel</strong>, <strong>pembersih toilet</strong>, dan semacamnya. Ia mengepel dengan <strong>semangat</strong>. Sesekali ia <strong>bersiul</strong>, tapi mungkin karena ada aku siulannya terdengar <strong>sunyi</strong>. Sepertinya <strong>tak ada beban</strong> mengerjakan tugas ini. <strong>Tugas </strong>yang kata orang &#8216;<strong>rendah</strong>&#8216;. Setiap hari bekerja begitu <strong>tak membuatnya bosan</strong>. Bahkan sesekali ia <strong>menata <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dongeng-pemanasan-global-oleh-bahan-bakar-fosil-dan-penanggulangannya/">tanaman</a></strong><a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dongeng-pemanasan-global-oleh-bahan-bakar-fosil-dan-penanggulangannya/"> </a>dan <strong>memotong daun pohon bonsai beringin</strong> di halaman depan. Aku rasa itu sudah <strong>bukan tugasnya</strong>. Namun sekali lagi, wajahnya seolah <strong>tak ada masalah</strong> dengan itu. <strong>Raut senyumnya </strong>tak dapat kulupakan. Tampak senyum itu sudah lama <strong>terpatri </strong>sehingga tak dapat kubayangkan bagaimana <strong>wajahnya tanpa senyum</strong>. Setauku sudah lebih 10 tahun ia bekerja sebagai <strong><em>cleaning service</em></strong>.</p>
<p>Keesokan harinya aku harus pergi <strong>cepat</strong>. Seperti biasa mungkin <strong>karena berpikir semua akan bersih</strong> setelah aku datang, aku <strong>tinggalkan </strong>&#8216;sampah&#8217; seperti biasa. Barang-barang <strong>tergeletak tak karuan</strong>. Namun alangkah <strong>kagetnya </strong>ketika aku pulang sore hari, <strong>barang-barang itu masih di tempatnya</strong>. <strong>Berantakan </strong>bukan main. Aku sering <strong>makan buah</strong> saat malam, <strong>ampas kulitnya </strong>sudah mengeluarkan <strong>bau</strong>. Kulihat tong sampah di depan, <strong>isinya </strong>masih penuh. <strong>Lalat </strong>mulai <strong>berkerubung</strong>.</p>
<p>Dengan langkah <strong>gontai </strong>karena <strong>cape </strong>aku mulai membersihkannya satu persatu. <strong>Melelahkan </strong>juga ternyata. Tiba-tiba aku <strong>teringat </strong>bapak petugas <strong><em>cleaning service</em>.</strong> <strong>Kalau saja ada beliau</strong>&#8230;</p>
<p>*** <strong>Esoknya </strong>dia datang, aku sudah <strong>bersiap berangkat</strong>.<strong> &#8220;Maaf, kemarin saya sakit</strong>&#8220;. Dengan tulus kuucapkan &#8220;<strong>Terima kasih Pak</strong>&#8230;&#8221; seraya aku berlalu. Sekilas kulihat ia <strong>berhenti bekerja</strong>, <strong>terheran</strong>-<strong>heran</strong>, tatapannya <strong>tertuju lama</strong> melihat kepergianku. <strong>Matanya berkaca-kaca</strong>, mukanya getir <strong>menahan haru</strong>. Di tengah jalan aku berpikir, kata <strong>&#8220;terima kasih&#8221;</strong> itu tak pernah terucap langsung. <strong>Begitu mahal kata itu keluar dari mulut kita, untuk peran yang terlupakan</strong>.</p>
<p><strong>Budayakan mengucap <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya/">terima kasih</a>!! :)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/penghargaan-untuk-peran-yang-terlupakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Orang Kakek di Ujung Hidupnya</title>
		<link>http://www.wahyu.web.id/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya.html</link>
		<comments>http://www.wahyu.web.id/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 14:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Reza Prahara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cerita seorang kakek]]></category>
		<category><![CDATA[durian]]></category>
		<category><![CDATA[menanam buah durian]]></category>
		<category><![CDATA[menanam jeruk bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.wahyu.web.id/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Di samping sebuah rumah kecil seorang kakek asyik mencangkul lubang. Lubang itu tak dalam, paling-paling cuma sedalam hasta, setengah meter. Rumah Kakek Ali kecil, namun pekarangannya luas. Banyak sekali pohon berbuah yang rindang-rindang. Setiap tahun ada saja yang berbuah. Entah durian, mangga, jambu, kedondong, bahkan rambutan. Sang Kakek sangat asyik mencangkul, saat seorang kakek datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-111" href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya/attachment/jeruk-bali/"><img class="alignleft size-full wp-image-111" title="Jeruk Bali" src="http://www.wahyu.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Jeruk-Bali.jpg" alt="" width="227" height="170" /></a>Di samping sebuah<strong> rumah kecil</strong> seorang kakek asyik <strong>mencangkul lubang</strong>. Lubang itu <strong>tak dalam</strong>, paling-paling cuma sedalam hasta, setengah meter. <strong>Rumah Kakek Ali kecil</strong>, namun pekarangannya <strong>luas</strong>. Banyak sekali pohon <strong>berbuah </strong>yang rindang-rindang. Setiap tahun ada saja yang <strong>berbuah</strong>. Entah <strong>durian</strong>, <strong>mangga</strong>, <strong>jambu</strong>, <strong>kedondong</strong>, bahkan rambutan.</p>
<p>Sang Kakek sangat asyik <strong>mencangkul</strong>, saat seorang kakek datang <strong>menggeleng-gelengkan kepalanya</strong> di samping pagar. Kakek Ali <strong>tersenyum </strong>padanya, menyapa sambil tetap <strong>mencangkul</strong>. Matahari hampir mencapai puncak, tegak di atas kepala. Seseekali <strong>Kakek Ali </strong>menyeka keringat di dahinya. <span id="more-110"></span>Namun, tak tampak sedikitpun <strong>semangatnya </strong>pudar. <strong>Kakek Suh</strong> yang dari tadi berdiri di pagar pun tak kuat lagi menahan <strong>mulutnya </strong>untuk berkicau.</p>
<p>Kakek Suh: Hey Ali, tak <strong>capekkah </strong>kau? Apa yang kau lakukan? Sudah siang begini, masih saja kau <strong>sibukkan </strong>diri kau itu dengan <strong>mencangkul</strong>.</p>
<p>Kakek Ali: Aku mau <strong>menanam </strong>jeruk bali Suh.</p>
<p>Kakek Suh: (sambil <strong>tertawa keras</strong>)&#8230; Ada-ada saja kau Ali, kau buat aku tertawa <strong>terbahak</strong>-<strong>bahak</strong>. Kau tau, umurmu sudah 82 tahun bulan depan. Aku pun juga. Kukira kau <strong>pintar</strong>. Dulu sejak sekolah di Sekolah Rakyat, kau yang paling <strong>pintar</strong>. Tapi, <strong>bodohnya </strong>kau ternyata. Jeruk bali itu kau tanam sekarang, kapan kau bisa <strong>makan </strong>buahnya? Paling-paling tak sampai 5 tahun lagi kita sudah menghadap sang Khalik. <strong>Bodoh </strong>kali kau Ali..</p>
<p>Dengan <strong>tenang </strong>dan <strong>mimik </strong>tetap tersenyum <strong>Kakek Ali</strong> menjawab dengan sabar.</p>
<p>Kakek Ali: Suh, kau kan <strong>tetanggaku</strong>. Kau suka <strong>durian </strong>tidak?</p>
<p>Kakek Suh: Ya <strong>suka </strong>lah. <strong>Pura-pura</strong> tak tau ya? Masa <strong>kau </strong>tak ingat, waktu kecil dulu setiap ada <strong>durian </strong>jatuh kan aku yang selalu bela-belain <strong>ambil</strong>. Sampai <strong>sekarang </strong>pun, pohon durian di belakang rumahku itu tak henti-hentinya <strong>berbuah</strong>. Tak bosan-bosan aku <strong>makan </strong>buah durian itu. <strong>Rasanya</strong> persis seperti kita saat masih kecil.</p>
<p>Kakek Ali: (sambil tetap tersenyum).. Suh, kau pasti tau <strong>siapa yang menanam </strong>pohon durian itu yang sudah berdiri kokoh sejak kita kecil kan? Aku menanam pohon ini untuk <strong>anakku </strong>agar mereka bisa <strong>memakan buahnya</strong>, untuk <strong>cucuku agar mereka tak melupakanku</strong>. Untuk <strong>generasi penerusku, agar mereka dapat manfaat dari pohon ini</strong>.</p>
<p>Kakek Suh <strong>terdiam</strong>. Ia <strong>menatap </strong>langit dengan tajam. Ia teringat hal yang selalu dibanggakannya sejak kecil, yaitu <strong>almarhum ayahnya</strong> yang telah menanam pohon durian, buah kesukaannya. Tiba-tiba air matanya <strong>menetes</strong>.</p>
<p><strong>* Cerita untuk Kakekku Ali, maaf aku tak bisa datang saat engkau dipanggil yang Maha Kuasa. Maafkan aku Kakek&#8230; :(</strong></p>
<p>Semoga kita semua <a href="http://www.wahyu.web.id/artikel/dongeng-pemanasan-global-oleh-bahan-bakar-fosil-dan-penanggulangannya/">sadar</a>, apa yang kita lakukan hari ini akan dipetik oleh anak-anak kita di kemudian hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.wahyu.web.id/dua-orang-kakek-di-ujung-hidupnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

