Ternyata Begitu Rasanya Dikejar Hantu

Sebelumnya, silakan salahkan Warmorning jika kali ini kisah yang dibagikan agak nyerempet soal mistis. Itu, jika Anda takut. Mendadak teringat kisah ini memang berkat ceritanya Warm, antara perjalanan beliau itu pada suatu tengah malam dan hubungannya dengan sebuah lagu milik The Panasdalam yang berjudul Rintihan Kuntilanak.

Kecil dulu, jamannya masih senang-senangnya mainan sepeda (BMX), jadilah kami yang masih anak-anak di lingkungan rumah ini gemar bersepeda. Bahkan malam juga, yang biasanya kami ngumpulnya selepas isya. Selain buat dikayuh dan jalan kesana kemari sebagaimana biasanya, sekali waktu pernah pula kami bermain dikejar hantu dengan menggunakan sepeda.

Dulu sekali, perumahan ini memang terhitung menjadi salah satu ujung Kota Banjarbaru. Kini sih sudah tidak lagi. Jadilah dulu itu kalau malam suasana lebih gelap dan sangat sunyi. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang ada sekarang ini.

Ilustrasi Anak Kecil Kebut-Kebutan Pakai Sepeda
Gambar :  thetoddanderinfavoritefive.com

Kami, yang masih anak-anak itu, dan lagi senang-senangnya bermain, pada suatu malam bersepakat. Untuk bermain dan dikejar hantu. Sudah lupa lagi berapa orang yang ambil bagian dalam permainan tersebut. Jelas sih ada beberapa orang, dengan sepeda masing-masing. Kalau tak salah ingat sepeda saya dulu itu Olympic, warna kuning emas. Hadiah dari Datuk. Dan, pretelan.

Malam itu kami bersepakat, untuk secara bergantian mengitari komplek. Tepat pada salah satu belokan, yang dekat dengan hutan, kami harus membayangkan, bahwa sedang diikuti hantu. Bentuk hantunya terserah mau macam apa, tapi menyeramkan. Mungkin rata-rata dalam bayangannya kami saat itu adalah sosok yang nampak berpakaian putih lecek, jelek, dan lain-lain yang tidak ada bagus-bagusnya. Tentu saja, tidak menginjak tanah.

Satu demi satu dari kami mengayuh sepeda. Perlahan saja awalnya, sampai kemudian menghilang dari pandangan sebab memang sedang mengitari komplek. Sampai pada satu tikungan, muncul lagi terlihat. Kali ini, tidak lagi perlahan, tapi semua yang terlihat sudah mengayuh sepedanya kuat-kuat. Ngebut sengebutnya. Sayanyapun begitu, sama dengan kawan-kawan lainnya.

Bagaimana tidak takut dan ngebut, malam-malam sepi dan gelap, saat melewati hutan malah yang dibayangkan adalah sedang diikuti dan dikejar hantu. Entahlah siapa lupa lagi yang punya ide cerdas mengekplorasi perasaan takut macam itu. Hanya saja waktu itu jadi tahu, ternyata begitu rasanya kalau dikejar hantu.

Komentar

Posting Komentar