Kurangilah Berbagi di Media Sosial!

Pada beberapa hari ini menemui kejadian yang sama terkait dengan penggunaan media sosial. Sebuah barang lama sebenarnya. Hanya saja peristiwa macam ini selalu berulang atau selalu saja terjadi. Pertama, pada beberapa hari lalu dihubungi oleh seorang kenalan lama yang beliau minta tolong untuk dihapuskan akun facebooknya. Hapus permanen. Permintaan yang kemudian langsung saja saya lakukan.

Kemudian pada kesempatan yang sama, beliau juga menginformasikan bahwa melihat atau menemukan sebuah akun facebook yang menggunakan nama serta foto beliau. Sementara jelas, beliau katakan tidak pernah membuat akun tersebut. Tentu saja kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukan oleh si pembuat akun palsu tersebut. Sementara pada prinsipnya, sangat ada kemungkinan akan merugikan si "orang asli". Terlebih lagi beliau adalah seorang kepala badan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Peristiwa kedua adalah kemarin. Membaca posting salah seorang anggota DPRD Kota Banjarbaru yang menyampaikan pemberitahuan dan penegasan bahwa beliau tidak memiliki akun facebook lain selain dari pada yang digunakan itu. Melalui postingnya, beliau menyampaikan juga menemukan sebuah akun yang menggunakan nama dan foto beliau.

Kurangilah Berbagi di Media Sosial
Kurangilah Berbagi di Media Sosial
(Gambar: www.jsums.edu)

Bagaimana?
Sudah akrab sekali dengan dua contoh kejadian di atas? Ya, hal tersebut memang sudah jamak terjadi. Untuk masyarakat umum saja hal tersebut sangat berpotensi merugikan, apalah lagi untuk mereka yang menyandang status figur publik, pada tingkat manapun. Sebab bagi figur publik, potensi kerugian akan ada dua, yakni pada yang bersangkutan dan pada orang lain.

Karena itulah, kerap kali sudah menyampaikan pada kawan-kawan, untuk mengurangi berbagi di media sosial. Maksud dikurangi dalam hal ini adalah untuk berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi. Selain itu, juga perlu untuk diperhatikan beragam pengaturan serta bagaimana sesuatu itu dibagikan. Karena di internet, begitu banyak peluang atau kemungkinan yang bisa terjadi, dan data begitu penting. Senang hari ini, pening dan menyesal besok nanti. Bisa jadi.

Kali lain pernahpun menyampaikan pada seorang kawan, agar berhati-hati dan kalau bisa dihentikan saja membagikan foto anaknya yang masih kecil. Mungkin lucu dan menyenangkan melihat foto anak-anak. Namun, selama tidak bisa memastikan bahwa diantara mereka yang ada dalam lingkaran pertemanan kita bukanlah seorang "predator anak", maka lebih baik jangan bagikan foto anak. Kasihan mereka nanti. Sayangi anak-anak.

Saya sendiri mungkin termasuk terbatas dalam menggunakan media sosial. Selain terbatas jenis layanan media sosial yang digunakan, juga terkait apa-apa yang dibagikan. Kinipun, saya sudah tidak lagi mengunggah foto kawan-kawan melalui medsos. Bahkan, foto yang sudah terunggah sudah saya hapuskan. Karena saya tidak tahu bagaimana mereka mengatur akun media sosialnya, dan saya tidak ingin apa yang saya unggah akan merugikan mereka pada suatu ketika nanti.

Bagaimana dengan yang sedikit-sedikit posting, sebentar-sebentar update, apa harus dikurangi juga? Owh... itu substansi yang berbeda. Sekali lagi, maksud utama atau substansi dikurangi di sini adalah tentang data pribadi. Kalau soal update mania, itu soal lain. Kalau bisa biarkan saja, mungkin mereka jadi senang. Kasihan kan kalau kesenangannya diganggu? Tinggal kitanya saja bagaimana mensikapi. Toh ada solusi praktis untuk hal-hal macam itu.

Komentar