Festival Sya'ban Banjarbaru Gantikan Festival Tanglong

Beberapa waktu lalu Kota Banjarbaru dikenal dengan penyelenggaraan Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur pada setiap bulan Ramadhan. Agenda yang sempat dilaksanakan selama beberapa waktu tersebut akhirnya dihentikan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru karena kuatnya desakan dari berbagai unsur masyarakat Banjarbaru. Memang, saya termasuk yang mensyukuri hal tersebut. Bahkan sejak 2012 lalu sudah menyuarakan penghentian festival tanglong.

Namun tidak sebatas penghentian tersebut. Melalui tulisan yang menyuarakan penghentian festival tanglong, telahpun saya sebutkan sebuah kegiatan yang mungkin bisa menjadi pengganti. Yakni dengan apa yang dinamakan: FESTIVAL SYA'BAN. Sebuah pemikiran yang cukup lama tersimpan.
Kali ini, pada penghujung bulan Sya'ban 1437 H, baiklah sebagian dari pemikiran tersebut saya buka dan sampaikan. Memang bukan untuk tahun ini, namun siapa tahu dapat menjadi ide untuk tahun berikutnya.
Festival Sya'ban, Apakah Itu?

Secara prinsip, Festival Sya'ban Banjarbaru adalah kegiatan yang miliki rangkaian acara didalamnya dan dilaksanakan untuk menunjukkan kegembiraan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Suka cita yang melibatkan sebanyaknya unsur masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Sesuai dengan namanya, maka tentu festival ini dilaksanakan pada bulan Sya'ban.

Festival Sya'ban Banjarbaru untuk menyambut datangnya Ramadhan
Festival Sya'ban Banjarbaru untuk menyambut datangnya Ramadhan

Kemudian, berikut ini adalah beberapa prinsip dasar pelaksanaan:
  1. Melibatkan seluruh unsur masyarakat Kota Banjarbaru. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan dan kemeriahannya benar-benar menjadi milik warga Kota Banjarbaru. Untuk mewujudkannya adalah melalui sebuah kreasi acara/kegiatan yang menggunakan pendekatan kewilayahan.
  2. Melibatkan seluruh rentang usia. Ya... karena suka cita Ramadhan sudah seharusnya menjadi milik semua umur, langsung maupun tidak langsung. Untuk ini, sangat mungkin disusun kegiatan-kegiatan berdasar kelompok umur, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
  3. Unsur kegiatan tambahan. Untuk hal ini, memang lebih bersifat khusus, menjadi penyemarak tambahan. Bahkan mungkin saja tanglong ikut dilaksanakan pada bagian ini, sehingga tetap tidak pada bulan Ramadhan. Unsur ini adalah dimaksudkan sebagai nilai tambah, yang bisa melibatkan unsur lain di luar Kota Banjarbaru, dan bisa dijadikan tujuan wisata juga kalau mau.
Dari ketiga prinsip dasar tersebut diatas saja, sudah begitu banyak kegiatan yang bisa dikreasikan. Itu kalau mikir. Sebab poin-poin di atas itu sekedar stimulus yang harusnya sih sudah bisa membuka pikiran dan memunculkan ragam ide. Kalau saya memang sudah punya banyak idenya, sebab ini memang pikiran yang sudah lama tersimpan.

Terakhir, untuk pelaksanaan tidak mesti Pemerintah Kota Banjarbaru yang menjadi pelaksana semuanya. Pemko bisa laksanakan agenda-agenda utama saja. Organisasi kemasyarakatan bisa didorong untuk urun serta memeriahkan dengan kegiatan yang mereka konsep sendiri, namun diikutsertakan dalam rangkaian kegiatan yang sama.

Bagaimana? Sudah mulai terbuka?

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!