Beli Bunga Bonus Comblang

Berawal dari duduk-duduk di teras rumah adik, sembari menunggu ibu untuk kemudian mengantarkan beliau. Ini mata jelas melihat dan memperhatikan bahwa ternyata adik sudah mulai menanam beberapa bunga pada halaman rumahnya. Jadilah bertanya-tanya padanya. Iapun menjawab. Untuk soal tanaman, memang adik jauh lebih faham. Bahkan kecilnya dulu, sewaktu SD, ia pernah marah gara-gara pohon yang ditanamnya harus dipindah. Karena ia menanam pohon persis di samping rumah, hampir dempet dinding. Dan itu adalah pohon durian!

Bersamaan dengan selesainya adik bercerita, yang salah satunya adalah tempat ia membeli bibit itu tanaman, ibu juga sudah siap untuk pergi. Rumah adik dan rumah orang tua kami memang bersebelahan persis. Sehingga sekali datang, bisa ketemuan satu paket. Ibu yang sudah siap, jadilah meluncur mengantarkan ibu pergi, ke tempat yang beliau tuju. Di jalan, bilangpun kepada ibu, "Ma, nanti pulangnya mau beli bunga aja sekalian. Mau tanam-tanam."

Sepulangnya dari mengantar ibu, dan sendirian, karena ibu akan pulang bersama keluarga yang lain, jadilah mampir ke tempat penjual bunga. Tempat yang kata adik lebih miring harganya. Begitu masuk dan parkir, langsung terjumpa dengan seorang pria yang tengah melakukan apa yang dilakukannya. "Oh, mungkin ini adalah pemiliknya," demikian batin saat itu berkata.

Singkat kisah, setelah cuap-cuap dan lihat-lihat, pilihan jauh kepada beberapa batang tanaman. Setelah tawar menawar harga pas, jadilah kemudian lelaki itu membantu memasukkan tanaman-tanaman itu untuk dibawa pulang. Ke tanah yang baru dimana mereka akan diharapkan tumbuh dan berkembang.

Hanya saja, sembari memasukkan tanaman itu, si lelaki berucap tanya, "Sudah berkeluarga, Mas?" Lah, apapula ini, sebelumnya tak ada sedikitpun bicara soal lain selain tanaman, mendadak saja dapat pertanyaan itu. "Memangnya kenapa?" Hanya itu sementara jawaban yang diberikan.

Beli Bunga Bonus Comblang © wahyu.web.id
Bunga Bonus Comblangan yang Langsung Ditanam
Lelaki itu menyambung, "Nggak aja, kalau belum. Kebetulan ada cewek, Mas." Walah... tawaran ini semacam bagaimana rasanya. Kemudian ia terus menyambung, "Itu, bos yang punya, single. Siapa tau...", demikian katanya sambil berisyarat menunjuk ke arah seorang perempuan muda yang sedang berjalan. Sayapun refleks melihat ke arah dimaksud. Oh iya, benar, perempuan.

Langsung sadar kemudian, ternyata lelaki itu adalah pekerja di sana dan nampaknya sedang berusaha mencarikan pasangan buat bos-nya. Semacam menjadi Pak Comblang. Tentulah, yakin saja bahwa itu bukan sebuah teknik marketing gaya unik. Lihat saja niat baiknya. Sehingga, jika saja (yang saya tak pernah tahu) sang Mbak Bos baca ini, dan faham maksudnya, beruntung Anda miliki rekan kerja yang pedulian.

Tapi nampaknya si lelaki itu usil juga, sebab bilang sambil tersenyum, "Godain aja, Mas...." Sayapun tertawa dan bilang, "Ah, saya ini cuman rambut yang gondrong, Mas. Gak bisa godain perempuan, dan memang tak terbiasa."  Mmm.... khusus untuk soal ini, tolong tidak usah dipertanyakan apalagi diperdebatkan. Masih banyak hal lain yang lebih krusial dan lebih layak dibahas, semisal kenaikan harga bahan pangan, dan lain-lain. Percayalah.

Hanya saja, malam ini, sembari memandang tanaman yang tadi sore sudah selesai di tanam (dan masih kurang beberapa batang lagi itu), jadi terpikir satu hal, masih terkait kejadian tadi itu, yakni: "Ternyata beda antara rezeki dan godaan itu sangat tipis". Dan, saya belum berkesimpulanpun, apakah itu rezeki, ataukah godaan.

Komentar