Jangan Tutup Banjarbaru dengan Besi & Beton

"Jangan tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Kita masih perlu tanah dan pepohonan". Ya... itulah pesan yang terdapat pada kepala halaman yang digunakan blog ini. Pesan yang sama juga digunakan pada sebuah cover atau poto sampul layanan jejaring sosial yang digunakan. Rasa-rasanya, itu sebuah pesan yang sederhana, dan sangat jelas maksudnya.

Kalimat pesan yang pertama kali disampaikan beberapa bulan lalu itu pada awalnya memang lahir dari sebuah optimisme, namun juga ada kekhawatiran. Optimis, karena Kota Banjarbaru, tempat tinggal ini, akan berkembang pesat. Optimisme tersebut lahir bukan karena semata unsur subyektif, namun juga didukung oleh kenyataan di lapangan.

Jangan Tutup Banjarbaru dengan Besi dan Beton! © wahyu.web.id
Jangan Tutup Banjarbaru dengan Besi dan Beton!
Pada sisi lain, perkembangan pesat Kota Banjarbaru juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Mungkin, kekhawatiran yang sama pernahpun dituliskan lebih dari 7 (tujuh) tahun lalu, saat mempertanyakan: Haruskah mereka pindah ke jalan?

Pembangunan -dalam konteks fisik- bagaimanapun memerlukan ruang. Saat ini Banjarbaru memang masih memilikinya. Namun juga tidak dapat dipungkiri, perlahan namun pasti ruang itu akan habis. Ambil saja contoh kawasan Banjarbaru Utara. Berapa banyak sisa ruang yang tersisa untuk pembangunan baru di sana? Bahkan saya begitu meyakini, pembangunan pesat yang terjadi di sejumlah titik di wilayah kabupaten tetangga itu adalah karena desakan pembangunan yang terjadi di Kota Banjarbaru.

Untungnya, Kota Banjarbaru ini miliki kebijakan yang dulu sempat diributkan oleh salah satu kementerian. Kebijakan tentang luasan kapling perumahan itu adalah contoh yang dimaksud. Karena sebelum kebijakan tersebut muncul, kebetulan memang sudah ngobrol-ngobrol betapa perlunya Banjarbaru ini menghindari kumuh beton. Tentu saja, ini baru salah satu hal yang diperlukan. Kita perlu hal lainnya lagi.

Pembangunan, memang sesuatu yang tak bisa dihindari atau dilawan. Tapi setidaknya Pemerintah Kota Banjarbaru memiliki otoritas untuk melakukan pengaturan. Karena warga Banjarbaru ini bagaimanapun akan tetap memerlukan ruang-ruang terbuka yang nyaman, anak-anak akan memerlukan ruang dan tempat bermain yang menyenangkan. Pepohonan di Banjarbaru juga selalu perlu tempat dan ruang untuk tumbuh berkembang. Bukankah lingkungan yang hijau itu menyenangkan? Serta tentu, masih sangat banyak hal lainnya.

Masih banyak sebenarnya yang ingin dituliskan soal ini. Bahkan tanpa harus menjadi seorang "aktivis lingkungan", setiap warga Banjarbaru sudah semestinya miliki kepedulian. Serta, jangan pula semua hal ditimpakan kepada pemerintah. Ini sesuatu yang bisa dimulai dari lingkungan rumah sendiri. Misalnya saja: berapa banyak pohon yang sudah ditanam di sekitar rumah kita?

Karenanya, ini permohonan pribadi yang sangat sederhana: "Jangan kita tutup Banjarbaru dengan besi dan beton. Sebab kita akan selalu memerlukan tanah dan pepohonan". Bahkan paling tidak, setiap kita akan memerlukan sedikit ruang di bumi ini untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir. (Ref. Banjarbaru Perlu TPU Baru, 2008)

Sudahlah, hari menjelang sore. Hujan baru saja reda yang entah apakah semua wilayah di Banjarbaru merasakannya. Ini ditulis, saat mangga di depan rumah sudah kembali munculkan bunga-bunga, yang kemudian sebagian sudah menjadi buah yang masih kecil.

Komentar