Tanggapan Atas 100 Hari Kepemimpinan Nadjmi-Jaya di Banjarbaru

Melalui sebuah kiriman pada jejaring sosial Facebook, seorang kawan menandai pada sebuah tautan dengan sembari bertanya, "Tolong masukan dan penjelasan julak untuk banjarbaru tercinta kita". Tidak ada orang lain yang ditandai, ya berarti hanya saya yang dimaksudkan untuk itu.

Tautan dimaksud adalah sebuah berita pada salah satu media online yang secara prinsip menyoroti kinerja 100 hari Pasangan Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani dan Darmawan Jaya Setiawan yang terpilih pada Pilkada Kota Banjarbaru 2015 lalu. Sebagai sumber berita yang menyampaikan statement atau pernyataan adalah salah seorang Ketua RT di Kecamatan Landasan Ulin, serta seorang akademisi.

Pasangan Nadjmi-Jaya saat mengikuti Debat Pilkada 2015
Pasangan Nadjmi-Jaya saat mengikuti Debat Pilkada 2015
Karena hal ini mungkin menarik, karenanya tanggapan atau jawaban saya pada pertanyaan itu kembali saya tuliskan pada blog ini. Tentu saja dengan sedikit penyesuaian, yakni pada pilihan kata, yang aslinya beberapa kata menggunakan bahasa daerah, diganti dengan bahasa Indonesia, sekalipun penduduk Uganda masih akan tetap kesulitan memahaminya, karena mereka tidak menggunakan Bahasa Indonesia.

Selain itu, pada laman ini juga diberikan penjelasan tambahan atas jawaban yang diberikan. Tambahan tersebut berada di setiap bawah bagian kutipan, yang merupakan jawaban awal.
Pertama, karena bukan saya yang menyatakan, maka tentu saya tak bisa menjelaskannya, biarlah itu menjadi urusan yang membuat pernyataan. 
*Ya, kalau soal jawaban pertama ini sudah sangat jelas, tidak perlu diperjelas.
Kedua, sekalipun tidak ada larangan untuk menyampaikan pendapat secara terbuka tentang hal ini (karena ini bukan tentang sikap politik), namun tetap saja lebih baik untuk tidak menyampaikan soal opini secara terbuka tentang hal ini. Biar publik yang menilai langsung.
** Untuk ini, bagaimanapun Walikota dan Wakil Walikota adalah jabatan politik, sehingga lebih memilih untuk tidak menyampaikan komentar. Urusannya bisa bisa DKPP kalau ini :).
Ketiga, dari dulu dan sampai kapanpun, saya tak pernah suka dengan yang namanya program 100 hari, atau apapun istilah yang merujuk pada hal sejenis.
Terakhir, pasangan Nadjmi & Jaya sudah miliki visi dan misi. Maka laksanakanlah itu dalam waktu 5 (lima) tahun ini. Jika bisa melakukan akselerasi, maka itu tentu lebih baik.
***Nah, untuk jawaban ketiga serta terakhir, ini memang saling terkait. Dan benar, dari dulu saya memang tak pernah peduli dengan itu soal 100 hari, apapun istilahnya. Sebab pasangan walikota dan wakil walikota itu dipilih untuk bekerja selama 5 (lima) tahun pada satu periodenya. Sehingga, jangankan walikota, untuk gubernur dan presiden saja saya tak pernah ambil pusing soal 100 harian. Walau tentu, untuk hal ini setiap orang dapat memiliki pandangan masing-masing.

_______

Demikian jawaban yang disampaikan, dan dengan disertai sedikit penjelasan atau penegasan tambahan. Namun tentu, selain itu ada hal-hal lain yang bisa dan akan disampaikan, yaitu:

Bahwa masyarakat Kota Banjarbaru telah berdemokrasi dengan sangat baik. Seluruh proses berjalan dengan lancar. Rasa-rasanya semua unsur di Kota Banjarbaru juga sudah sangat memahami bahwa kontestasi telah usai. Kita semua sudah memulai menatap ke depan dan terus bergerak demi kepentingan kota dan masyarakat Banjarbaru.

Nyatanya, secara pribadi saya juga adalah penduduk Banjarbaru, kota yang kecil tapi genit. Adalah sah dan wajar saja jika sebagai warga berharap kepemimpinan Nadjmi-Jaya akan membawa manfaat bagi semua. Pada pundak "pasangan anum" inilah sekarang terletak kewajiban pengendalian pembangunan di Kota Banjarbaru. Sementara seluruh unsur lain hanya bisa membantu dan mendoakan. Juga mengawasi.

100 hari? 500 hari? Atau mau berapa haripun tidak akan jadi soal. Masyarakat pasti akan terus menunggu realisasi visi dan misi serta janji walikota dan wakil walikota. Itu wajar. Sebab saat ini adalah saat untuk bekerja dan membuktikan. Tiada lain.

Semoga sukses.

Komentar