Mas, Mudahan Hujan Ya....

Pada saat tulisan ini dibuat, sore Sabtu di Banjarbaru, dengan suhu menunjukkan angka 35°C. Setidaknya itu menurut layanan Menurut AccuWeather. Mencoba cari tahu ke sana karena kini tak lagi punya termometer ruangan yang dulu pernah tertempel di dinding. Di luar rumah memang terasa begitu terik. Hanya saja mendadak teringat sebuah kejadian kecil di kampus dulu.

Mudahan Hujan, Mas..

Di kampus dulu, tepatnya di fakultas kami, biasanya ada seorang bapak yang jualan bakso. Beliau jualan keliling, dengan sebuah pemikul dagangan. Rutin datang ke tempat kami, dan biasanya mangkal di depan ruangan sekretariat-sekretariat himpunan dan organisasi mahasiswa.

Setiap hari terasa begitu panas dan terik, beliau selalu saja mengucapkan doa dan harapan yang sama, dan bilang padaku -jika kebetulan bertemu-, katanya, "Mas, mudahan hujan ya". Itulah yang beliau bilang tak hanya sekali dua.

Sebuah doa yang mungkin sesuai saja dengan keinginan beliau. Sebab kalau hujan, bakso yang menjadi dagangan beliau diduga akan laris. Karena kondisinya akan pas dengan hujan, di Malang pula.

Hanya saja, biasanya setelah beliau berucap seperti itu, kubilang pada beliau, "Iya, Pak. Cuma kita belum dengar bagaimana doanya yang jualan es. Mungkin mereka minta agar tetap panas begini".

Walau sebenarnya ada beberapa pelajaran yang kuambil dari berkali-kali dialog yang sama dengan beliau, namun kali ini hanya diceritakan soal itu. Selebihnya adalah soal hikmah yang kupikir keren. Tapi biarlah, itu dulu.

Komentar

  1. subhanallah, ini sih postingan ttg hakikat syukur! saya cuma bisa, nganu, sungguh, ini keren..

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!