Preman Pensiun dalam Pilkada 2015

Sebagai orang yang amat sangat jarang nonton sinetron pada tv nasional, sebenarnya dapat dikatakan cukup telat juga mengetahui adanya sebuah sinetron berjudul Preman Pensiun. Itupun tahunya setelah beberapa kawan menceritakan, lalu kemudian penasaran. Hingga kemudian coba menontonnya, dan ternyata suka. Bukan hanya soal romantisme pribadi dengan Bandung, tapi soal cerita dan isinya.

Memang dikisahkan, bahwa Kang Bahar (Didi Petet) dan Kang Muslihat (Epy Kusnandar) beserta seluruh pendukungnya itu, menjalankan bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik. Namun nyatanya bagiku, banyak pesan-pesan bagus disampaikan dalam perjalanan kisahnya.

Tapi, tentu saja kali ini tidak akan bercerita atau mengulas tentang kisah Preman Pensiun ini. Sebagaimana judul tulisan Preman Pensiun dalam Pilkada 2015, maka sudah barang tentu akan ada kaitannya dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2015 yang akan diselenggarakan secara serentak oleh ratusan daerah di Indonesia.
Apa pula hubungannya antara Preman Pensiun dan Pilkada?
Tentu saja, aku tidak mengatakan tentang ada tidaknya preman yang akan mencalonkan diri atau dicalonkan sebagai kepada daerah dalam Pilkada 2015 mendatang. Bukan tentang hal yang tak kuketahui itu.

Namun, semua juga tahu, bahwa dalam Pilkada, kita akan memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah, kita akan pilih gubenur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, atau walikota dan wakilnya. Semua adalah orang-orang yang akan menjadi pemimpin masyarakat di wilayahnya. Akan menjadi orang yang di atas.

Karena itulah, kuteringat pada pesan Kang Bahar, yang katanya:
Kita ada di atas bukan karena kita mau,
tapi karena orang lain menerima.
Sebuah dialog yang dalam dan begitu luar biasa. Setidaknya kupikir begitu. Karenanya, bagi siapapun yang akan menjadi calon kepala daerah, mungkin silakan berpikir dan merenung. Jika kelak terpilih dan menjadi di atas, itu bukanlah karena Anda yang mau, tapi karena orang lain atau masyarakat yang mau menerima Anda.

Sekarang kita tahu, siapa yang sesungguhnya hebat: Masyarakat!

Komentar

  1. berarti kita seperti ini karena orang lain mau! bukan begitu

    BalasHapus
  2. bahwa bukan semata karena kita sendiri, selalu saja ada keterlibatan orang lain, dalam bentuk apapun. mungkin demikian.

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru