Hal-Hal Menyebalkan di Jalan Raya

Ini sudah lama tersimpan dan hanya selalu tersampaikan kepada kawan² secara lisan, bahwa ada kebiasaan sebagian pengguna jalan yang begitu menyebalkan. Setidaknya bagiku dan tentu ini adalah jalan umum, semisal jalan raya. Namanya juga sudah jalan umum, maka penggunanya sudah jelas adalah orang banyak. Berbagai kalangan, berbagai jenis kendaraan dan berbagai sikap juga sifat.

Jalan umum/raya yang dimaksudkan pada tulisan ini adalah juga jalanan yang sering kulalui, utamanya ruas jalan antara Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin. Karena pada dua wilayah inilah saya yang paling sering beredar.

Jika kemudian ada kesamaan nasib dengan kondisi jalan & penggunanya di daerah lain, maka yakinlah, -seperti biasanya- itu tentu adalah ketidaksengajaan belaka.

Dan... inilah beberapa di antaranya yang dimaksudkan:

Klason di Lampu Lalu Lintas
Lampu hijau yang baru menyala, kerap kali langsung disusul oleh suara klakson dari arah belakang. Mungkin yang berperilaku begitu merasa lampu lalu lintas itu adalah seperti halnya lampu tanda start kalau lagi balapan GP atau F1.

Apa susahnya menunggu sejenak, untuk orang lain yang kebetulan ada didepannya mengatur persneling, kopling, dan lain sebagainya untuk kemudian jalan?

Memberikan Kesempatan di U-Turn
U-Turn adalah tempat untuk memutar balik yang ada di media jalan itu. Apa susahnya memberikan kesempatan kepada mereka yang akan memutar? Toh tidak makan waktu seharian. Karena itulah, hal yang kugemari adalah jika melihat di belakang banyak rentetan kendaraan lain, sementara ada yang akan memutar, maka dengan sengaja akan berhenti untuk memberikan kesempatan untuk memutar pada orang lain. Marahkah yang di belakang? Abaikan saja.

Kalau lagi di Bundaran
Nah, kalau yang ini bukan semata-mata soal aturan. Karena aku yakin sangat banyak yang masih belum tahu bahwa aturan jika di bundaran adalah harus mendahulukan kendaraan yang datang dari sebelah kanan kita. Ya, memang begitu aturannya di UU lalu lintas. Tapi soal ini, sudahlah... aku sendiri memang termasuk kelompok manusia yang kurang suka bundaran ada di jalan raya, gampang pusing karenanya. Mungkin sudah nasib yang tak berjodoh dengan bundaran.

Apalagi?

Entahlah, sementara itu dulu yang terlintas dan selama ini terasa, walau masih banyak lagi, semisal kalau ada yang hobi membuat aturan sendiri tentang lampu pengatur lalu lintas.

Karena melihat bentuk persimpangannya macam apa, lantas memutuskan sendiri untuk langsung jalan saja sekalipun lampu berwarna merah. Padahal dari sisi aturan sekarang, bila lampu merah menyala, maka wajib untuk berhenti untuk ke semua arah, terkecuali ada petunjuk lain yang menyatakan/mengatur sebaliknya pada persimpangan yang bersangkutan.

Tulis-tulis... memangnya seberapa banyak orang yang betul-betul mempelajari aturan berlalu lintas?

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru