Pilpres 2014: Sebaiknya Memilih Siapa?

Banjarbaru jelang sore. Waktu itu. Sebuah dapur tempat di mana aku membuat segelas teh panas saat kejadian berlangsung. Teh panas yang manisnya secukupnya. Ya... manis secukupnya saja. Bukan sebab soal diabetes atau penyakit gula. Sebab seringkali kalau minum di warung aku juga mengatakan hal yang sama saat pesan minuman. "Es jeruk. Manis secukupnya saja, yang penting setia". Kalau sudah pesan begitu, seringkali yang jual akan agak blank sejenak. Lalu tersenyum.

Ini memang persoalan terkait Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014 (sebut saja Pilpres 2014, bukan singkatan sebenarnya). Prabowo Subianto-Hatta Rajasa berhadapan dengan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kawan-kawan tentu sudah mafhum mengenai ini. Bukankah beritanya sudah begitu mengharu biru?

Pilpres 2014
Sore yang saat itu tengah kuseduh teh pada sebuah cangkir (tidak penting, tapi ingin kuberitahukan bahwa cangkirnya berbentuk toples. Lagi trend mungkin). Adikku yang tengah ada di rumah di Banjarbaru, mendadak datang, berkata dan bertanya:
Bingung. Ini nanti sebaiknya waktu Pilpres memilih siapa?
Ada saran? Mama katanya milih si anu dan Abah milih si anu.
Ucapan adikku pada quote itu di atas adalah dalam bahasa Banjar. Namun tentu saja sudah ditranslasi supaya kalian mengerti. Dia bertanya sembari bercerita tentang pilihan orang tua kami yang kami memanggil beliau berdua dengan sapaan Abah dan Mama.

Sebenarnya itu pertanyaan yang sangat mudah untuk kujawab. Sangat mudah. Maka dari itulah, saat itu yang ada hanya kami berdua, tidak ada orang lain, kujawab dengan diawali sebuah tertawa kecil:
Pikirkan saja dulu apa yang menurutmu baik bagi bangsa ini. Bagiku adalah apa yang terbaik bagi bangsa ini, walau mungkin tidak mengenakkan bagi pribadi atau diri sendiri. Ini bukan semata soal selera pribadi, tapi harus ada pertimbangan-pertimbangan rasional demi kepentingan yang lebih luas.

Aku tidak akan mengatakan kau sebaiknya memilih siapa. Bukan karena aku tidak bisa. Sangat bisa. Melainkan karena aku tidak boleh menyampaikannya.
Sore itu. Hanya aku dan adikku. Terpaksa kubiarkan adikku berada dalam kebingungan. Kasihan juga dia. Mungkin begitu. Teh panasku sudahpun terseduh. Tinggal dinikmati. Bersama sore dan mungkin beberapa mimpi tentang negeri.

Komentar

  1. alhamdulillah blog ini hidup lg, jd pengen konsultasi ah soal pilihan adikmu itu

    BalasHapus
  2. mengenai konsul, tentu sudah bisa ditebak jawabku.
    sama sebagaimana di atas.

    :D

    BalasHapus

Posting Komentar