Harga Mati vs Harga ½ Mati

Berawal dari pertanyaan seorang rekan tentang sikap yang kuambil pada suatu ketika, "Apakah sikapmu itu sudah merupakan harga mati?", demikian lebih kurang tanyanya. Kebetulan akupun menjawab, "Ya, ini sudah harga mati". Redaksional persis mungkin bukan begitu, tapi lebih kurangnya mungkin iya. Toh, yang penting substansi tidak berubah.

Sementara ini, mari jalan-jalan sejenak. Mungkin ke pasar (-yang katanya-) tradisional, lalu kemudian ke pasar (-yang katanya-) modern. Bagi sebagian orang mungkin lebih nyaman jika pada suatu barang sudah tertera harganya. Tidak perlu lagi tawar menawar yang kadang masih menyisakan sedikit sesal. Sebab setelah mencapai kesepakatan, mendadak merasa harusnya bisa mendapatkan harga yang lebih pas/rendah.

Bagiku, sebenarnya muncul perasaan seperti itu sungguh tidak perlu, bahkan mungkin tidak patut. Sudah sepakat pada harga tertentu ya sudah. Titik. Kesepakatan adalah sebuah keikhlasan untuk menerima suatu titik capaian bersama.

Pada hal lain, harga pas merupakan sebuah pilihan terbaik bukanlah sesuatu yang absolut. Hanya saja hal itu setidaknya memang dapat mempermudah seseorang dalam membuat keputusan. Beli atau tidak. Take it or leave it.

Sungguh, aku tidak ingin menuliskan tentang persoalan jual beli. Sekalipun menyangkut soal harga mati. Nyatanya, dalam tradisi jual beli suku Banjar, kadang ada istilah mamati'i haraga. Ini adalah sikap yang diambil seorang penjual untuk menyatakan harga yang sudah pas dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sebab jika ditawar lagi, si penjual akan mungkin merasakan kerugian.
Namun dalam soal sikap, harga mati bagiku bukanlah soal untung rugi. Tapi lebih merupakan persoalan yang bersifat intrinsik. Lebih menyangkut soal nilai-nilai yang kuyakini kebenarannya.
Suatu saat dan untuk sesuatu, seseorang itu harus memiliki sikap harga mati. Kompromi tidak bisa untuk semua hal dalam hidup ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki sikap yang nyata dan posisi yang jelas jika selalu berkompromi untuk semua hal?

Lagi pula, harga mati itu lebih mudah difahami dari pada harga ½ mati.

Komentar

  1. harga mati memang istilah yang kedengarannya saja sangar, tapi saya sendiri sering mengubah harga di tengah jalan yg bisa berarti harga 1/2 mati


    *kemana saja bang? :D

    BalasHapus
  2. gimana kalo harga hidup aja bro :mrgreen:

    BalasHapus
  3. kalau merubah harga di tengah jalan itu masih lebih aman dari pada merubah arah, apalagi secara mendadak, sebab ada resiko keselamatan.

    :D
    *biasalaaah... gak jelas kemananya :D*

    BalasHapus
  4. kalau harga bisa hidup, sepertinya akan ada banyak yang kerepotan

    :mrgreen:

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!