Tak Cukup Hanya Kaya, Juga Harus Miskin

"Pasien jamkes begitu liat sekamar 4 pasien, pindah umum ke VIP, banyak yang tidak miskin memiskinkan diri", begitulah status seorang kawan yang berprofesi sebagai dokter terbacaku malam ini. Sungguh, ini sebenarnya adalah rahasia umum. Tapi selalu saja gampang panas begitu tahu tentang hal yang seperti ini.

Benar saja, bukanlah hal yang aneh jika saja ada mereka yang sebenarnya mampu namun berusaha juga untuk menggunakan fasilitas jaminan kesehatan yang seharusnya menjadi hak warga tidak mampu. Bahkan pernah kami temui kejadian seorang juragan walet yang ingin menggunakan fasilitas warga tidak mampu guna mengobati anaknya yang sakit! Sekali lagi, juragan walet!

Ilustrasi. RSUD Ulin Banjarmasin. Sumber: rsulin.com
Ilustrasi. RSUD Ulin Banjarmasin. Sumber: rsulin.com
Atau pada suatu waktu, pernah muncul berita bahwa ada pihak-pihak (Ketua RT) yang lebih suka memasukkan kerabatnya ke dalam daftar untuk mendapatkan fasilitas pengobatan dari pemerintah ini.
Sungguh, ini sepertinya melawan nalar sehat manusia normal pada umumnya. Tidak ada yang ingin miskin atau melarat. Sedapat mungkin semua manusia berusaha untuk menjadi lebih baik. Secara materi ataupun immateri.
Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku untuk para guru darwis. Itu ranah yang berbeda. Ada persoalan transendens yang berada di luar jangkauan manusia pada umumnya.

Ini berada pada wilayah moral. Seseorang yang memiliki kemampuan ekonomi, ternyata lebih memilih untuk berusaha menggunakan fasilitas Jamkesmas atau jamkesprov, atau apapun istilahnya. Jelas sekali ada masalah pada moral, pada hati nurani.

Persoalan pengawasan adalah hal yang berbeda. Sudah sepatutnya pemerintah melakukan pengawasan dan penindakan atas hal-hal semacam ini. Namun perhatian saya lebih tersedot ke arah moralitas. Bagaimana mungkin ada pihak-pihak yang begitu tega berusaha merebut hak orang lain yang tidak mampu. Nalarnya sederhana, akan sangat jauh mereka-mereka yang seperti ini diharapkan bantuannya bagi orang lain.

Tapi mungkin, mereka yang seperti itu adalah pribadi-pribadi yang merasa tidak ada orang lain di dunia ini, mereka adalah pusat perhatian, dan tentu saja, mereka adalah... -maaf-, bajingan.

Dunia dan seluruh isinya tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan mereka. Sebab bagi mereka, menjadi kaya itu tidaklah cukup, karena mereka juga harus menjadi miskin. Secara materi.

Soal moral? Mereka tidak kaya ataupun miskin. Mereka tidak tau.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru