Pedagang Ikan vs Pedagang Subuh Jilid 2

Lebih kurang 6 bulan lalu, sudah saya yakini bahwa "Kegagalan Pemko Banjarbaru dalam melakukan relokasi kali ini akan berimbas pada semakin sulitnya Pemko Banjarbaru mengatur Pasar Bauntung di masa yang akan datang. Khususnya untuk melakukan pengaturan Pasar Subuh".

Enam bulan kemudian, hari ini, muncul berita melalui media massa, bahwa pedagang ikan di Pasar Bauntung Banjarbaru, yang notabene adalah pedagang lama, merasa sangat dirugikan oleh para pedagang pasar subuh yang tidak disiplin mematuhi jam operasional yang sudah mereka sepakati sendiri.

Pedagang Subuh Pasar Banjarbaru
Bahkan, Wakil Walikota Banjarbaru, H Ogi Fajar Nuzuli, mengakui sulitnya menertibkan pedagang pasar subuh.

Lantas bagaimana?
Ijinkan saat ini saya mengkhayal bahwa saya memiliki otoritas untuk mengambil kebijakan. Maka kemudian kebijakan yang akan diambil adalah sebagai berikut:
Relokasi permanen para pedagang subuh ke Simpang Empat Banjarbaru, atau dilarang sama sekali berjualan di Pasar Bauntung Banjarbaru
Banyak faktor yang membuat saya mengkhayalkan mengambil kebijakan itu. Tapi tetap didasari rasa kemanusiaan, yakni masih memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencari nafkah. Tapi dilokasi lain, sehingga tidak merugikan pedagang lain yang justru lebih terdahulu dari mereka.

Lokasi di Simpang Empat Banjarbaru sendiri bukanlah lokasi terpencil. Masih berada di tengah kota dengan akses mudah serta penduduk dan pemukiman yang terus berkembang.

Bagaimana dengan argumen penolakan yang bahwa usul pemindahan ke Simpang Empat Banjarbaru itu ditunggangi oleh kepentingan bisnis untuk meramaikan kawasan perdagangan tersebut?

Pertama, akan saya amini. Bahwa jelas, kawasan perdagangan yang sudah dibangun harus diramaikan, tapi tidak merugikan orang lain. Malah justru akan memberikan pelayanan kebutuhan masyarakat dengan lebih mudah. Akses mudah, parkir mudah. Penataan pasar akan mudah dilakukan, dan lain sebagainya.

Kedua, akan dijawab dengan usaha mempertahankan pedagang subuh di Pasar Banjarbaru juga ditunggani oleh kepentingan bisnis pribadi dan justru merugikan pedagang awal. Pasar Banjarbaru juga akan semakin semrawut, dan banyak hal lainnya.

Belumlah lagi soal sejarah keberadaan pasar subuh itu, yang pada awalnya adalah karena niat baik Pemko Banjarbaru saja untuk membantu. Tapi kalau kemudian pihak yang dibantu ini tidak mau diatur, ini sudah lebih parah dari pada peribahasa, "diberi hati minta jantung".

Terakhir, dalam kurun waktu 2 tahun, saya pernah kerja sama dengan ratusan orang untuk melakukan penelitian tentang pasar di banyak pasar, sehingga membuat saya yakin, bahwa dalam khayalan saya tentang otoritas itu, saya akan mengambil kebijakan, "Pindah permanen atau dilarang jualan sama sekali". Soal caranya bagaimana, banyak pilihan.

Komentar

Posting Komentar