Smartphone dan Empati yang Tergerus

Saya tidak tau sudah berapa kali terjadi, namun apa yang terjadi kemarin di Banjarbaru pada akhirnya membuat saya tidak tahan untuk kemudian membuat tulisan ini.

Berawal dari angin puting beliung yang merubuhkan sebuah bangunan dan menimbulkan korban jiwa. Tidak berapa lama setelah itu, beredar foto korban yang tengah terhimpit reruntuhan bangunan. Sementara itu, melalui twitter sudah beredar identitas korban.

Saya tidak akan berspekulasi tentang niat atau motivasi seseorang dalam menyebarluaskan gambar tersebut.

Saya hanya mencoba untuk membayangkan sebuah kondisi yang didasari kenyataan bahwa saat ini penggunaan smartphone sudah begitu luas dan menjangkau banyak lapisan masyarakat. Tentu hal ini karena didorong oleh begitu beragamnya varian smartphone yang tersedia di pasaran.
Tidak tertutup kemungkinan penyebarluasan gambar korban sebuah musibah dalam keadaan yang cukup mengenaskan akan sampai pada kerabat korban. Entahlah akan seperti apa perasaan mereka. Pasti bukanlah sebuah perasaan yang menyenangkan.
Kondisi yang menurut saya masih bisa diterima akal sehat adalah jika penyebarluasan informasi korban (berupa gambar) itu didasari oleh: Identitas korban yang masih belum diketahui selama sekian waktu.

Untuk hal itu, tentu juga setelah ada keterangan resmi dari pihak berwenang. Juga tentu sudah dikondisikan informasi (gambar) yang ditampilkan adalah memang yang sesuai untuk kepentingan identifikasi. Yakni bagian wajah dan dengan ditambahkan keterangan ciri-ciri fisik lainnya.

Namun, penyebarluasan informasi dalam bentuk foto korban secara massif dan membabi buta seperti kejadian kemarin itu?

Benar, tidak semua pengguna smartphone adalah pasti smartuser.

*Sumber foto

Komentar

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru