Solusi Alternatif dan Ajaib Mengatasi Tawuran

Suatu hari dulu, famili yang masih duduk di bangku TK itu pulang dan bercerita bahwa ia baru saja dikeroyok. Begitu ditanya, ia memberikan jawaban bahwa ia dan 2 orang temannya yang lain dikeroyok oleh 2 orang anak lainnya! Hei... 3 orang dikeroyok oleh 2 orang? Maka tentu ada matematika yang salah.

Tapi tentu bukan soal famili kecil itu. Bahwa akhir-akhir ini berita tentang tawuran (khususnya) pelajar yang bahkan sampai memakan korban menyita perhatian banyak pihak. Bahkan tak kurang dari seorang menteri sampai menyoroti persoalan ini. Namun demikian, tetap ada rasa syukur yang harus saya panjatkan.

Ilustrasi Tawuran. Mungkinkah Berakhir? (Ilustrasi. seruu.com)
Bersyukur? Ya... benar! Bersyukur.

Sepanjang hidup ini, sekali lagi, sepanjang hidup ini tidak pernah sekalipun saya temui tawuran antar pelajar di Banjarbaru dan Kalimantan Selatan. Maka kemungkinan paling buruk adalah tidak pernah saya dengar. Tapi, jika ada duel antara si A dan si B, satu lawan satu, maka tentu saya dulu juga pernah jadi pelaku. Itu biasa :mrgreen:

Mungkin saya tidak memiliki kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menganalisis akar masalah tawuran pelajar yang sering terjadi di pulau seberang itu. Atau juga tawuran mahasiswa yang kerap terjadi di Sulawesi. Namun jika terbaca berita bahwa kadang diawali oleh sebuah hal yang sangat sepele, maka tentu itu sangat membuat miris.
Para pakar pendidikan, psikologi dan lain-lain, mungkin sudah membuat kajian tentang tawuran ini. Namun, jika masih berlanjut juga entah kenapa saya jadi terpikir satu jalan yang jelas-jelas ngawur dan berada di luar kewajaran
Jika tawuran itu adalah untuk mempertahankan gengsi atau katakanlah harga diri sekolah di mata pelajar, maka lakukanlah...

Pada tiap sekolah yang bertikai, pilihlah satu pelajar yang dinilai paling hebat dan paling jagoan. Maka kemudian, dengan ditonton oleh seluruh pelajar dari tiap-tiap sekolah itu, sebagai supporter, duel saja 2 orang itu. Maka tanggung jawab moral sudah dialihkan kepada dia yang paling jagoan.

Solusi ini tentu harus diawali dengan sebuah perjanjian -kalau perlu dengan kitab suci- bahwa setelah hasil duel diketahui pemenangnya, tidak akan ada lagi masalah susulan. Yang menang tidak mengejek yang kalah, dan yang kalah tidak akan membalas dendam. Mereka yang melanggar perjanjian akan dituntut secara perdata karena wan-prestasi atau apapun istilahnya.
Sekali lagi tentu saja ini adalah pikiran mungkin ngawur yang dituliskan dalam keadaan baru bangun tidur dan bingung kenapa tawuran terus
Maka sekali lagi, saya bersyukur karena di sini tidak pernah terjadi tawuran. Kalaupun ada itu adalah duel. Apalagi sebagai lelaki, sekali dalam hidup ini untuk berkelahi untuk membuktikan bahwa kau lelaki, demikian lebih kurang nukilan lirik lagu yang berjudul Nakula milik Doel Sumbang.

Setelah solusi ngawur ini terbit, bisa jadi saya akan terpikir, kemanakah cinta dan kasih sayang? Apakah itu mendidik, apa itu mengajar? Bagaimanakah itu caranya mengajarkan cinta kasih? Apakah itu gengsi dan harga diri? Keluarga, ada apa dengan keluarga? Apa saja yang sudah media jejalkan dalam kepala anak² kita? Bagaimana peran kita di masyarakat?

Sayapun akhirnya sudah bisa membayangkan. Bahwa saja akan pening. Tapi bukan berarti tidak ada solusi. Tentu demikian. Kita doakan.

Komentar

Posting Komentar