Hentikan Festival Tanglong di Banjarbaru!

Melalui sebuah tulisan tentang Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur 2012 di Kota Banjarbaru lalu, saya sudah menggambarkan terjadi perubahan respon secara pribadi. Tentu saja itu setelah mengikuti perkembangan kegiatan tersebut selama sekian lama. Bertahun-tahun bahkan.

Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa saya mengakui bahwa: Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur di Banjarbaru ini memang memberi nilai tambah bagi Banjarbaru. Menjadi salah satu ajang wisata rutin Banjarbaru. Sebuah momen yang menjadi sorotan tidak hanya warga Banjarbaru, melainkan Kalimantan Selatan secara umum. Serta beberapa hal lain lagi.

Namun demikian, ada beberapa pertanyaan yang mengusik, semisal:
  • Apakah festival tersebut merupakan agenda harga mati?
  • Apakah harus tetap seperti yang ada?
  • Apa saja dampak positif dan negatifnya?
  • Mungkinkah untuk dilakukan sesuatu atasnya?
Agenda harga mati alias agenda yang tidak bisa dan tidak boleh diutak-atik? Ah.. siapa yang bilang seperti itu? Rasanya agenda apapun bukanlah sesuatu yang mutlak. Maka mungkin saja untuk tidak tetap seperti yang sudah dilangsungkan. Tentu sangat memungkinkan pula untuk dilakukan sesuatu atasnya.

Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur di Kota Banjarbaru
Bagaimana dengan dampak positif Festival Tanglong?
Maka tentu, pada bagian awal tulisan ini saya sudah sampaikan pengakuan saya yang dibuat secara sadar tanpa disertai tekanan dari pihak manapun juga. Bahwa Festival Tanglong telah memberikan nilai tambah bagi Banjarbaru. Maka sudah pasti itu adalah hal positif.

Sedangkan dampak negatifnya?
Soal ini mungkin akan memiliki dimensi yang lebih luas. Ambil contoh, pelaksanaan Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur pada bulan Ramadhan akan membuka ruang diskusi yang terkait dengan persoalan religiusitas. Jika semata soal teknis, anggaplah kemacetan, bagi saya itu tidak problem, itu adalah konsekuensi teknis yang bersifat minor saja.
Maka setelah mempertimbangkan banyak faktor serta dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada pencetus festival tersebut, terbit sebuah pemikian untuk menghentikan Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur di Kota Banjarbaru
Untuk kemudian digantikan dengan sebuah festival lain yang semoga lebih meriah, lebih memaksimalkan potensi Banjarbaru, melibatkan lebih banyak elemen masyarakat Banjarbaru, serta semaksimal mungkin mereduksi dampak negatif. Penggantinya sendiri saya susun dalam sebuah konsep bernama FESTIVAL SYA'BAN BANJARBARU.

Namun maafkanlah, detil usulan ini akan terlebih dahulu akan disampaikan kepada pihak-pihak di Banjarbaru yang saya nilai memiliki keterkaitan secara langsung maupun tidak. Setelah itu barulah akan dipublikasikan secara utuh pada waktunya. Sementara, anggaplah tulisan ini sebagai wacana.

Catatan:
Foto: Koleksi Pribadi Festival Tanglong 2010

Komentar

  1. hmm jadi waktunya mundur ke bulan sya'ban, artinya tak ada lagi bagarakan sahur. ini menarik, bikin penasaran.

    BalasHapus

Posting Komentar