Tamu Itu (mungkin) Keki

Lebaran. Sekelompok anak kecil sudah tiba di depan rumah. Mereka ucap salam pertanda ingin bertamu. Tentu menyenangkan. Entah kenapa 2 orang kawan bergegas masuk kamar. Resikonya adalah saya sendiri yang harus menjamu sekelompok anak itu.

Persilakan mereka masuk untuk kemudian duduk. Beberapa kalimat pembuka meluncur. Biasa laaah... beramah tamah tentu. Buku tutup tempat kue, persilakan mereka untuk mencicipinya. Ini juga biasa tentu. Apa yang tak biasa?

Mereka diam! Terus berdiam. Ini sungguh tak biasa. Bertamu tapi diam. Sungguh membingungkan.

Tak sampai 5 menit mereka pamit. Undur diri. Ini juga tak biasanya. Tamu yang aneh. Sungguh. Itu adalah apa yang ada di kepala. 2 orang teman yang tadinya masuk kamar kini sudah keluar. Kata mereka sengaja masuk, karena akan bingung menghadapi tamu anak-anak.

Baiklah. Waktunya makan siang. Perut sudah laparpun. Tentu adalah waktunya untuk bertamu ke rumah teman yang ada di kota yang sama. Tujuannya ada dua: silaturahim dan nebeng makan kalau bisa. Karena warung belum pada buka. Maklum lebaran.

Sesampainya di rumah seorang kawan, berceritalah tentang kejadian sebelumnya. Tentang rombongan tamu anak² tadi itu. Tamu yang aneh itu. Apa katanya?
Oh kawan... itu ternyata adalah tradisi. Galak Gampil namanya di Malang. Konon anak² itu biasanya akan dikasih hadiah berupa uang oleh sang tuan rumah. Hanya untuk itu.
Kami, tiga orang mahasiswa perantauan dari Banjarbaru di Malang, yang nekad tidak mudik pada lebaran kali itu sama sekali tak faham soal hal tersebut. Galak gampil. Maklum saja, kami tak mengenal tradisi seperti itu.

Mungkin saja ternyata anak-anak itu akan keki atau bahkan kami dicap pelit. Tidak masalah. Cuma sejak itu jadi tau, bahwa ada tradisi yang kalau di Malang di sebut Galak Gampil itu tadi. Maafkanlah kami ya adik-adik... tentu kalian sudah besar sekali sekarang.

Setelah tau, apakah lebaran berikutnya akan aman? Oh... tahun berikutnya kami, atau lebih tepatnya sekali adalah saya, tidak menemukan tamu anak-anak dalam rangka galak gampil lagi. Karena, sejak saat itu, setiap lebaran pasti mudik. Tidak bisa tidak. Harus mudik.

Tapi bukan karena takut galak gampil lagi, melainkan karena rasa sepi dan itu menyedihkan. Kapok lebaran tanpa mudik ke Banjarbaru.

*Sumber gambar

Komentar

  1. dan tahun ini saya pertamakali lebaran di kampung orang.
    demikianlah, sukurnya anak2 disini sedikit *eh

    BalasHapus
  2. Wow lebaran di kampung urang :)

    Mancaaap,,

    Salam bakawanan laaah ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru