Kenalkan Kenalanmu Biar Kukenal

"Berhati-hatilah kalau kenalan dengan seorang perempuan, alangkah jauh lebih baik jika juga diperkenalkan atau diberitahukan padaku", setidaknya itulah petuah singkat yang kusampaikan pada sebut saja HD namanya. "Bukannya kenapa-kenapa, tapi siapa tau aku juga kenal", lanjutku. Entah merasa yakin kalau aku tidak kenal atau khawatir tersaingi, itu HD tidak juga mau memperkenalkan gadis yang dikenalnya melalui facebook. Padahal, siang itu kuantarkanlah dia ke Banjarmasin yang katanya mau bertemu dengan itu perempuan, sebut saja NS namanya.

Mungkin lebih tepatnya adalah, kupanas-panasi dan sedikit paksa dia untuk bertemu, mumpung HD pas di Banjarmasin. Atau lebih tepatnya lagi, akulah yang penasaran dengan itu perempuan yang diceritakannya. Sudah habis jurus untuk merayu HD, agar mau kasih tau namanya, ternyata dia memang teguh kukuh berlapis baja orangnya, tidak juga mau kasih tau namanya itu perempuan. Sampai pada suatu waktu, tiba diparkiran sebuah dinas di Propinsi Kalimantan Selatan, meluncurlah sebuah nama dari mulut HD, nama sang perempuan.

Kenalkan Kenalanmu Biar Kukenal - Mhd Wahyu NZ
Kenalkan Kenalanmu Biar Kukenal
Sebelumnya diperjalanan, selalulah kutekankan, siapa tau akulah kenal juga dengan itu perempuan. Apalagi dengan menyakinkan 2 (dua) tebakanku benar, bahwa NS itu mengenakan jilbab dan berwajah bulat. Makin yakin HD kalau aku kenalpun. Padahal, sebenarnyalah itu tebakan semata-mata berdasar analisis statistik, bahwa hampir 90%-an pegawai perempuan di Kalsel ini mengenakan jilbab kalau ke kantor, dan soal wajah bulat itu adalah tebakan dengan tingkat kebenaran 50%. Bulat atau tidak.

Siang hari, di halaman kantor sebuah dinas. Tempat pertemuan disepakati adalah sebuah depot yang terletak persis di seberang kantor itu. HD mungkin berdebar hatinya. Aku tentu saja menunggu kesempatan biar bisa bikin wajah HD macam udang rebus. Tak menunggu lama, NS muncul, lalu pesan apa yang bisa dipesan. Tapi masalahnya bukan pada makanan, justru kinilah aku yang dibikin kaget, sekaget-kagetnya. Kondisi macam ini benar-benar di luar dugaan.

Setelah memandang itu perempuan, dan komunikasi sebentar, niatnya untuk membiarkan HD berkomunikasi berdua saja. Justru kurasa kenal dengan dia, dan tiba-tiba saja NS berkata padaku…

"Pian dulu rancak ka rumah ulun lho? Pian kan bakawan lawan mama ulun", atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti: "Pian kan dulu sering ke rumah ulun. Pian kan temannya mama ulun".
*Pian adalah bahasa Banjar, padanannya kamu/Anda dalam bahasa Indonesia, dan digunakan untuk orang yang lebih tua atau dihormati. Sementara ulun adalah padanannya saya.

Apa? Ya ampuuun… setelah memperhatikan, mengingat dan seterusnya. Benar rupanya bahwa si NS, adalah anaknya seorang teman yang dulu sayanya sering ke rumah beliau. Aseli lupa, dia dulu itu masihpun SMP atau SMA, dan sekarang sudah sarjana dan jadi pegawai. Wajahnya pun benar² mirip dengan ibunya.

Kasihan juga si HD, acara perjumpaannya jadi terganggu, padahal sebentar lagi ia harus pulang ke Kalimantan Tengah, setelah 2 (dua) hari tidur di rumah. Jadilah itu kupinta nomor telpon ibunya NS lantas telpon beliau, tentu saja dengan tanpa mengaku sebelumnya siapa diriku.
"Hallo… Selamat siang ibu, saya temannya puteri ibu, NS."
"Iya, kenapa?"
"Mau minta ijin bu, nanti mau ngajak NS nonton."
"Kenapa? Siapa tadi ini?"
"Ijin mau ngajak nonton bu, saya temannya NS." *ga mau ngaku*
"Nonton apa?"
"Ya nonton di bioskop, bu, tapi mungkin malam, midnight soalnya."
"Midnight?"
"Iya ibu, yang pulangnya tengah malam itu."
"Bla..bla..bla..."  *lupa lagi, yg jelas panjang & ada nada khawatir…*

Ya sudahlah, karena kurang enak juga terlalu lama bikin orang tua khawatir akan keselamatan puterinya, akhirnya buka identitas saja. Itu ibunya NS ngakak akhirnya dan kami bersambung cerita, panjang.

Bagaimana nasib HD dan perjumpaan dengan kenalannya?
Hanyalah petuah bijak yang bisa kusampaikan padanya, "Makanya, lain kali kalau ada kenalan gadis itu informasikan dulu padaku, siapa tau aku kenal juga."

Komentar

Posting Komentar