In Memoriam: Ramadhan Kecil Dulu

Satu kata yg paling ditunggu oleh masyarakat Banjarbaru, Martapura & sekitarnya melalui radio saat sahur serta berbuka puasa sejak dahulu itu adalah "Nah". Kenapa demikian?

Sebab itu siaran radio Al-Qaramah, yang dipancarluaskan melalui gelombang AM, kala pas waktu imsak atau berbuka selalulah ± mengucapkan:
"Nah, sekarang tibalah waktu imsak..." atau
"Nah, sekarang sampailah waktunya berbuka puasa..." 

Bagaimana ramadhan pada masa kecil dulu? Sebenarnya mungkin banyak yang bisa diceritakan, tapi biarlah hanya beberapa snapshot kehidupan masa kecil saja. Sementara aib-aib lainnya disimpan rapi saja. Haha...

In Memoriam: Ramadhan Kecil Dulu
In Memoriam: Ramadhan Kecil Dulu

... dan tentang bagarakan
Bagarakan? itu adalah istilah dalam Bahasa Banjar untuk aktivitas membangunkan orang saat jelang waktu sahur.

Pernah kecil dulu jelang sahur, itu gelas² yang ada di langgar kususun dan diisi air dengan berbeda banyaknya untuk kemudian dipukul² pakai sendok. Sebab konon, menurut sebuah acara di televisi, volume air yang berbeda akan memberikan nada yang berbeda pula.

Niatnya waktu itu adalah membangunkan orang² sahur dengan nada yang indah, sebab suaranya lalu disebarkan luaskan melalui sound system langgar/mushalla. Mungkin akibat terlalu bersemangat, beberapa gelas pecah jadinya. Air membasahi posisi dimana imam biasa memimpin jamaah. Nada indahpun sumbang jadinya. Gagal. Ini tragis.

... dan tentang meriam
Tak macam sekarang, dulu petasan tidak dilarang. Petasan atau mercon yang paling dicari waktu itu adalah yang cap kodok. Tidak tau sekarang masih ada atau tidak. Meriam? ya memang ada beberapa macam meriam, tapi yang paling keren kami mainkan adalah meriam karbit.

Kami dulu itu tak pakai bambu atau pohon lainnya buat bikin meriam karbit, tapi pakai tiang listrik. Itu adalah tiang listrik besi yg kedapatan nganggur dan kemudian dipotong dengan panjang yang sesuai. Salah satu ujungnya dilas untuk bikin penutup, plus dibor buat lubang apinya. Jadilah meriam karbit kami itu ramah pepohonan, tapi kurang ramah lingkungan karena suaranya, juga kurang ramah tenaga, sebab untuk mengangkatnya minimal perlu orang 2.
*cape*

... dan tentang petasan
Tahukah Anda, bahwa kecil dulu kami itu sangat menjaga ketentraman masyarakat termasuk soal saat main petasan? Sebab waktu kecil dulu, kami itu tak mau main petasan terlalu dekat dengan rumah orang, kaminya jauuuuuh, cuma petasannya saja yang dekat rumah orang.

Caranya? Sumbunya petasan diikat ke obat nyamuk bakar yang menyala. Sementara obat nyamuk terus terbakar, sampai pada suatu saat akan kena dengan sumbu dan pada gilirannya itu akan meledakkan petasan, mungkin mirip bom waktu. Kan kaminya jauh, sebab kami tak mau mengganggu orang lain dengan suara ribut kami yang anak-anak, cukup suara petasannya saja.
*siul*

... dan tentang takbiran
Oh mungkin inilah salah satu masterpiece sayanya waktu masih kecil dulu, soal takbiran ini. Sebab membuat imam langgar datang tergopoh-gopoh dan kemudian marah-marah. Padahal yang kulakukan adalah sangat sepele. Apa itu?

Yakni sekitar jam 3 dini hari, masuk langgar melalui jendela nako untuk kemudian menyalakan sound system langgar, yang merknya toa itu. Tujuannya tentu biar masyarakat sekitar tau apa yang akanlah kuperdengarkan, sebab siang harinya masihlah puasa. Apa itu yang kuputar dan perdengarkan pada khalayak? Itulah dia rekaman suara takbiran!

Naah, sekarang kuharap kawan² jadilah tau kenapa sebabnya sayanya hanya tersenyum saat baca beberapa posting kawan² melalui beberapa jejaring sosial yang marah-marah soal petasan dan lain-lain. Juga akunya yang selalu tersenyum senang kalau melihat jam 3an subuh ada yang main kembang api, atau senang ada anak-anak lewat yang keliling pemukiman sambil teriak sahur.

Kenapa? Karena sayanya itu punya cermin ajaib yang ukurannya memang tak ketahuan tapi sanggup menampilkan bayangan kelakuan sepanjang ramadhan di masa kecil, in memoriam.

Banjarbaru, suatu malam
Ramadhan 1432 H | 2011 M
rinduku padamu, masa kecilku...
*lope*

Komentar

  1. jiahahhaa..... *guling*
    ternyata kejailan Pakacil itu memang sudah mendarah daging dr sejak kecil dulu yaaa......... :lol:
    salam

    BalasHapus
  2. dan tentang asmara ramadhan..? *hmm*

    BalasHapus
  3. dulu waktu kecil suka main petasan, ember panci kadang jadi korban, itu waktu di kampung, karena rumahnya gedhe gedhe dan jarak antar rumah agak jauh nggak terlalu mengganggu, namun sekarang tinggal di kota, rumahnya dempet dempet, begitu terganggu sekali saat ada yang main petasan, padahal petasannya jauh lebih kecil dari petasan dulu yang aku mainin... :D

    BalasHapus
  4. sungguh, masa kecil yg menyenangkan
    dan masa tua yg indah
    *yiha*

    BalasHapus
  5. . jhahahahai
    . masa kecil yang begitu menyenangkan dan indah

    BalasHapus

Posting Komentar