Senjata Sang Penjaga Malam

Salah satu kebiasaan yang sering saya lakukan adalah keluar rumah pada tengah malam lantas berjalan kaki menyusuri ruas jalan di kawasan rumah saya tinggal. Tak jauh memang, tapi cukup untuk membuat saya memandang ke beberapa sudut komplek.

Biasanya pula saya bertemu dengan sang penjaga malam, ngobrol berdua entah di pinggir langgar atau mushala, atau di sudut tikungan mana. Bicara macam-macam, tapi tak pernah soal politik. Soal keamanan kawasan lebih mendominasi. Kalau penjaga malam komplek sebelah juga muncul, jadilah biasanya kami konferensi, bertiga, sebagaimana malam itu ia muncul membawa senjatanya yang lantas membuat saya tertawa.

Sama sekali bukan tawa melecehkan, tapi lebih karena ekspresi gembira dan menertawakan diri saya sendiri, karena ia membawa ketapel atau yang dalam bahasa Banjar disebut ketekan. Saya gembira bukan karena apa-apa, tapi karena senang luar biasa bisa melihat dan memegang lagi benda yang jujur saja sudah amat sangat lama tak pernah saya lihat. Sebab tidak ada lagi anak-anak di sekitar saya memainkannya.

Ketekan alias Ketapel
Ketapel atau ketekan yang berbahan dasar kayu, kelip karet dan entah apa namanya buat tempat peluru itu adalah salah satu mainan dulu waktu kecil. Kayunya di Banjar sini disebut cikang. Kelip karet itu masih saja berwarna merah, ada dua macam ukuran: kecil dan besar.

Tempat amunisi itu biasanya paling bagus terbuat dari kulit, maka beruntunglah kami kalau dulu ada yang sabuk kulit orang tuanya rusak, karena itu berarti ada material bagus buat bikin ketapel atau ketekan.

Proses pembuatan ketapel sebenarnya sangat sederhana, namun proses yang paling mengasyikkan itu adalah kala mencari kayu untuk dijadikan cikang yang jujur saja tak pernah saya tau apa Bahasa Indonesianya. Proses menentukan jenis pohon, sampai dengan mencari cabang ranting yang dinilai bagus untuk diproses lebih lanjut. Kulitnya dibuang dan dikeringkan.

Jadilah malam itu kami bertiga tertawa bersama atau mungkin lebih tepatnya 2 orang penjaga malam yang ikut mentertawakan saya yang saking senangnya berjumpa dan memegang ketekan lagi. “Himung banar inya“, ucap si pemilik ketapel pada temannya merujuk ke saya. Ucapan itu berarti, “Gembira sekali dia“.

Ya… malam itu saya gembira, memang sangat gembira karena ketapel.
Bagaiman ketapel Anda? masih ada?

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!