Saat Terpaksa Tak Berterus Terang

Bukan lantaran memang terlanjur akrab dengan saya, pemilik depot langganan saya di Banjarbaru itu menatap dengan cara yang berbeda dari biasanya. Tapi lantaran kali ini saya datang bersama dengan seorang perempuan muda berjilbab, manis, yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu saja bukan isteri saya.

Juga tak pecicilan seperti biasanya, kali ini saya datang tanpa senyum dengan hanya sedikit menganggukkan kepala padanya sebagai tanda menyapa. Sok cool ceritanya. Yakinlah sudah saya, tahap awal dari semuanya berjalan dengan lancar. Lanjut ke tahap berikutnya.

Meja yang saya pilih itu pojok, agak jauh dari posisi dimana pemilik depot biasanya duduk. Pembicaraan sembari makan siang saya berdua dengan perempuan muda dan manis itu tentulah tak bisa terdengar. Namun jelas sekali, tak terhitung berapa kali mereka, pemilik depot yang kakak beradik itu, memandang ke arah kami, dengan penuh selidik. Kenapa? Karena saya tidak bersama isteri.
*hmm*

Setelah hampir satu jam, berakhirlah makan siang yang penuh senyum dan tawa itu. Saya bayar dan sembari mengucapkan terima kasih serta pamit, tetap dengan gaya yang sama, sedikit menganggukkan kepala.

Rupanya tak kuat juga mereka, meluncurlah pertanyaan itu. "Siapa...?", tanyanya dengan suara pelan. Apa jawabannya? Ooo... tak semudah itu kawan, hanya sebuah senyum kecil di sudut bibir yang saya berikan. Sisanya adalah diam.
*no*

Siang hari berlalu, sore, malam, dini hari, subuh, pagi, dan kembali siang... yang memang selalu begitu urutannya, mau di Banjarbaru atau di manapun. Ada yang mau merubah?

Kembalilah saya ke itu depot. Kali ini bersama isteri yang sudah sangat mereka kenal juga. Sementara itu, saya juga sudah berganti gaya, seperti biasa, pecicilan. Setelah menentukan pesanan, kami berduapun makan. Tak berapa lama setelah selesai makan, saya bilang pada isteri saya, "ya... sekarang...". Isteri saya berjalan menemui sang pemilik depot untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

Mau tau pertanyaannya apa? Kenapa saya tau pertanyaannya? Karena sesungguhnyalah saya yang mempersiapkan pertanyaan itu.
Wahyu kemarin makan siang disinikah?
Sama siapa dia makan siang?
Apakah dia bersama seorang perempuan muda berjilbab?
Demi lauk pauk, panci dan seluruh piring yang ada di depot itu, dengarlah... sungguhlah itu isteri saya begitu hafal dan fasih menyampaikan ciri-ciri perempuan muda yang kemarin makan siang bersama saya.

Bagaimana reaksi pemilik depot yang ditanya oleh isteri saya itu? Oh... kawan... demi nasi, sayur,sambal dan seluruh gelas yang ada di depot itu. Lihatlah... ia begitu kaget, air mukanya berubah, bingung dan sedikit pucat. Tiba-tiba saja nampak semua hal harus dibereskan. Nota-nota nampak berserakan, pulpen nampak menghilang. Gelagapan ia. Berulang kali ia mengatakan kalimat tak jelas, sembari mengingat-ingat mungkin.

"Tenang saja, tak terjadi apa-apa."
Beberapa menit saya menikmati adegan itu sembari menahan senyum, dan beberapa kali pula ia memandang saya di tengah gugupnya. Akhirnya... the moment of truth... meluncurlah jawaban itu: TIDAK.

bwahahaha.... lepas kontrol sudah saya, meledak tawa. Demi pepes patin goreng menu idola, meluncurlah kemudian ancaman dan kutukan untuk saya dari itu dia pemilik depot, yang wajahnya masih memerah. Kenapa demikian? Karenalah saya dan isteri ceritakan padanya, bahwa perempuan muda kemarin itu adalah sepupu saya, Lisa namanya yang biasa juga dipanggil Icha, yang suaminya adalah seorang dokter.

Saat sebelum makan bersama Icha pun, saya sudah sampaikan bahwa saya akan melakukan sesuatu. Icha faham, karena memang tidak sekali itu saja ia menjadi PIC (partner in crime) saya. Walau juga pernah ada kegagalan, dulu sewaktu kami masih sama² kuliah di Malang.

Sekarang Anda tau kenapa jujur dan berterus terang itu terkadang mengenal situasi dan kondisi? Tapi saya tidak akan bahas apalagi memperdebatkan soal kejujuran. Bahwa jujur itu baik adalah keniscayaan. Saya hanya ingin katakan, bahwa kadang tidak mudah menemukan tempat makan langganan.

Komentar

  1. sepertinya saya sudah pernah baca cerita ini....


    ah.. ngarang, di mendiang blog yg dulu? ini sih belum ada, kejadiannya kan sesudah blog itu pingsan.haha... kalau yg poto lalu lintas itu memang ada, repost itu. haha...

    *yiha*

    BalasHapus
  2. ah...anda kan pelupa..??.!!


    eeeeh... ngotooot. lupa itu kan mirip² sabar, ada batasnya. hahaha... itu yang lupa 'kan anda, kasih itu link blog larinya ke kontrakan yg sudah mendiang. ganti dulu lah...

    *guling*

    BalasHapus
  3. ah..itukan cuma hiasan saja, cobalah untuk maklum...!! *no*


    hmmm... baiklah saya maklum, tapi untuk hari ini sampai 2 tahun ke depan sahaja.

    *joged*

    BalasHapus
  4. ihhh nakalnya ngerjain si tukang warung :D
    tapi memang kita sering dihadapi situasi seperti itu ya....
    EM


    duh... nakal ya? masa' nakal sih mba? gak laaah... ya... ya... ga nakal ya... itu sekedar proses belajar untuk beradaptasi dengan situasi. ihihihihi...

    BalasHapus
  5. pemilik depot sebelah11 Mei 2011 15.12.00 WITA

    ya Tuhan, jauhkanlah makhluk ini dari depot saya [-O<


    hahaha... jangan khawatir ibuuu...
    saya kalau makan di depot sih tetep bayar

    *hayal*

    BalasHapus
  6. pemilik depot sebelah11 Mei 2011 15.15.00 WITA

    blog ini gak asik, itu emoticon saya di atas gak muncul *no*


    whuahahaha... kan kode untuk emoticonnya sebagian memang sudah saya ganti, ceritain saja lah... itu ikon gambarnya apa.

    *ngakak*

    BalasHapus
  7. Besok2 kalau makan2 lagi di depot saya, akan saya pantau lewat CCTV sehingga kalau ada pertanyaan, saya tak harus berkata "tidak!!!"


    apa? CCTV? oh gampang... tinggal cari depot lainnya. biar penjual dan pembeli klop pakai prinsip yg sama, safety first

    *ngakak*

    BalasHapus
  8. Wow cerdas pak Mars.
    Proyek masang CCTV nya kasih saya ya :twisted:


    japrem ya... japrem, jatah preman, alias uang denger, harus ada itu, jangan sampai lupa

    *no*

    BalasHapus
  9. wkwkwkwkwk... ikut tegang bacanya, dan ternyata...yeee...berhasil, hihihhi... sama seperti saya juga dengan sepupu juga, hahahaha.. gak nahan ketawanya... *yiha* *tepuktangan*



    waduhh... rileks mas tunsa, rileeeks... kaisan kan si tegang kalau diikutin terus. ihihihii...

    BalasHapus
  10. kalau yang begini ini, dah pastilah jailnya Pakacil
    kalau gak jail, bukan Pakacil namaya khaaan...... ?? *ngakak*
    salam


    kalau bukan pakacil? ya wahyu lah namanya bundaaaaaa...

    *guling*

    BalasHapus
  11. tulisan pakacil memang selalu berkaitan dengan hal2 yang ringan dan enteng. namun, yang tdk bisa saya lupakan, nilai filosofisnya selalu saja muncul secara tersirat dalam setiap postingannya. salam sukses.


    duh.. makasih banyak pak sawali, sukses juga untuk semua, sebab saya meyakini, hidup memang harus dibuat indah dan menyenangkan

    BalasHapus
  12. pelajaran buat saya: karena saya biasanya pergi kemana-mana bawa istri, kalau pergi ama "yang lain" sebaiknya di tempat yang jarang dikunjungi... siapa tau istri nanti juga nanya hal serupa ke penjaga tempat makan... :mrgreen:


    heh?!?... nah... saya tidak bertanggung jawab atas segala hikmah yg timbul yg macam ini nih... hahaha...

    *guling*

    BalasHapus
  13. *demi warung makan depan insitusi penimpan benda purbakala, saya berdoa sekuat tenaga semoga suatu saat tak pernah menjadi korban keisengan bapak yang memang udah kodratnya iseng sampe ubun-ubun ini*

    AMIIINN.
    8-O



    amiiin...
    *maaf bertanya sebelumnya, berapa % biasanya dar seluruh doa Anda yg dikabulkan Tuhan?*

    BalasHapus
  14. kasian pemilik warungnya...
    hmmm..berarti njenengan ndak bisa mbawa WIL kesana donk! lha wong jelas-jelas sang istri dah tau apapun jawaban yang diberikan si pemilik depot adalah jawaban yang melindungi pelanggannya yaitu njenengan *kedip*


    hahaha.... sebab itulah saya bilang, susah menemukan warung makan langganan.

    *guling*

    BalasHapus
  15. sungguh pertanyaan balik yang menakutkaaaannn..
    *cape*


    anu... eee.. itu sekedar perkiraan, kira² saia termasuk pada bagian yang mana, dikabulkan atau tidak. hahaha...

    BalasHapus

Posting Komentar