Listrik, Keadilan Sosial dan Harga Diri

Pada sebuah acara radio, RRI Pro 3 FM Banjarmasin, yang dipancarluaskan dari gelombang lupa sayanya berapa, yang menjangkau seluruh wilayah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah, ±10 tahun lalu, diangkatlah sebuah topik tentang kondisi listrik di Kalimantan Selatan.

Kenapa saya bercerita soal acara radio dan listrik yang sudah belalu ±10 tahun lalu? Percayalah, karena ini menyangkut konsistensi kondisi listrik di daerah ini, Kalimantan Selatan, jadi 10 tahun lalu atau sekarang, tiada beda. Waktu itu, seorang penelpon yang kemudian menjadi salah seorang kepala daerah di Kalimantan Selatan, berbicara bla... bla... bla....

Apa yang beliau sampaikan adalah kritisi secara normatif kalau saya bilang sih. Setelah itu, seorang penelpon lainnya masuk, seorang lelaki dengan nama Zen. Menanggapi kondisi listrik di Kalimantan Selatan, khususnya pelayanan dari PLN, ia berkata dengan singkat dan dengan sedikit tertawa:
Saya tidak heran kalau listrik di Kalimantan Selatan ini byar-pet, hidup mati, hidup mati. Itu sudah biasa. Saya justru heran dan bingung kalau PLN dan pasokan listriknya bisa tertib. Karena itu tidak biasa. Makasiiih....
Klik... telpon ditutup. Saya yakin, sampai saat ini Zen masih memegang pendapatnya itu. Kenapa demikian? Karena ialah orangnya, Zen, sebuah nama yang saya gunakan saat berada di udara, melalui siaran radio. Sekitaran tahun² itu, saya aktif di RRI Pro-3 Banjarmasin. Sempat dipercaya sebagai Ketua Forum Mitra Pro-3 se-Propinsi Kalimantan Selatan, dan memiliki sebuah acara sendiri di sana, Beranda Malam namanya.

Ya.. pandangan itulah yang membuat saya bisa tenang dan maklum. Tapi, maklum untuk waktu bertahun-tahun tentu juga mengendapkan perasaan tertentu, mangkel juga akhirnya. Hehehe....

Kebetulan sekali, kemarin pagi, 25/05/2011, Dahlan Iskan yang juga Dirut PLN bicara di Metro TV soal gerakan sejuta sambungan baru. Bukan soal itu yang menarik perhatian saya, tapi target rerata pemadaman listrik per-rumah yang diharapkan berkurang untuk tiap tahunnya, menjadi 9 kali pemadaman!!! Tekankan bahwa itu adalah target rerata. Saya tidak ingat, beliau ada atau tidaknya menyatakan rerata untuk skala apa, namun dari konteks pembicaraan, itu adalah rerata nasional !

Jika nasional, maka tentu itu adalah dari Sabang sampai Merauke, di mana berjejer pulau-pulau di antaranya, yang laksana sambung-meyambung menjadi satu, karena itulah Indonesia.
*joged*

Apakah saya optimis dan bahagia mendengar itu? Tidak, saya netral saja, dan tak berharap banyak. Kenapa? Karena terlalu berharap untuk ini dapat membuat kecewa. Apakah saya lantas pesimis? Tidak juga, bodo amat mau dibilang pesimis atau tidak, tapi yang jelas analisisnya begini:

Karena itu adalah rerata secara nasional, maka seluruh angka jumlah pemadaman se-Indonesia itulah yang digabungkan. Lantas, berapa besar perbedaan angka itu tiap daerah? Apakah adil angka pemadaman yang sangat tinggi di suatu daerah digabung dengan angka pemadaman yang sangat rendah di daerah lain lantas dibuat reratanya? Tidak! Bagi saya itu sama sekali tidak adil! Karena pada kenyataannya, daerah yang tinggi tingkat pemadaman listriknya akan tetap tinggi.
*nangis*

Lantas bagaimana?
Saya berharap agar target tersebut di breakdown, jadikan perwilayah, target perwilayah inilah yang disampaikan kepada publik. Kenapa? Agar masyarakat di masing-masing wilayah, utamanya yang memiliki tingkat pemadaman tinggi, tidak terlalu berharap banyak.
Karenalah selain membuat hidup, harapan itu juga dapat membuat kecewa. Masyarakat yang kecewa, bisa melakukan macam-macam. Contoh saja, akibat pemadaman yang keterlaluan, pernah sebuah kantor PLN di Kalimantan Selatan di serang massa dengan membawa senjata tajam dan sejenisnya. Masyarakat sudah kecewa.

dan... ya, PLN sudah memberlakukan tarif lisrik pra-bayar model pulsa telpon pra-bayar itu, akhirnya pelanggan memang hanya akan membayar sejumlah pemakaian. Pada satu sisi ini memang benar.

Tapi, persoalan pemadaman bukanlah soal bayar berapa, karena tanpa sistem pra-bayaranpun, pelanggan tetap bayar berapa daya yang digunakannya.

Dahlan Iskan juga menyampaikan akan ada "perhitungan uangnya" kalau terjadi pemadaman. Lagi-lagi bagi saya ini bukan soal uang semata. Persoalan kesejahteraan itu bukanlah soal uang atau ganti rugi semata. Betapa banyak konsekuensi kalau listrik mati dan tak lancar. Misalnya, bagi saya adalah banyak lelahnya jika pemerintah daerah se-Kalimantan Selatan bicara soal peluang investasi, sementara listrik, yang menjadi unsur vital masih belum maksimal.
Karenanya, jika PLN melulu bicara soal uang, ganti rugi dan sejenisnya, sungguh-sungguhlah saya merasa terhina. Kekecewaan bertahun-tahun dijawab dengan uang? Itu adalah penghinaan besar. Saya tak tau, apakah para ahli di sana faham dengan apa yang dinamakan harga diri.
Masih panjang yang dapat disampaikan sebenarnya, kerugian pelaku usaha, soal tegangan listrik yang tidak stabil, kerusakan perabotan elektronik yang tidak mungkin diganti PLN, dan lain sebagainya. Masih sangat panjang daftarnya, karena itulah ini bukan soal uang semata, tapi hak yang pantas didapatkan oleh warga negara.

Karena itulah, demi Pancasila dan UUD 1945, demi keadilan sosial bagi SELURUH RAKYAT INDONESIA, serta atas nama cinta, saya berharap pada PLN agar tidak membuat kami kecewa. Sebab saya percaya, hanya ada 2 (dua) alasan seseorang itu tak lagi merasakan sakit, yakni bahwa ia kuat dan tahan, serta sakitnya sudah teramat hebat dan melampaui kemampuannya.

dan inilah... inilah sedikit sambungan saya atas artikel Byar-pet, sekedar hobi PLN yang saya tak bisa komen di sana itu Sayapun berharap, utamanya pada kawan² senasib di Kalimantan Selatan, janganlah menghujat dan mengatakan PLN bodoh, bungul, dan sejenisnya. Lebih baik doakan supaya bisa beres dan kita bisa menikmati listrik dengan lancar dan stabil.

Tapi, kalau masih padam dan naik turun juga? Tetap saja jangan mengumpat, datang saja beramai-ramai ke kantor PLN terdekat, silakan saja mau melakukan apa, tapi harus cerdas, jangan sampai jadi masalah. Kalau mau tau caranya? Jangan lupa ajak saya. hahaha...

Komentar

  1. nah, ketika Dahlan Iskan diangkat menjadi dirut PLN, saya termasuk yang pesimis beliau bisa melakukan performance terbaiknya, karena orang-orang yang lain tetap, dan itu akan menghambat kinerja dirut


    ya... sayapun secara pribadi tak masalah dengan beliau, walaupun saat ngobrol dengan orang² PLN saya mencium aroma resistensi, dan memang itulah yang bisa menghambat beliau.

    BalasHapus
  2. saya tinggal di yogyakarta, tepatnya di pelosok paling selatan yang disebut kabupaten gunung kidul, di sini pun saya sering menumpahkan jengkel jengkel kalau sedang byar pet

    alih alih, pak dahlan iskan dulu pernah ngomong begini, untuk wilayah jawa bali, kualitas listriknya akan dibandingkan dengan malaysia barat, dan untuk kalimantan dan sejenisnya akan dibandingkan dengan malaysia timur


    hehehe... bisa jadi gaya kepemimpinan beliau sewaktu di jawa pos group mungkin masih terus terbawa sewaktu di PLN, sementara itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda.

    BalasHapus
  3. sudah habis kalimat untuk menggambarkan perilaku perusaha listrik nyala disana ga tau disini itu, tapi sungguh saya sorak-sorak bergembira saat deket kos kemarin akhirnya merasakan juga saat2 langka listrik mati, walau anehnya cuma bentar, dan penanganannya sungguh sigap, tak berapa lama itu listrik on lagi, coba kalo di kampung, matinya ga jelas, hidupnya ga tentu, hidup memang sering tampak tak adil, paling tidak dalam hal setrum, padahal sama-sama bayar, yang paling menyebalkan mengetahui fakta kalo bahan baku sumber daya listrik disini kan dari kampung kita, kaaan ?.

    *ngos-ngosan jg komen tanpa spasi tanpa titik gitu, maklum esmosyyy*
    :twisted:

    hahaha... sayapun dulu pernah sorak sorai bergembira, waktu sekali waktu di malang pernah mati listrik dalam 7 tahun !!! ya... sudahlah kalau soal bahan baku itu, kita terpaksa terima saja, hitung² amal, toh tak bisa berbuat apa², tapi... ngomel sedikit tentu tuhan tak marah. dari pada jadi bisul? ga keren kan? hahaha...

    BalasHapus
  4. hahaha... jadi presiden kuwait dulu mas, baru benerin PLN. eh, jauh banget ya.. hehe...


    waaah.. terima kasih atas dorongannya, saya jadi tambah bersemangat buat jadi presiden kuwait. nanti PLN kuwait bawa ke sini. hahaha...

    BalasHapus
  5. oke, saya dukung pak wahyu sebagai calon presiden berikutnya... *tepuktangan*
    merdeka, hehehe..

    masalah itu itu aja di Indonesia blm kelar yah? apalagi ngomong yg lain... *geleng*


    presiden mana dulu... indonesia? ogah. kuwait? oke.. soal nasionalisme sih sayanya tetep, tapi soal profesi beda lagi itu urusannya. ngomong yg lain? hmm.. kalau begitu mari kita ngomong apa yang dibicarakan saja. hahaha...

    BalasHapus
  6. Bicara tentang ketiga hal di atas tidak ada habisnya. Listrik kadang-kadang mati tanpa sebab, keadilan sosial di negara ini saya kira tidak ada, kalau harga diri "Dirimu dihargai berapa???" :D


    kadang²? oh tidak... di sini sih kategorinya sudah sering sejak lamaaaaaaa. keadilan sosial? itu adalah sila ke-5 di pancasila, tinggal kita sepakati untuk biar tetap disitu, dipindah, atau dihapus sekalian. harga diri? naah... soal ini ada yang berani mau nyoba? hehehe...

    BalasHapus
  7. Pemadaman bergilir dan Penyalaan bergilir mana yang lebih menguntungkan? hehehehe :)


    hmm... jika pertanyaan itu untuk saya yang tinggal di sini, dan sudah bertahun-tahun mengalami hal itu, maka jawabannya adalah mbuh... hahaha...

    BalasHapus
  8. Masalah listrik sampai saat ini masih kompleks ya masalahnya, dan tampaknya belum ada titik terang untuk menuju kenyamanan serta pemerataan nya


    justru kalau listrik lancar itu mudah menemukan "titik terang"nya, mba anny, kalau listrik keok, kan lampu juga padam, jadi gelap, susahlah jadinya menemukan itu titik terang. whuihiihi...

    BalasHapus
  9. waduh jangan di demo dong mas, saya kerja di PLN.

    memang masih banyak kekurangan di pihak PLN, tetapi semangat untuk menjadi lebih baik selalu ada.

    kebanyakan listrik padam akibat pasokan listrik yang terlambat dibandingkan kebutuhan konsumen, konsumen butuh 2000MW PLN masih 1500MW, PLN udah bisa 2000MW konsumennya udah butuh 2500MW. Lagi-lagi kebanyakan terkendala dengan masalah biaya dan sosial. Maunya sih juga langsung bisa bangun ini itu untuk mencukupi kebutuhan listrik, tetapi anggaran pas-pasan ditambah masalah sosial,seperti masalah pembebasan tanah untuk jaringan, pembangkit, atau gardu induk. 1 batang pohon punya warga saja bisa minta uang puluhan / ratusan juta. Bahkan ada pohon jadi-jadian, yang sebelum ada rencana pembangunan di lokasi tersebut pohon tersebut tidak muncul.

    Selain itu harga jual listrik PLN jauh lebih murah daripada biaya produksi listriknya, jadi mau tak mau PLN mengandalkan subsidi pemerintah yang juga sangat terbatas.

    Secara logika, karena harga jual listrik PLN lebih murah daripada biaya produksi listrik PLN, PLN lebih untung apabila tidak menyalakan listrik. Tetapi hal itu sekalipun tidak pernah dilakukan PLN, karena saya kebetulan di bidang operasi Jawa-Bali, kami sekuat tenaga berusaha menyalakan listrik tanpa ada pemadaman walaupun hanya 1 detik, PLN lebih memilih rugi tetapi bisa menyalakan listri warga daripada untung tetapi ada pemadaman. Apabila ada pemadaman hal tersebut memang karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyalakan listrik di daerah tersebut (kekurangan pasokan, gangguan unit, dsb).

    Saya yakin teman-teman yang lain juga memiliki kemauan yang sama. Lha saya dengan warga sekitar gak ada bedanya, kalau listrik mati ya ikutan mati. Siapa sih yang mau listriknya mati?

    Fiuh, panjang bener, malah curhat.



    tenang mas irawan, tidaklah saya akan mengacuhkan persoalan yang mas irawan sampaikan itu. namun sungguh saya tak habis pikir, selama lebih dari 10 tahun sudah kami di sini menghadapi persoalan ini. kawan² di sumatera juga ada yg begitu. ini semata-mata soal harapan akan keadilan.

    2010 kami menerima janji bahwa tidak akan ada lagi pemadaman, dan sekarang sudah 2011. belum lagi perihnya hati saya, saat kawan² ada yg telpon dan minta carikan pasokan batu bara untuk pasokan listrik di Jawa. untunglah, sudah saya haramkan diri dan anak cucu saya untuk terlibat usaha yg terkait pengerukan SDA. walau saya juga mengerti kepentingan strategis menjaga pasokan listrik jawa, sebab itu adalah buah dari kebijakan pembangunan tempo dulu yang sentralistis. karena itulah, persoalan listrik bagi saya adalah bagian dari masalah keadilan sosial.


    karena itu pulalah, pada dasarnya melalui tulisan di atas itu saya tidak berharap banyak, bahkan saya meminta PLN jangan terlalu mengumbar janji sebagaimana yang pak dahlan iskan sampaikan melalui tipi tempo hari, berikan saja kami sesuatu yg realistis, jangan sampai kami bermimpi


    tapi, untuk soal demo... hehehe... biarlah masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan uneg²nya, karena jika ditahan akan berbahaya, percayalah, psikologi massa itu rumit urusannya. sudahlah pernah saya temui akibat dari perasaan masyarakat yg menumpuk dan tak tersalurkan puluhan tahun. percayalah, mengijinkan demo itu akan lebih baik bagi PLN, walau saya juga berharap jangan anarkis.


    biar adil, panjang juga kan jawabannya. hehehe...

    :)

    BalasHapus
  10. sebuah ajakan yang simpatik ketika pln sedang menghadapi banyak masalah, pakacil. listrik byar-pet agaknya memang sudah menjadi gejala di berbagai daerah. semoga saja secara bertahap, aliran listrik makin lancar jaya dan tak byar-pet lagi.


    semoga pak sawali, semoga... walau aslinya menyimpan rasa mangkel, tapi tetaplah berusaha untuk jangan sampai anarkis. yah... ngomel dikit² tentu tuhan tak marah... hehehe..

    BalasHapus
  11. wooo. pakacil menunjukkan nama aslinya!
    tetap sabar mas. doa setiap hambanya tu selalu dikabulkan. kalau ga di dunia ya pasti dech ntar di sorga dikasih penerangan, seterang-terangnya. salam buat bidadari disana. kalau bercinta jangan matiin listrik. ingat penderitaan waktu masih di bumi :)


    lho... kok cuma titip salam, ga pingin sekalian ke sana bareng² apa? kalau di surga masih mengharap listrik sih agak repot, itu di neraka juga sudah jelas pakai api, pastilah terang benderang, cuman rasanya yang beda. ihihihi...
    *nov, sik nang suroboyo a? aku arep nang malang ki...

    BalasHapus
  12. Iya, saya pun tak berharap banyak dg program yang dicanangkan Pak Dahlan. :)


    Saya rasa Pak Dahlan masih harus berjuang keras. Saya salut dengan kinerja beliau waktu masih jadi CEO Jawa Pos group. Begitu dia pindah ke PLN, saya malah meragukan kinerjanya. PLN gk bisa disamakan dengan perusahaan biasa. *hmm*


    beliau memang harus berjuang keras, karena pesoalan yang dihadapi memang tidak mudah. saya tidak ragu pada kinerja beliau, tapi mungkin beliau harus mendapatkan support yang lebih dari pihak² di luar beliau pribadi.

    BalasHapus
  13. untungnya di jawa ga kayak di Kalimantan *hmm*
    Kalo kayak disana, bisa stres semua orang yang kerjanya mau ga mau harus pakai komputer ;)


    karena itu, memang sudah seharusnya bersyukurlah kawan² yang ada di jawa, kalau saya sih sudah lewat batas stressnya, jadi ketawa² saja, cuman ngomel dikit² tentu tuhan tak marah. hehehe...

    BalasHapus
  14. energi Indonesia banyak, tapi sayang jadi komoditas ya, tak benar2 jadi energi sebenarnya buat bangsa ini


    dan apa kabar listrik dengan sumber energi alternatif? anggota DPR-RI sudah pernah pula ada yg studi banding ke perancis soal ini kalau tak salah. hehehe...

    BalasHapus
  15. iya mas jangan dicemooh, toh kita juga tidak bs berbuat banyak iya toh? masalah listrik memang menjadi masalah krusial, apalagi kalau benar ternyata pasokan energi listrik ini akan terus berkurang wah bs gawat darimana kita akan memperoleh sumber energi di tahun2 mendatang bisa-bisa dunia gelap gulita lagi xixi..
    do'akan saja supaya PLN bs lebih baik lg dan menggratiskan listrik untuk seluruh masyarakat indonesia wakkaka


    gratis? wah gawat kalau sampai gratis, itu artinya kita super makmur, bahaya juga kalau sampai super makmur, bingung ngabisis duitnya nanti. hahaha...

    BalasHapus
  16. kalau misal listrik diliberalisasikan sehingga swasta bisa bermain gitu kira2 gmn wan? :D *hayal*


    saya sih tak masalah, utamanya bagi pihak yang bisa menyediakan listrik dengan sumber energi alternatif. tapi negara bermasalah atau tidak dengan itu?

    BalasHapus
  17. oiya Wan...
    itu banner sengaja dipasang ttg PLN emangnya Listrik sering padam di daerah situ wan?? :D

    sy jd kepingin ikutan masang banner nya nih :D


    sengaja? ga ah.. itu kemarin khilaf. khilaf bikin di potoshop, khilaf upload dan khilaf pasang widget. hahaha....

    BalasHapus
  18. sambil minum kopi pak
    *mak pesen dua cangkir..
    :mrgreen:


    kopi? ogah.. saya sudah ga bisa minum kopi, tapi kalau teh panas atau stmj sih oke banget.

    *siul*

    BalasHapus
  19. bener om... menghujat tidak memberikan solusi, berdo'a yang terbaik adalah lebih baik

    tabik


    ya, mudah²an lah solusi pembangunan pembangkit baru bisa terealisasi dan lancar dengan bantuan doa orang banyak :)

    BalasHapus
  20. Bener, memang harus sabar. Tapi kalau byar-pet-nya terlalu sering ya habis juga kesabarannya.


    karena itulah, kalau masyarakat mau demo ya silakan saja. kan ngomel dikit² tentu tuhan tak marah. hehehe...

    BalasHapus
  21. walaaah langsung dijawab ama petugas pln. salut mas irawan. permasalahan yang ditulis ama mas wahyu sama seperti di kabupaten tempat saya tinggal. sama2 byar-pet. tapi anehnya rakyatnya mau aja nerima janji politik masalah kelistrikan dalam kampanye bupati 2 tahun lalu.

    saya pikir, emang, masalah listrik adalah masalah nasional dan gak bakal bisa diselesaiin lewat jalur politik seperti yang diungkap mas wahyu. masalah listrik terlepas dari urusan dan kemauan politik politisi. dan itu terbukti di sini. sang bupati yang terpilih, gak bisa nepatin janji. la wong emang pasokan listrik negeri ini segitu-gitunya. mau ditambah gimana kalo biaya produksi lebih mahal ketimbang harga jualnya. itu masalah. tapi tetap aja harus ada kemauan politik juga untuk menyelesaikannya. kalo ada politisi yang gak sanggup meningkatkan kinerja dan daya pelayanan pln, napa juga gak ada politisi yang mendobrak mereka. ajuin hak angket aja. politisi A gak bisa, mungkin politisi B bisa menyuarakan itu.

    dan yang penting pemerintah juga harus ningkatin subsidi dan bantuan buat pln. kalo emang sumber pemasukan pln adalah masalah, seharusnya pemerintah membantu. jangan lepas tangan. bukan begitu mas wahyu? ikut komentar panjang biar adil *siul*



    DPRD Kalsel tempo hari sudah menyatakan bingung dan menyerah, mereka sudah habis jalan, dan mempersilakan masyarakat kalsel untuk melakukan gugatan class action terhadap PLN. tapi, saya pikir, gugatan yang bagaimanapun tidak akan menyelesaikan persoalan teknis.

    sekitar ±2 tahun lalu atau tahun kemarin, lupa saya, pernah pemerintah propinsi kalsel dan seluruh pemerintah kabupaten/kota se-kalsel berniat untuk urunan dan membelikan pembangkit untuk kemudian diserahkan pada PLN, tapi tidak direstui oleh pemerintah pusat, karena menyalahi aturan katanya.

    dukungan dari pemerintah, dalam hal ini adalah pemerintah pusat tentu sangat penting, karena persoalan listrik dan PLN memang bukan domainnya pemerintah daerah. DPR-RI? pernah ada anggota DPR-RI yg konon studi banding ke perancis tentang listrik energi alternatif, dan hasil serta tindak lanjutnya sampai sekarang? hehehe.. sebagaimana biasa, tak jelas.

    BalasHapus
  22. semoga saja kedepan Listrik di Indonesia tidak byar pet... *nunggu* *nunggu*


    amiin...

    :)

    BalasHapus
  23. saya setuju kok mas, PLN boleh didemo (tapi saya jangan ya), PLN perlu dikritisi dan diperingatkan biar kerjaannya gak ngelantur... dan wujud kepuasan atau kekecewaan hasil dari kinerja perusahaan kan yang ngukur konsumen, bukan perusahaannya sendiri.

    Dan yang perlu dihindari adalah tindakan anarki karena gak ada untungnya buat kedua belah pihak.

    Negara ini bisa maju kalau kita semua mau dan sadar bahwa pembangunan itu untuk Indonesia, bukan perorangan, kelompok, atau perusahaan. Jangankan dengan warga, lha sesama BUMN aja sering recok kalau sudah bahas kontrak atau jual beli. Pengennya buat keuntungan perusahaan, bukan keuntungan negara.



    hahaha.. kalau tujuan demonya mas irawan sih salah kaprah, justru yg harusnya demo itu adalah mas irawan, tapi demo masak dan soal makanan, hehehe... dan ya tentu sepakatlah saya soal jangan anarkis itu.

    dan tak akan berkomentarlah saya soal recok kontrak antar bumn itu. hehehe...

    BalasHapus
  24. selama upetinya gedhe dan siap dipajakin sm pemerintah kayaknya pemerintah semestinya mau.. :D
    *ngakak*



    hehehe.. iya juga ya... bener juga itu.
    whuihiihi...

    BalasHapus
  25. Khilaf yg disengaja khan???
    *ngakak* *guling*


    yah... semacam yang demikianlah adanya

    *ngakak*

    BalasHapus
  26. hahaha... minyaknya juga sekalian... ^^v


    nah, itu yg agak susah. produk stategis itu, perlu pemikiran lebih jauh nantinya

    *siul*

    BalasHapus
  27. Anehnya, dalam kesengsaraan 'Byar pet' yang kian merajalela, remaja ditempat saya malah senang. Pasalnya, giliran byar pet kebagian saat malam minggu! :lol:


    hahaha... pertanyaannya adalah, mas kaget termasuk yang ikut senang juga atau tidak. hahaha...

    BalasHapus
  28. Kita butuh pemimpin yang ngga bicara normatif ya mas ya... mudah2an Kalimantan segera punya, dan masalah listrik segera selesai, amin...

    Salam hangat dari Malang. *kedip*


    indonesia, mbah... mungkin yang lebih butuh itu adalah indonesia, bukan kalimantan semata :)

    BalasHapus
  29. Menjemput Kenangan di Kota Malang | Mhd Wahyu NZ • Banjarbaru6 Juni 2011 18.19.00 WITA

    [...] Selatan lainnya. Malang, yang bertahun-tahun lalu di sana hanya pernah sekali saya rasakan aliran listrik yang [...]

    BalasHapus
  30. […] Aku sendiri dengan beberapa pendengar RRI, kemudian pada suatu rentang waktu memiliki acara sendiri di RRI Pro-3 Banjarmasin. Sebuah acara yang kemudian dulu itu kunamakan Beranda Malam. Tentang acara Beranda Malam ini sendiri sedikit pernah kuceritakan melalui sebuah tulisan beberapa tahun lalu. […]

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru