Lapangan Murdjani di Kota Banjarbaru

Lapangan Murdjani, yang terletak di pusat Kota Banjarbaru, persis di depan Balai Kota Banjarbaru, adalah sebuah fasilitas umum yang mungkin layaknya alun-alun yang banyak terdapat di Jawa. Sekitar putaran Lapangan Murdjani berdiri perkantoran milik Pemerintah Kota Banjarbaru, Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan, serta instansi pusat.

Lapangan Murdjani terbagi atas 2 (dua) bagian area utama, yakni sisi utara sebagai area beraspal dan sisi selatan yang merupakan area lapangan rumput, juga sebuah lapangan sepak bola. Sisi luar Lapangan Murdjani adalah sebuah jalan yang diapit oleh trotoar dengan lebar masing² ±2 meter *perkiraan*.

Lapangan Murjani
Pada setiap hari, semenjak sore sampai dengan malam hari, Lapangan Murdjani menjadi pusat berkumpulnya masyarakat, utamanya anak muda, ataupun ½ muda atau ¼ muda. Sendirian, bersama kawan, atau bersama keluarga. Baik sekedar duduk² melewatkan waktu, atau menikmati ragam jajanan ringan yang tersedia di sekeliling Lapangan Murdjani tersebut.

Lapangan Murdjani Banjarbaru, Pusat Aktivitas Masyarakat[/caption]Setiap harinya, sisi luar Murdjani, yakni pada trotoar² itulah masyarakat duduk dan bersantai, ada yang menggunakan kursi, ada yang lesehan, menikmati jagung bakar, roti, teh poci, dan lain² panganan. Sementara para penjual pentol lebih terkonsentrasi pada bagian dalam Lapangan Murdjani.

Sisi utara Lapangan Murdjani, kerap digunakan oleh kelompok² anak muda untuk melakukan atraksi motor, atau juga kelompok atraksi sepeda, bahkan untuk balapan liar!!! Sementara sisi selatan seringkali digunakan untuk bermain sepak bola, futsal, atau anak-anak berlarian, karena lebih aman kalau jatuh di rumput, mungkin.

Sabtu sore sampai dengan sabtu malam, merupakan puncak dari berkumpulnya manusia di Lapangan Murdjani, tidak hanya warga Kota Banjarbaru, melainkan juga daerah tetangga. Jadilah itu jalan sekeliling lapangan menjadi lebih sliiiiim…, arus lalu lintas padat merayap.

Minggu pagi, sejak duluuuuu Lapangan Murdjani juga digunakan sebagai pusat aktivitas warga kota, jogging, senam massal, atau sekedar duduk santai. Mungkin mirip macam aktivitas di Lapangan Gasibu, Bandung. Prestasi terbesar saya jogging mengelilingi Lapangan Murdjani itu adalah sebanyak 13 kali putaran! wow… tapi, itu dulu, sekitar tahun 1994, untuk terakhir kalinya saya sanggup jogging dengan begitu kalap *Plakk..*
Saya, yang memang tak begitu suka dengan keramaian begitu rupa, memang jarang sekali ikut²an nongkrong di Murdjani, kecuali ada sesuatu. Namun, saya juga ikut senang dengan mereka yang duduk² bersantai, toh itu tidak merusak atau mengganggu orang lain.
Sekali waktu, Lapangan Murdjani juga digunakan untuk beragam kegiatan, pameran/expo beneran, juga pameran gadungan yang saya sering sebut sebagai pasar pindah, kegiatan resmi daerah, dan lain sebagainya. Kegiatan tersebut tidak hanya untuk tingkat Kota Banjarbaru, namun juga untuk tingkat Kalimantan Selatan.

Oh ya... karena banyaknya muda-mudi yang kumpul-kumpul di sekitar Lapangan Murdjani, maka yang sudah putus asa akan pencarian jodohnya, boleh coba ikut nangkring di Murdjani, siapa tau ada yang cocok. Cuma kalau para wanita cari yang persis macam saya agak susah, sebab sayanya itulah yang jarang sekali nangkring di sana.
*siul*

Lapangan Murdjani, adalah sebuah nama lapangan yang didasarkan pada nama seorang Gubernur Kalimantan, yakni dr. Murdjani, yang menjabat pada periode 1950-1953.

Sumber foto:
Foto Udara Kota Banjarbaru, Pemerintah Kota Banjarbaru

Catatan:
Ini adalah bagian pertama dari tulisan khusus tentang Lapangan Murdjani, bagian panasnya nanti pada bagian kedua setelah keseluruhan proses selesai dilakukan. Bagian panas yang mungkin menimbulkan persoalan. Hehehe...
*hmm*

Komentar

  1. Wah,.. aku pribadi seneng banget nih kalo ada lapangan atau taman terbuka hijau yang dipersembahkan untuk masyarakat. Karena sejatinya masyarakat itu butuh hiburan. Jadi jangan dipasok sama mol lagi sama mol lagi.. yang gini2 pan positip.. tapi balapan liarnya ituh.. -__-"


    bener tante... kini nampaknya secara perlahan publik telah terus kekurangan ruang dan diganti dengan mesin² uang. menyedihkan...

    BalasHapus
  2. Mungkin seperti alun-alun ya mas. Kayanya pak gubernur sukses menarik perhatian warga dengan membangun lapangan tersebut.

    Hampir setiap minggu saya dan istri duduk-duduk di lapangan/taman deket rumah, mencari keramaian dan penjual makanan yang harganya masih dibawah Rp 5000.

    Tapi saya "curiga" dengan bagian panas yang belum dikeluarkan.


    yap, macam alun². saya memang tak senang duduk/nongkrong di keramaian, jd sangat jarang mencari keramaian spt mas irawan, tapi suka melihat taman, dan suka saja bersantai kalau tamannya tak terlalu ramai.
    curiga? ahahaha... nantilah, saya harus mengantisipasi beberapa hal dulu. ihihihi...

    BalasHapus
  3. Sukurlah jikalau ini masih yang adem perihal lapangan Murdjani, membayangkannya lapangan ini akan lebih mudah kalau saya lirik alun2 disini (dengan perbedaan, aspal dilapangan).
    Semoga pada jilid berikutnya, panasnya masih bisa ditolerir, kalaupun membara, saya kembali kebgian yang masih banyak muda-mudinya ini *siul*


    hahaha... kalau begitu tunggu saja, panasnya apa dan bagi siapa, cuman kalau urusan mudi-mudi sih, sayanya juga mau ikutan. hahaha...

    BalasHapus
  4. iya ini settingnya kayak Alun-alun kalau di jawa...

    namanya un berbau Jawa
    Murdjani

    :-s *joged*


    yup... tapi di banjar tidak menggunakan istilah alun². lagi pula seingat saya alun² di jawa selalu berseberangan dengan masjid besar. kalau tidak salah ingat.

    BalasHapus
  5. nunggu yang 'panas'nya kang Way :)


    silakan tunggu kalau begitu. tapi... Way? hmm... hanya ada beberapa orang seingat saya yg memanggil saya begitu. tapi pas lihat poto gravatarnya, bingung sayanya

    *hmm*

    BalasHapus
  6. wah asik.. maen bola di sana gratis :)


    kalau soal gratis atau tidak, yg tau pasti adalah pemko banjarbaru. hehehe..

    BalasHapus
  7. Di Ponorogo juga ada, tapi sebutannya Aloon-Aloon (Alun-Alun). Mungkin luasnya hampir sama, hehehe (nggak pernah ngukur luas aloon-aloon saya). :D


    saya juga gak pernah ngukur itu luasnya, tapi sekitaran ±2x lapangan bola lah, mungkin :)

    BalasHapus
  8. kunjungan perdana mas
    ....................
    apapun namanya baik lapangan maupun alun2, merupakan sarana hiburan khususnya kaum menengah ke bawah.
    ironisnya dengan adanya kelonggaran pemerintah, tuk memanfaatkan sarana tersebut, para pedagang kaki lima biasanya menjamur dikawasan yg strategis ini *tepuktangan* *tepuktangan* *tepuktangan*


    pedagang kaki lima di murdjani memang ada, dan terkoordinir dengan baik jd ga boleh sembarangan jualan, beruntung mereka termasuk disiplin dengan jadwal yang diberikan dan kewajiban mereka untuk menjaga kebersihan.

    BalasHapus
  9. di kampung saya dulu juga ada lapangan, tapi tak bernama, jadi kalau pada mau ke sana cukup bilang, : "jumpa di tanah lapang ya!" anehnya udah pasti ngga salah, sudah pasti akan muncul di lapangan yang sama hehehe

    biasanya klo lapangannya rada rimbun, yaaah suka ada yang menyalahgunakan hehehe siap2 jadi satpam ae mas :P


    artinya istilah tanah lapang tersebut sudah terasosiasi dengan baik ditengah publik, macam saya dan beberapa kawan dulu kalau menyebut kampus, maka itu berarti kantin. dan... eee.. soal penyalahgunaan itu saya tak akan beramsumsi untuk hal apa. jadi biarlah itu menjadi urusan satpol pp hahaha...

    BalasHapus
  10. Bisa buat ball ballan enggak Mas..?


    kan sudah ditulis, memang ada lapangan bolanya. tapi ga bisa buat liga champions

    BalasHapus
  11. asik. kalo di kota tempat kelahiran, di depan rumah, udah gak ada tanah lapang gitu. sudah jadi dijual ama pengembang komplek tanah lapangnya. cuman ada lapangan sepak bola yang gak enak buat nongkrong. tapi saya tinggal di kabupaten seperti sekarang asik ada tanah lapangnya. khusus buat istirahat, nongkrong, joging. karena indah juga. kota-kabupaten emang sedikit beda untuk fasilitas umumnya *kedip*


    rerata pengembang perumahan memang mengambil keuntungan dari lahannya, dan kewajiban mereka atas penyediaan fasum dan fasos kadang harus diawasi, dan beruntunglah mas rusydi juga kini tinggal di daerah yang masih menyediakan ruang publik

    BalasHapus
  12. Trima kasih buat informasinya... wah, saya belum pernah kesana, tapi kayaknya lapangan ini wajib saya kunjungi deh kalau suatu hari nanti saya punya kesempatan buat ke Banjarbaru...ehm, namanya lapangan Murdjani ya!


    yang jelas bukan saya yang mewajibkan lho ya. hehehe... cuma memang tempat ini cocok bagi yang senang santai di ruang terbuka.

    BalasHapus
  13. wah, kebayang ramenya kalau malam mingguan di lapangan itu, pak, hehe...
    pengen ikut duduk nyantai nikmatin angin sepoy-sepoy kota banjarbaru.


    iya pak, malam minggu super padaaaaat, sayangnya orang macam saya gampang pening di kepadatan seperti itu. hehehe...

    BalasHapus
  14. eh, ini mbak titiw akmar yang suka kelayapan itu?


    kalau sekaligus suka jumpalitan kalau dipoto, maka tak salah lagi adanya

    *nyerah*

    BalasHapus
  15. Inget Banjarbaru inget sahabat sekaligus guruku, Pak Ewa yg punya Banjarbaru Post :)


    kalau saia sih kalau ingat banjabaru, ya memang harus selalu ingat, soalnya tinggal di banjarbaru. hahaha...

    BalasHapus
  16. baguslah mas kalo masih ada taman hijau buat olah raga, refreshing, cari jodoh :D cuma biasanya malem tempat transaksi esek-esek (biasanya ya.. ga semua)


    beruntung sekali hal tersebut tidak pernah ditemukan, minimal dari data hasil penertiban. yang ada cuma anak² muda nongkrong di beberapa sudut nan temaram itu. hehehe....

    BalasHapus
  17. 3 Banjar di Kalimantan Selatan | Mhd Wahyu NZ • Banjarbaru30 Mei 2011 10.24.00 WITA

    [...] SelatanBerawal dari komentar Ayahnya Ranggasetya, yang kemudian saya edit untuk merubah & melengkapi Kota Banjar menjadi Kota Banjarbaru, itu [...]

    BalasHapus
  18. iya.. desainnya sunan2 dulu alun-alun seberangnya masjid
    dan ditengahnya ada pohon dua

    BalasHapus
  19. Karena sejatinya masyarakat itu butuh hiburan. Jadi jangan dipasok sama mol lagi sama mol lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!