Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997

"Banjarmasin kerusuhan!" itulah informasi ringkas dan tegas yang saya terima pada tanggal yang sama dengan hari ini, 14 tahun lalu, 23 Mei 1997. Saat itu saya masih berada di Malang, kota yang dingin. Komunikasi pendek yang belanjut dengan pertanyaan ringkas, bagaimana informasi terkait keluarga, apakah mereka baik-baik saja.

23 Mei 1997, Banjarmasin, ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, rusuh. Bertepatan dengan hari terakhir kampanye terakhir pemilu sebuah partai politik. Berita singkat yang sanggup membuat saya kehilangan konsentrasi.

Sehabis mandi, pikiran masih kosong, jauh menerawang, membayangkan apa yang terjadi. Satu hal yang saya ingat pasti adalah, lotion yang biasa digunakan untuk kulit, saya usapkan ke rambut di kepala, saya rasa itu minyak rambut. kejadian kecil yang membuat saya kaget sendiri dan terpaksa mandi lagi, keramas lagi.

Jumat kelabu, kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997
Saya sendiri merasa, bahwa saya tidak pantas untuk menulis banyak tentang hal itu, karena saya berada jauh dari Kalimatan Selatan waktu itu. Sekalipun banyak informasi dan analisis yang dilakukan dan dikumpulkan.

Emosi yang ada merupakan adalah hasil ikatan batin yang begitu kuat dengan tanah ini, tanah Banjar. Tanah di mana leluhur kami turut mengisi denyut hidupnya, dan sayapun ingin begitu, akan begitu dan harus begitu.

Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997, atau biasa disebut Peristiwa Jumat Kelabu mungkin sampai saat ini tak lagi kelabu, tapi sudah menjadi kelam. Kelam dalam kenangan pahit, kelam tertanam dalam kuburan massal, kelam tenggelam dalam sejarah itu sendiri.

Saya, yang sedari dulu sampai saat ini masih tetap tak percaya, bahwa Urang Banjar dapat membuat rusuh karena alasan politik, tetaplah masih berada dalam kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Entah kapan semua akan terbuka, menjelaskan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Saya bingung, sama seperti halnya kuburan massal yang mungkin tak bernisan, bingung dalam kelam, tentang sebuah sejarah kelam. Walau hanya satu hal yang dapat dipastikan, bahwa jika saja nafsu dapat dipenjara, maka pastilah penjara sudah penuh tak terkira.

dan... apa kabarmu, sejarah?
Banjarbaru, 23 Mei 2011
mengenang Banjarmasin, 23 Mei 1997
~ dalam bingung ~

Komentar

  1. dan manusia apalagi penguasa seakan lupa sejarah sama sekali :(

    EM


    mungkin sudah ada pasangannya, ada berusaha melupakan, dan ada yang selalu teringat :(

    BalasHapus
  2. Ayo, galakkan kerusuhan....


    wuih... saya harus hati² menanggapi ini. hahaha...

    :)

    BalasHapus
  3. Loh... saya baru tau ada kejadian seperti itu... *ketahuan jarang baca koran*


    arus informasi waktu kan memang masih terbatas, walau sudah ada tipi swasta, tapi juga masih ada departemen penerangan. hehehe...

    BalasHapus
  4. ck ckc ckck.... pantesan rambut Pakacil demikian halus lembut , ternyata perawatannya dengan lotion *guling*
    dan, bunda ikut bingunglah juga jadinya, krn baru tau kalau bbrp tahun lalu ada kerusuhan di Banjar :sad:
    salam


    memang bunda, sangat menyedihkan, ratusan orang yang mati sia² demi entah apa.
    tapi... rambut sayanya sih memang konon dari rahim sudah bagus, bunda. hehehe

    BalasHapus
  5. Ga perlu pak Mars, kerusuhan sudah galak....


    hahaha... pasnya memang ini sepertinya.

    :D

    BalasHapus
  6. kerusuhan apa yah? maklum saya masih ABG di tahun 97... tapi kalau kerusuhan 98 lengsernya Pak Harto saya tau...


    saat itu kampanye terakhir Golkar, tiba² massa yang mengenakan atribut PPP ngamuk begitu rupa. ada mall yang dibakar, dll. korban jiwa sangat banyak. :(
    *tahun sudah saya edit & betulkan, sehingga komentar koreksi dr mas irawan saya hapus :)

    BalasHapus
  7. kasihan mereka yang terlibat dan menjadi korban,
    mereka bertindak dengan tanpa pikir panjang
    dan memperjuangkan partai politik yang belum tentu memperjuangkan mereka


    banyak pihak yang jadi korban, langsung dan tidak langsung, demi sebuah tujuan yang entah apa. saya sendiri masih bingung sampai sekarang, ada analisis yg menyebutkan itu adalah sebuah test case. tapi, entahlah... gelap.

    BalasHapus
  8. wah waktu itu saya masih SMP.... apalagi mungkin kerusuhan itu tidak masuk di tipi ya... jadi g tahu deh saya


    jujur saja, saya lupa masuk tipi atau tidak, tapi yg jelas arus informasi waktu itu tidak sederas saat ini.

    BalasHapus
  9. ya pasti bukan urang Banjar yg ngelakuinnya
    :|


    ya, sayapun tak percaya, kita mungkin sama² tau massa dari mana. tapi biarlah itu ada dalam sejarah sementara. semoga tidak ada gelombang ketiga

    BalasHapus
  10. Sejarah tak berkabar, mungkin telah kabur, terkubur, atau mungkin tak tercatat...
    Kalau sudah bicara politik, mungkin bicara tentang besar kecil, tentang apa dan bagaimana, mungkin sejarah mencatatnya (kalau tidak hilang catatan tersebut.. ) :(


    dan konon, sejarah ditulis oleh para pemenang. kalau memang demikian, saya pun tak tau, siapa yang menjadi pemenang, menang atas apapun saya tak tau.

    BalasHapus
  11. jadi itu 23 mei 1997 ya?
    saya kira tahun 1998..


    ya.. tahun 1997, dan kalau dihitung itu sama dengan 1 tahun 2 hari sebelum pak harto lengser.
    *dan maaf, komentar satunya saya hapus, karena memiliki konteks yg sama dan sudah terjawab di sini

    BalasHapus
  12. wah, saya jadi selalu penasaran, kenapa kasus kerusuhan seperti ini jadi demikian rumit utk diungkap siapa dalangnya? sama seperti yang terjadi di jakarta seperti tragedi trisakti itu.


    hanya bisa berharap, bahwa mungkin suatu saat, akan ada bagian dari pelaku yg tak kuat melawan nurani, lantas membuka tabir gelap ini :|

    BalasHapus
  13. Saya bingung, sama seperti halnya kuburan massal yang mungkin tak bernisan,...

    hahahahahaha saya harus tertawa di setiap postingnya pak wahyu, mau kerusuhan, yang penting hepi dulu lah.


    waduh, bukan saya orangnya yang mengharuskan lho ya... pak guru ikhlas kan ya? hehehe...

    BalasHapus
  14. sejarah memang tidak akan terlupakan dan selalu dalam ingatan, tapi hanya satu yang selalu dilupakan yaitu... korban kerusuhan, baik yang korban jiwa dan korban nyawa... karena mereka hanya dianggap sebagai tumbal sesaji


    tumbal sesaji? sepertinya ini adalah salah satu istilah yang pas, walau kadang bingung, tumbal untuk kepentingan apa? :|

    BalasHapus
  15. Wah, maap Mas, saya gak tahu bahwa tahun 1997 ada kerusuhan di Banjarmasin.... :(
    Saya harap itu tak ada hubungannya dengan kerusuhan Mei 1998...? *geleng*


    lho... mas asop tak perlu minta maaf karena ga tau, soalnya saya taunya juga pas ditelpon saat baru kejadian, barulah sayanya tau, yah... Akhirnya kita jadi sama tau kan? Walau saya lbh cepat 14 taun. hehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!