Dilobi Pindah Paspor, jadi Warga NII

"Ibaratnya, kita ini permata yang jatuh ke tempat sampah", demikian ucap seorang rekan kala mengajak saya berbincang di koridor fakultas belasan tahun silam. Saya merasakan betul aksentuasi yang digunakannya pada kalimatnya waktu itu.

Topik utama yang disampaikan rekan tersebut kepada saya memang soal agama. Sembari ia mengutarakan apa yang ada dalam kepala atau ingatannya, saya hanya berusaha menjadi seorang pendengar, yang memang hanya memerlukan modal sebelah kuping.

Tak hanya di kampus, tak perlu waktu berhari-hari setelah ia menanyakan alamat kost, ia juga muncul di rumah kost yang saya tempati. Membawa agenda yang sama, diskusi soal agama. Sembari duduk di sebuah kursi kayu pada balkon kost-kostan.

Saya yakin, bahwa waktu itu ia tidaklah tau mengapa saya ajak duduk di tempat itu. Saya kasih tau saat ini pada Anda, bahwa di sebelah kost saya itu adalah kost-kostan putri, dan tempat yang memiliki sudut pandang paling bagus dari tempat kost saya adalah di balkon, ya... tempat di mana kami duduk waktu itu.

Topik pembicaraan tak pernah berubah, dari apa yang disampaikan kepada saya dan dapat saya ingat secara terbatas adalah perlunya niat dan usaha untuk memperbaiki diri dan ummat Islam. Oh, tentu saja saya tak bisa membantah soal ini, kalau soal garis besarnya itu. Benarlah itu adanya.

Namun, saat bicara soal hijrah, dan di ajak hijrah, bingunglah saya jadinya. Hijrah yang bagaimana dan model apa itu membuat saya bingung. Lagi pula, sementara kuping saya mendengar, mata saya terus memandang kamar kost sebelah. Siapa tau ada bonus menarik. Waktu itu.

Berhubung pada dasarnya untuk soal agama saya tidak mau yang aneh-aneh atau macam-macam, jadilah saya menjadi tidak tertarik sama sekali. Dengan logika seadanya, waktu itu saya seingat saya pernah menjawab:

"Rasulullah itu, sepengetahuan saya kalau tidak salah adalah orang Islam yang betul-betul sendirian di tengah masyarakat jahiliyah waktu pertama jadi rasul. Tapi beliau tidak mengasingkan diri dan berpisah dari masyarakat. Padahal, lebih sampah mana masyarakat jahiliyah arab waktu itu dan orang Indonesia?"

"Lagi pula, kalaupun permata jatuh ke tempat sampah, ia tetaplah menjadi permata, tidak akan pernah berubah ia menjadi sampah. Berlian jatuh ke dalam septic tank juga tetap ia menjadi berlian, tidak berubah menjadi kotoran hasil buangan hajat manusia".
Bagi saya, orang Islam yang menarik diri dari masyarakat, sekalipun yang dianggapnya sampah, lantas mengeksklusifkan diri, tak mau bergaul dengan orang lain, bahkan orang Islam selain kelompoknya dianggap kafir dan lain sejenisnya, bagiku telah melakukan pelecehan kepada Rasululllah, serta merasa lebih hebat dari Beliau.
Itu adalah apa yang mampu saya ingat tentang jawaban seadanya saya atas apa-apa yang ia sampaikan. Entah karena apa, mungkin karena merasa saya tidak serius atau bagaimana yang saya juga tak mengerti, ia undur diri dari rumah kost yang ibu kostnya memiliki seorang puteri itu. Sayang sekali, padahal tak sempat ia melihat penghuni kost sebelah.

Kini, jika saya diajak untuk pindah negara lagi, semisal NII dan sejenisnya, saya sudah memiliki jawaban lain, dan jawaban itu adalah: "Berada di negara yang sudah jelas berbentuk negara seperti Indonesia saja sudah banyak masalah, apalah lagi negara yang belum jelas macam NII dan lain sejenisnya itu, rasanya sungguh tidak tertarik".

Sekedar bertanya, ada yang pernah liat paspor NII?

Pesan moral:
Pandai-pandailah mencari rumah kost atau kontrakan, sehingga memungkinkan kita untuk mencari alternatif suasana kala perbincangan menjadi tidak menarik.

Komentar

  1. mengangkat masalah NII dari sudut pakac eh ... salah, dari sudut mwahyunz lebih mudah bagi saya untuk mendapatkan pencerahan. Terima kasih ya

    BalasHapus
  2. # kadang kala kita terlalu serius dalam mensikapi sesuatu pak mandor, sehingga berlebihan, termasuk para warga negara II itu, yg mungkin terlalu serius mau bikin negara yg akhirnya malah bikin susah orang lain :lol:

    BalasHapus
  3. kok aku gak diajak? apa aku ini dianggap sampah? *guling* atau mungkin kata2 Permata diantara sampah diganti Sampah yg ingin terlihat seperti Berlian????

    BalasHapus
  4. # hahaha... cuma jawab dgn menggunakan analogi dia sendiri ron, biar dia bisa faham dengan mudah. tapi... ngajak aku aja bisa dianggap ngerusuhi, apalah lagi ngajak kamu...
    *guling*

    BalasHapus
  5. pesan moralnya sama sekali ga bermoral ! hahahhaha...

    sejauh ini ga pernah ada yang mau ngajak aku hijrah ke nii. keknya mereka menganggap aku bukan orang penting :D

    BalasHapus
  6. topiknya berat ini, soal mencari kos2an dengan pemandangan bagus itu sulit, lelah saya memikirkan postingan ini..

    BalasHapus

Posting Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru