Dari Royal Wedding ke Kesultanan Banjar

Akibat pemberitaan media, masyarakat dunia jadi tau kalau di Inggris sana kemarin sudah dilangsungkan akad nikah antara Mas William dan Mbak Kate yang bertajuk Royal Wedding itu. Bahkan, ada stasiun televisi di Indonesia yang menyiarkannya secara langsung, walau tidak saya tonton secara langsung.

Karena memang tidak menyaksikan acara tersebut, saya sendiri saya menyaksikan cuplikan-cuplikan berita yang disajikan televisi melalui program berita dan sejenisnya, jadilah saya "agak melihat" sedikit suasana yang terjadi di Inggris sana.

Singkat cerita, saya kagum dengan begitu antusiasnya mereka untuk menyaksikan secara langsung prosesi keluarga Kerajaan Inggris tersebut. Bahkan kata berita, ratusan ribu manusia berkumpul untuk menyaksikan Mas William mencium mesra Mbak Kate di balkon.

Mungkin tidak sekedar terkenangnya masyarakat Inggris (dan dunia) atas sosok Lady Di, saya yakin ada yang jauh lebih mendasar daripada itu. Bahwa mereka masih sangat menghormati eksistensi institusi kerajaan yang sudah amat sangat berumur panjang itu.

Mungkin kalau di Indonesia seperti masyarakat Yogya dengan Kesultanan Yogya-nya. Ingatlah, betapa masyarakat Yogya begitu bersemangatnya menghadapi persoalan RUU yang mengangkut keistimewaan Yogyakarta tempo hari.

Sekelebat, dalam keadaan belum mandi, saya teringat pada beberapa waktu lalu, kala prosesi penobatan Gt. Khairul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar dilangsungkan

Teringat saya pada ragam respons masyarakat Kalimantan Selatan akan usaha menghadirkan kembali salah satu ikon budaya Urang Banjar, yakni Kesultanan Banjar. Seperti biasa, opini selalu terbagi antara pro dan kontra, bahkan tidak sedikit yang mencibir. Bahkan sejumlah analisis masyarakat mengaitkan hal tersebut dengan kemungkinan pertarungan politik Kalimantan Selatan pada 2015 mendatang.

Para penggagas sudah berulang kali menyatakan, bahwa hal tersebut dilakukan bukanlah untuk menghidupkan kembali feodalisme masa lampau, melainkan untuk menjaga, menggali dan menghidupkan kembali Budaya Banjar yang mungkin telah pupus.


Perdebatan perlu tidaknya menghidupkan kembali Kesultanan Banjar tersebut timbul mungkin sebagai akibat dari tutup bukunya Kesultanan Banjar pada masa lalu, yang berimbas pada terjadinya diskotinuitas sejarah. Sekali lagi ini mungkin, sekedar opini sok tau dan sok ilmiah. Bahkan jujur saja, saya sempat curiga, jangan-jangan itu hanya karena persoalan figur saja. Tapi sudahlah, kalau sudah bicara person, figur, itu memang tidak akan ada habisnya, selalu ada pro-kontra.

Tapi rasanya peluang untuk mendapati sikap & apresiasi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) terhadap Kesultanan Banjar saat ini sebagaimana masyarakat Yogya dan Inggris adalah mendekati mustahil.

Pada sisi lain, saya sendiri adalah termasuk orang yang mengamini pendapat Ali Syari'ati, bahwa budaya itu adalah "cara menjadi". Sehingga, ya sudahlah...

Komentar

  1. Meski mustahil tapi tak salah kalau masih berharap Mas...
    Beberapa kesultanan sudah ada yang mendapatkan hak2nya kembali meski nunggu bertahun2

    BalasHapus
  2. tapi saya g liat pernikahan pangeran wiliam..saya g tau kapan tayangnya,,

    pernikahan saya besok akan tayang jam 25,00 di sluru statisun televisi hahahahaha :razz: :razz: :lol:

    BalasHapus
  3. # mungkin demikian pak mars, semoga para penggagas itu juga memasukkan usaha² untuk mendapatkan lagi warisan budaya banjar yang selama ini masih tersimpan di museum di belanda sana :(

    BalasHapus
  4. # kan sama, saya juga ga liat. tapi kalau nikahan mas adib ditayangin tipi, nantilah saya bicara sama istri, siapa tau dikasih ijin nikah lagi biar juga masuk tipi :lol:

    BalasHapus
  5. saya belum pernah menemukan atawa membaca buku sejarah tentang kesultanan banjar :(

    BalasHapus
  6. # peninggalan sejarah Banjar dalam bentuk manuskrip dan sejenisnya memang amat sangat sedikit, Gus. mungkin karena budaya tutur yg jauh lebih kental. Tulisan tentang Kesultanan Banjar juga tak begitu banyak.
    :sad:

    BalasHapus

Posting Komentar