Bukan Karena iPad, Tapi Karena Cinta

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mendapat pinjaman iPad? Kabar tersebut memang sudah beredar melalui media massa lokal. Masyarakat juga sudah menyuarakan pandangannya.

Sebagaimana biasa, pengadaan fasilitas bagi anggota dewan selalu saja terkait dengan argumen demi menunjang dan/atau atau meningkatkan kinerja mereka. Sungguh, itu merupakan sebuah tujuan yang mulia.

Iqbal atau Yudi, salah satu wakil ketua DPRD Kalsel juga sudah mengatakan, bahwa Anggota DPRD Kalsel nantinya tidak akan direpotkan lagi dengan beragam tumpukan kertas saat menuntaskan tugas dan kewajiban mereka sebagai wakil rakyat. Lagi-lagi ini bagi saya masuk akal.

Sebab, bayangkan saja, kalau wakil-wakil kita itu benar-benar telah bekerja demi kepentingan kita, maka saya tak dapat membayangkan tumpukan berkas yang harus mereka hadapi dalam melaksanakan tugas. Sebab mereka itu berada di tingkat propinsi, lebih besar dari pada kabupaten/kota.
Tapi kenapa masih yang banyak yang tidak setuju, atau minimal amat sangat keberatan terhadap rencana tersebut?
Tidak perlu jauh-jauh, saya sendiri termasuk salah satu yang memberikan alternatif. Mungkin dengan argumen yang terlampau subyektif ;)

Karena mungkin saya masih cukup tradisional, sehingga saat membaca dan mencermati berbagai berkas, saya lebih suka menghadapi kertas. Kenapa? karena bagi saya lembaran-lembaran kertas tersebut "tidak memberikan perlawanan" ketika saya obrak-abrik.

Misalnya, ketika saya harus corat-coret untuk memberikan ciri atau penanda bagian-bagian tertentu yang saya anggap penting, ya mereka diam saya, tidak terlalu merepotkan saya. Saya tinggal coret menggunakan pulpen, selesai. Kalaupun harus membaca, saya rasanya lebih puas juga.

Lagi pula, sampai dengan saat ini saya lebih suka bekerja dengan screen minimal 17", tidak peduli berapa banyak dan berapa murah netbook dengan screen ukuran yang lebih kecil. Tidak sanggup saya berlama-lama mengamati layar yang menurut hitungan saya masih "mungil", sebab dapat membuat saya cepat pusing.
Pada sisi lain, saya curiga. Penolakan banyak kalangan terhadap rencana tersebut bukan karena iPad-nya, melainkan karena rasa cinta masyarakat Kalsel terhadap para wakilnya di DPRD Kalsel sana.
Kenapa demikian? bacalah ragam komentar yang sudah terbit di media massa. Rerata masyarakat menyuarakan soal kinerja legislator Kalsel yang sudah ada. Mayoritas opini mengatakan, anggota DPRD hanya menginginkan fasilitas tapi minim kinerja. Sungguh tak pantas katanya.

Sebab itulah saya yakin, penolakan publik itu justru karena cinta dan kasih sayang. Bagi saya, legislator itu adalah anak kandung hasil perkawinan publik dengan sistem politik. Publik, sebagai orang tua tentu tak ingin anaknya menjadi manja. Orang tua juga ingin anaknya berprestasi, dan kalau sudah berprestasi, orang tua akan dengan sendirinya memberikan hadiah dalam beragam bentuk. Kalau tak sanggup kasih iPad, mungkin sepeda, mungkin mainan baru, atau mungkin juga makan malam bersama, atau sebuah kecupan tanda kasih sayang orang tua.

Oh ya, hanya sekedar iseng bertanya, ada yang tau berapa orang anggota DPRD Kalsel yang punya alamat email? Atau berapa banyak dari kita yang sudah punya alamat email tapi email yang masuk hanyalah notifikasi facebook?

Komentar