Berharap Perubahan di Banjarbaru

"Sampai saat ini, tidak ada gebrakan dan perubahan di Banjarbaru", kalimat semacam itu, dengan cara berbeda namun intinya sama, tidak sekali dua saya dengar dari banyak orang. Terakhir sekali adalah pada hari ini, dari seorang kepala sekolah di Banjarbaru.

Maksud kalimat itu sederhana, sejak dilantiknya pasangan Ruzaidin Noor dan Ogi Fajar Nuzuli sebagai Walikota - Wakil Walikota Banjarbaru periode 2010-2015 pada Agustus 2010 lalu, banyak orang yang berharap perubahan/perkembangan akan terjadi di Banjarbaru. Harapan tersebut tentu tak salah.

Ruzaidin Noor - Ogi Fajar Nuzuli
Umumnya, tak lama kepala daerah dilantik, maka pembicaraan yang beredar -utamanya dilingkar birokrat- adalah tentang mutasi, rotasi atau promosi jabatan. Pembicaraan macam ini sudah lumrah. Saya yang sama sekali bukan PNS juga ikut asyik mendengar tebak-tebakan tentang si anu yang akan menjadi anu, dan si anu yang akan digeser jadi kepala anu.

Tapi bagi saya sudahlah, itu menjadi urusannya kepala daerah dalam mengatur mesin birokrasi, utamanya Pemerintah Kota Banjarbaru. Kabar terakhir yang ada hanyalah akan ada pergeseran pada jajaran eselon III dan IV di Pemko Banjarbaru. Lagi-lagi sudahlah, itu wewenang kepala daerah.

Namun, bagaimanapun, daerah memiliki gambaran yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Ada visi misi di sana. Tidak pernah saya temukan visi misi yang destruktif, semua pasti bagus, kalau tidak dikatakan muluk. Pastilah diperlukan personalia yang mumpuni untuk mencapai visi tersebut. Semoga saja memang mereka yang memang mumpunilah yang akan dipilih oleh Pak Dodot, nama kecil Pak Walikota.
Sebab dalam hal ini, hak saya memang berharap, dan kewajiban saya berdoa untuk harapan itu
Satu hal yang saya juga tidak tau persis adalah, apakah publik berharap terlalu tinggi, cukup tinggi atau biasa saja pada duet Ruzaidin-Ogi. Namun, bagaimanapun tingkat harapan publik, jika kemudian terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, maka di sana akan timbul masalah. Tapi jangan pula mengambil jalan pintas untuk menghindari masalah, yakni sama sekali tidak berharap, walaupun dengan tidak berharap tidak menimbulkan potensi kecewa.

Tapi paling tidak, jika publik masih berharap, itu artinya publik masih menganggap pemimpin itu ada. Terlepas dari adanya rumor bahwa Ruzaidin dan Ogi sekarang sudah mulai "retak secara dini" yang tidak perlu ditanggapi terlalu serius, berharap itu masih perlu. Bahkan harus.

Lantas, jika Anda adalah warga Banjarbaru, apa yang Anda harapkan?

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!