Kematian, Perubahan dan Maaf

Sungguh, bukan sebuah hal yang mudah jika sudah menyangkut perkara kematian. Terkait siapapun, terlebih lagi bagi seseorang yang dekat dengan kita, dan lebih-lebih lagi, menyangkut diri kita sendiri. Atas banyak hal yang telah saya alami antara 2-3 bulan belakangan ini, satu peristiwa teramat singkat yang saya alami telah mengingatkan saya begitu keras akan kematian.

"Dikunjungi kematian", mungkin demikian saya mengistilahkannya. Sekalipun sejumlah orang dan rekan yang saya mintakan pendapat memberi penjelasan yang beragam, hanya sebatas itulah saya berani menilainya. Walau pada akhirnya istilah menjadi begitu sangat tidak penting. “Benturan keras” itu tak lagi penting pada tataran pengertian. Pensikapan adalah sesuatu yang jauh lebih penting.

Sebagaimana sejak lama, saya tak pernah berani langsung menganggap sebuah musibah sebagai “ujian” atau “azab”, karena bagi saya keduanya adalah titik ekstrim antara terlampau optimis dan terlampau pesimis. Saya cenderung berusaha menanggap musibah sebagai “teguran”, sebuah pendekatan yang -mungkin- cenderung ‘politis’. Sekalipun apa yang telah terjadi bukanlah sebuah musibah.

Terpenting dari semuanya, bagi saya tentu, adalah adalah sangat bersyukur bahwa saat ini masih bisa menghirup dan mengeluarkan nafas satu demi satu helaan nafas secara wajar, bahwa ruh ini masih berada pada tempat sementaranya, sebelum nanti kembali ke tempat semestinya. Bersyukur masih ada hidup dan kehidupan yang terus berjalan, sehingga setelah sekian lama, saya kembali berani kembali ke beberapa sisi kehidupan saya.

Perubahan, kata kunci yang harus menjadi pegangan. Sekalipun saya bukanlah orang yang menilai comfort zone itu sebagai sebuah kelemahan, tapi memang saya mungkin masih diberikan kesempatan untuk berubah, menjadi sesuatu yang lain, tapi tentu saja tidak berubah menjadi Gaban atau Sariban atau Voltus V atau Megaloman.

Berburu maaf, salah satu yang telah dan akan terus saya lakukan. Beruntung, saya mendapatkan kesempatan, bahkan setelah belasan tahun saya mencoba mencari kesempatan itu.

Karenanya kawan, jika ada salah dan khilaf atas yang pernah saya lakukan, secara langsung ataupun tidak, sudilah kiranya memberikan maaf dan pengampunan untuk saya, untuk memulai kembali sebuah kehidupan baru.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!