Interview With Pakacil (Part I)

Pada suatu hari di Banjarbaru, lebih kurang pukul 10.00 wita, bertempat di sebuah ruangan kerja yang merupakan ruang dimana saya biasa beraktivitas. Berikut merupakan transkrip Interview with Pakacil atas beberapa isu/tema, yang sedapat mungkin saya muat semirip mungkin dengan adanya. Tentu sangat harus dimaklumi jika tidak plek sama 100%.

Sepertinya temanya memang bergerak kesana-kemari. Tapi tidak masalah, karena ini memang interview ringan saja, tidak fokus pada topik tertentu.

Ilustrasi Interview. Sumber gambar: Dynamics Associates

Selamat pagi Pakacil, maaf kalau dirasa menggangu. Bagaimana kabar Pakacil hari ini?
selamat pagi juga. yang penting menurut saya, saya dalam keadaan baik² saja, entahlah menurut orang lain. dan, tidak masalah, saya tidak merasa terganggu. santai saja.

Oh ya, tumben Pakacil sudah bangun jam segini, menurut kabar, Pakacil jarang sekali bangun pagi, benar begitu?
hahahaha… siapa yang bilang begitu. yang harus dimengerti adalah ada perbedaan yang jelas antara sudah bangun dan belum tidur. menurut saya jam tidur itu semata-mata persoalan teknis, persoalan jam biologis yang tiap orang bisa berbeda.

Bagaimana Pakacil, kita lanjutkan saja? Oh ya, dipanggil Pakacil atau apa?
hehehe… persolan lanjutkan sudah selesai. pilpres dan pilgub sudah selesai. hehehe… maaf ngelantur, baiklah, tak masalah kalau kita teruskan. dan tidak masalah, pakacil saja juga boleh, tak masalah.

Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini?
nah, sebetulnya setelah rentetan aktivitas selesai, saya kini sibuk mencari kesibukan. walaupun sebenarnya saya tak mengerti betul apa itu artinya sibuk dan kesibukan. terus²an tidurpun mungkin bisa diartikan sebagai tengah sibuk tidur.

Bagaimana pendapat Anda tentang Pemilukada di Kalimantan Selatan yang baru berlalu?
Sederhana saja, masyarakat telah menentukan pilihannya. siapapun itu harus dihargai. out-put dari proses politik itulah yang kini harus kita kawal bertahun-tahun ke depan. itu saja.

Apa pendapat Anda tentang isu money politics yang berkembang?
hahaha… bicara money politic adalah seperti bicara hantu, dan saat ini saya tidak tertarik bicara soal hantu. yang pasti, saya dan banyak orang tidak bisa membendung jika memang praktik itu ada. lagi pula, ada atau tidaknya praktik itu bukanlah menjadi masalah. setiap kandidat akan berusaha dengan berbagai cara untuk meraih kemenangan. saya lebih tertarik pada sisi masyarakat, memilih dengan pertimbangan yang sehat atau karena transaksi ekonomi recehan.

Maksudnya, Anda tidak mempermasalahkan praktik tersebut atau malah menyalahkan masyarakat? Dalam hal ini pemilih. Apa pula dengan maksud recehan itu?
pertama soal recehan. anggap saja kita memilih karena dibayar uang sejumlah 100ribu. maka kita sudah terbeli selama 5 tahun hanya sekitar senilai 50 rupiah perhari. ini adalah penghinaan besar, manakala sebenarnya harga diri itu tak terbeli. saya tidak menyalahkan pemilih, persolannya adalah ada sistem yang tidak jalan, ada contoh yang tidak benar, dll. ini semua kompleks, tidak bisa selesai dalam 1 kali pemilu. dari pada bicara money politics, lebih baik bicara bagaimana mencerdaskan para pemilih dalam tempo sesingkat-singkatnya. itu jauh lebih penting.

Oke, kita sudahi masalah itu. Bagaimana pendapat Anda tentang isu-isu yang akhir-akhir ini mengemuka di tengah masyarakat?
hahaha… isu yang mana dulu yang dimaksudkan? karena banyak isu yang beredar. satu-satunya isu yang dapat saya pastikan kebenarannya serta saya gemari adalah isu lagunya Ebiet G. Ade. hahaha….

Hahaha… sepertinya Anda penggemar Ebiet. Baiklah, isu nasional, atau bahkan mungkin isu internasional?
tidak, tidak, jangan. saya bukanlah seseorang yang tau apalagi mengerti tentang semua hal, apalagi saya bukan superman. saya sangat memiliki keterbatasan dan mustahil bisa bicara tentang semua hal. indonesia ini terlalu luas buat saya. banyak ahli yang bisa bicara sesuai dengan kapasitasnya, selebihnya, saya hanya bisa menyampaikan harapan. itu saja.

Baiklah. mmm… paling tidak, bagaimana tanggapan Anda tentang heboh video yang katanya mirip selebritis Indonesia itu?
hahahaha… ini lagi, bagi saya ini adalah persoalan amat sangat klasik. pembunuhan pertama di dunia ini adalah karena persoalan terkait hasrat atau nafsu. tau cerita tentang habil dan qabil kan? nah, apa yang harus saya kagetkan? tidak ada. bagi saya, itu adalah persoalan pemahaman dan penempatan saja. memahami dan menempatkan otak, hati dan kelamin. itu saja. sebagaimana guru saya pernah bilang.

Maksudnya?
begini, otak itu letaknya di kepala, dekat dengan mata dan telinga. maka seyogyanya respon pertama dari apa yang kita lihat dan dengar adalah datang dari otak. kita harus cerna. lantas turun ke bawah, ke hati, dan masuk lebih dalam. hal tersebut kita renungkan menggunakan hati, sebab itulah hati letaknya jauh tersembunyi, agar dalam perenungan tidak banyak gangguan. baru kemudian hasil akhirnya serahkan pada kelamin. yang walaupun letaknya sangat terbuka, tidak macam otak dan hati, namun justru tantangannya lebih besar, yakni kapan harus menggunakannya atau kapan harus menunjukkannya. yang tentu saja tidak pada setiap waktu dan kesempatan.

Mungkin bisa diperjelas, apa maksud Pakacil sebenarnya?
hahaha.. saya mohon maaf kalau kurang jelas, karena saya sendiri kadang bingung bagaimana membahasakannya. yang jelas maksudnya adalah, jika semuanya itu sudah sesuai, maka tidak akan ada masalah. tapi jika muncul masalah, artinya ada sesuatu yang tidak benar pada otak, hati dan kelamin. bisa jadi ini bahasa simbol.

Jika ditilik dari perspektif hukum, bagaimana menurut Pakacil?
hahaha… soal hukum serahkan pada ahlinya, dan itu bukan saya. bagi saya, yang penting sudah terbukti bukan saya, selesai perkara. hahaha… lagi pula saya tidak tertarik pada masalah itu. biarlah mekanisme hukum berjalan.

Anda percaya pada mekanisme hukum?
bukan soal saya percaya atau tidak. melainkan aparat dan proses penegakan hukum dapat dipercaya atau tidak. jalankan dulu proses hukum, untuk apapun itu, baru kemudian dapat kita putuskan untuk percaya atau tidak. jadi, kalau ada aparat penegak hukum yang bilang percayakanlah pada hukum, maka bagi saya itu ucapan yang terlampau dini, mendahului waktu dan mendahului proses. sebab kepercayaan itu akan lahir dari proses, dengan sendirinya.

===
Sampai disini, telpon saya berbunyi, lantas saya melakukan pembicaraan dengan seseorang dan belahan lain di pulau Kalimantan ini, sehingga intervew terhenti sejenak. Tentu saja setelah saya mohon ijin sebentar untuk melakukan pembicaraan via telpon.
===

Perbincangan berlanjut setelah saya selesai menerima telpon, dengan beragam topik lainnya, yang nanti akan termuat pada Interview with Pakacil (Part II).

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru