Ju ir ak dan Dada Kanan

Ini cerita tentang sewaktu habis pulang dari dokter. Kemarin kejadiannya, sore hari tepatnya. Hujan dan dingin sebagai hiasannya. Tau kejadian penting pas sore hari yang hujan dan dingin? Ya, tak lain tak bukan, laparlah terasa. Lapar itu letaknya diperut, walaupun katanya lapar itu adalah rasa, tapi jelas lapar adalah fakta.

Sudah saya bilang kah kalau dokternya ada di Banjarmasin yang tempat praktiknya berjarak sekitar lebih dari 40 km dari rumah saya yang ada di Banjarbaru? belum kah? Baiklah, kalau begitu akan saya ceritakan. Dokter spesial itu berpraktik di Banjarmasin. Kalau dihitung-hitung, lokasinya dari rumah saya adalah lebih dari 40km jauhnya. Untuk menuju tempat praktiknya, hanya ada dua belokan, kanan dan kiri. Hanya masalah timing atawa waktu saja, kapan harus belok kanan dan kapan harus belok kiri.

Mengapa itu dokter spesial? setidaknya ada dua alasan. Pertama, sekalipun ada dokter sejenis (sama berjenis kelamin lelaki dan sama yang diurusi) di Banjarbaru, tetap saja memeriksakan diri ke Banjarmasin. Kedua, karena dia itu dokter spesialis yang memanglah hanya mengurusi bagian-bagian tertentu saja dari tubuh manusia.

Dokter spesialis itu memang macam-macam nyatanya. Ada spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), spesialis Penyakit Dalam (SPD), spesialis kulit dan kelamin, spesial gigi. Bahkan, dokter bedah pun bermacam-macam spesialnya, ada yang spesial bedah digestive atau organ pencernaan, ada bedah jantung, ada bedah tulang, kecuali bedah buku.

Sepulangnya dari dokter spesial itu, perutpun terasa lapar. Maklum hujan dan dingin. Kan sudah saya bilang. Tapi sebenarnya ada sebab lain yang lebih prinsipil, yakni memang dari pagi belum makan, gak selera. Demi memenuhi hasrat hidup orang banyak, maksudnya hasrat sebagaimana orang banyak lainnya, yang kalau lapar yaa makan, maka ke rumah makanlah mampir. Cianjur nama rumah tempat makan itu. Bukan di Jawa Barat, heunteu… tapi di Banjarmasin.

Semasuknya di rumah makan, saya mendengar seorang ibu-ibu yang menelpon dengan suara nyaring yang membuat saya yakin seisi lantai 1 rumah makan itu mendengarnya. Saya pun dengan baik hatinya kadang bersuara, “yaa… baik… memang begitu… oh ya?…. ya…”. Suara saya itu sekedar ikut membantu nyahut si ibu yang nelpon nyaring tadi. Dan tolong, tak perlulah puji bahwa saya baik hati dan ramah karena ikut nimbrung pembicaraan beliau. Kalau si ibu memandang saya dengan aneh pun, saya tinggal meanggukkan kepala dan melemparkan senyum nan manis. Selesai perkara.

Datanglah seorang pria, berseragam terlihat. Bukanlah seragam tentara atau baju hansip, melainkan seragam bertuliskan nama rumah makan itu. Yaa, ia memanglah pelayan di rumah makan itu, jadi wajar saja. Bayangkan saja jika seragamnya bertuliskan POLRESTA Banjarbaru, tentu saya akan bingung. Setelah menyerahkan daftar menu, lelaki itu bertanya, apakah kiranya yang akan disantap.
Pesanan:  Ju ir ak dan Dada Kanan
Pesanan Khusus:  "Ju ir ak dan Dada Kanan"
Membolak-baliklah saya kepada buku menu itu. Ada Es Cendol terbaca. Saya pesan itu dulu. Akhirnya, setelah sekian lama pingin cendol, saya nikmati pula. Gurami Goreng, Udang Goreng mentega, Karedok, sudah masuk daftar taking order. “Minumnya mas?”. Lelaki itu bertanya.

"Ju  ir  ak", saya menjawab.
"Maaf, mas. Apa minumnya tadi?" lelaki itu masih bertanya.

"Ju ir ak", saya masih rajin menjawab.
"jus sirsak maksudnya?", masih saja dia bertanya.

"Itu kalau pakai es, mas. Saya maunya gak pakai es", lagi-lagi saya jawab.
"Ooo… jadi jus sirsak gak pakai es ya, Pak?", masih nanya lagi.

"he eh… jus sirsak gak pakai es, ju ir ak…", ucap saya lagi.
Lelaki itu membaca ulang menu yang dipesan, agar tak terjadi kesalahan. Sebagai pembeli yang baik, tentu mendengarkan dengan saksama dan menyimak dengan penuh perhatian. Setelah selesai ia lagi berkata, "itu tadi daftar pesannya ya Pak. Mohon tunggu sebentar…".

Saya langsung motong, "Mas, ada yang ketinggalan."
"Iya Pak ?", kata pelayan.

"Ayam goreng. Tambah ayam goreng ya…"
"Ayam gorengnnya dada atau paha pak?"

"Mmm… dada saja."
"Baik Pak, tambah ayam goreng, dada."

"Tapi tolong mas, dadanya yang sebelah kanan saja."
"Maaf Pak? kenapa?"

"Ayam gorengnya, dada sebelah kanan saja."
Lelaki itu bengong. Saya pasang tampang serius seakan-akan menghadap presiden untuk audisi acara kabinet idol. Pingin rasanya saya bilang, bahwa maklum saja habis dari dokter, tapi masalahnya saya bukan dari dokter spesialis sarap.

*** Yuhuuu.. yesss, ini tulisan juga berhasil dipulihkan dari blog lama, hanya saja komentar-komentar yang pernah ada tidak berhasil dipulihkan.

Komentar