Pasar Wadai Ramadhan Banjarbaru

Tiap kali Ramadhan menjelang, selalu saja ada perasaan yang berbeda. Ini bukanlah romantisme, sekalipun tetap ada nuansa romatisme. Bukan pula sebuah kelatahan, kalau banyak yang bicara tentang Ramadhan dan segala hikmah serta harapannya. Malah bagus, makin banyak yang mengingatkan. Tapi saya tidak akan menyoal masalah religiusitas ini, bukan kapling saya, saya hanya berbagi sebuah sisi lain dari Ramadhan di kampung saya.

Di Kalimantan Selatan, tiap kali Ramadhan, selalu saja tak ketinggalan apa yang dikenal dengan nama Pasar Wadai, dan kini namanya kian panjang saja, menjadi "Pasar Wadai Ramadhan". Termasuk di kampung saya, Banjarbaru. Bagi yang sudah tau macam apa pasar wadai itu, ya tak apa-apa, tapi bagi yang belum tau, inilah pasar wadai itu.

Pasar Wadai Ramadhan di Kota Banjarbaru
Pasar Wadai Ramadhan di Kota Banjarbaru
Setiap daerah di Kalimantan Selatan, saya yakin memiliki pusat pasar wadai Ramadhan masing-masing, karena kini tiap-tiap pemerintah daerah kabupaten/kota, bahkan pemerintah propinsi turut mendukung keberadaan pasar wadai ini. Termasuk di Banjarbaru. Sudah bertahun-tahun ini pasar wadai Banjarbaru berlokasi di sekitar kolam renang Banjarbaru, tidak lagi di kawasan lapangan Murjani sebagai mana dulu. Soal lokasi tak mengapa, yang penting gampang diakses dan tak bikin jalanan umum macet.

Setiap hari, ribuan orang yang datang ke pasar wadai, baik untuk sekedar jalan-jalan, mungkin ada yang nekad cuci mata pas puasa, atau memang cari penganan untuk berbuka.

Segala jenis penganan untuk berbuka tersedia di pasar wadai, aneka macam kue basah dan kering, aneka lauk dan sayur. Dari menu tradisional sampai dengan menu bukan tradisional ada, yang perlu dipersiapkan tinggal uang dan perut. Suka pilih. Mau yang cara masaknya macam apa juga ada, dari tanpa dimasak, direbus, digoreng, dibakar, dikukus, semua ada. Benar-benar semua tersedia di pasar wadai. Sekalipun kini yang tersedia tidak lagi sekedar wadai, namun sudah aneka makanan ‘berat’, namun tetap saja namanya pasar wadai. Katakanlah ini sebagai penghargaan kepada sejarah.

Saya selalu suka jajanan dan makanan tradisional yang tersedia. Apalagi kalau sudah bulan puasa macam sekarang ini, aneka makanan tradisional biasanya bermunculan, utamanya kue. Karena kalau bukan bulan puasa, selalu saja harus menyengajakan diri mencari makanan-makanan khas.

Tapi kalau pas bulan puasa, asal jalan ke pasar wadai, kadang-kadang tak sengaja mata melihat dan menemukan menu yang lama tak dirasa. Walau kadang untuk persoalan ini, masalah godaan mata dan nafsu makan ikut andil. Hampir dapat dikatakan seluruh lapisan masyarakat menggunakan momen pasar wadai ini sebagai salah satu tujuan di bulan ramadhan. Yaa.. bagi saya pasar wadai bukan sekedar tempat, tapi juga sebuah momen.

Dari tahun ke tahun, saya memiliki penjual idola alias langganan di pasar wadai Banjarbaru, ada langganan penjual kue, ada pula langganan penjual lauk. Namun rupanya tahun ini agak berbeda, saya sudah celingak-celinguk mencari penjual kue langganan saya itu, namun tak melihatnya. Sekarang sisa langganan penjual lauk. Entah kenapa, mudahan karena sekedar pindah pasar wadai.

Langganan kue saya yang pertama, khusus kue "Bingka Barandam". Sudah sekitar 2 tahun ini tak terlihat. Padahal ia adalah salah satu penjual ‘bingka barandam’ favorit saya. Kuenya enak, dan jika ada yang pernah bersama saya ke tempatnya, bersua dengan penjualnya, tentu menemukan alasan lain kenapa menjadi salah satu penjual idola.

Langganan saya yang kedua, spesialisasinya adalah jualan "amparan tatak". Penganan ini merupakan kue yang dibuat dan tersedia dalam loyang, jika ada pembeli, baru penganan itu dipotong atau ‘ditatak’ dengan ukuran tertentu. Kalau untuk yang satu ini, murni karena masalah rasa tanpa ada faktor lain kenapa jadi penjual idola.

Namun tak mengapa, dengan sedikit usaha dan coba-coba serta lihat-lihat, rasanya saya akan menemukan tempat langganan baru lagi untuk tahun ini, sebagai pengganti penjual wadai langganan. Lagi pula masih ada penjual lauk andalan.

Kalau beli lauk, saya suka masakan tradisional, macam “garih batanak” yang sukses membuat saya sakit perut pada hari pertama buka puasa. Mungkin karena santannya itu berhasil membuat perut saya kaget. Rugi saja rasanya kalau ke pasar wadai, tapi masih beli masakan yang umum ditemui sehari-hari macam ayam goreng dan sejenisnya. Bagi saya, ikan asin is the best.

Pasar wadai memang momen menarik disetiap Ramadhan.

Glosari:
pasar wadai = pasar kue (wadai=kue)
amparan tatak = berbagai kue basah yang terdiri dari beragam rasa/pilihan, disajikan di dalam loyang
bingka barandam = jajanan yang terbuat dari tepung beras dan direndam dalam air gula untuk menikmatinya
garih batanak = lauk yang terbuat dari ikan haruan (ikan gabus)

Bukan peringatan pemerintah:
Pasar wadai dapat membangkitkan rasa kepingin yang luar biasa, setelah melihat beragam menu yang tersedia. Bagi para penggila wisata kuliner, maka bisa jadi serasa berada di surga dunia kuliner.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!