Panduan (Agak Lengkap) Mencari Jodoh

Ini memang soal jodoh, dalam bentuk yang sederhananya mencari pasangan hidup, walaupun seorang sahabat pernah berkata, jodoh itu belum tentu menikah, namun sampai sekarang saya belum mendapatkan penjelasan resmi dan tertulis tentang hal itu. Tapi kali ini, memang tentang panduan mencari pasangan hidup, semacam manual yang juga tersedia dalam bentuk e-Paper.

Panduan agak lengkap mencari jodoh ini sangat dianjurkan bagi mereka yang belum mendapatkan pasangan hidup, walaupun dalam status yang paling minimal, yakni calon pendamping. Sementara bagi mereka yang berniat menambah atau mengganti pasangan yang telah ada, saya tidak mau ikut campur.

Untuk memudahkan sidang pembaca yang budiman, maka parameter-paremeter yang akan digunakan akan disusun berdasarkan Abjad, dari A – M. Selain lebih terstruktur, juga terlihat ilmiah dan keren. Mari kita mulai, Panduan Mencari Jodoh yang ditilik dari sisi keunggulan kualitatif dan komparatif ini:

A – Agama
memang lebih baik mencari pasangan yang se-agama. Selain lebih mudah secara administratif, juga akan mempermudah dari banyak sisi. Kalau beda agama, tentu akan banyak kerepotan yang akan terjadi. Saya tidak bicara dalil-dalil agama, tapi bicara hal-hal yang jelas-jelas saja ada di depan mata.

B – Bibit
usahakan mencari keturunan yang baik, bukan berarti harus keturunan pejabat atau pengusaha besar, tapi dari sini dapat dilihat bagaimana didikan lingkungan keluarganya.

C – Cakep
bukan harus secakep artis atau aktris, tapi maksudnya enak dipandang. Kalau kita yang memilih sudah merasa enak memandang si-dia, maka ya sudah… biarkan saja apa kata dunia.

D – Duit
bukan berarti harus kaya, tapi memiliki kemauan untuk berusaha. Rajin dan gigih, tidak malas-malasan saja. Sebab, sekalipun sudah kaya, tapi cuma bisa malas-masalan, apa jadinya?

E – Edukasi
bukan berarti harus seseorang yang bergelar sarjana, atau beragam titel yang berderet-deret macam rangakaian gerbong, tapi lebih kepada pola pikir. Artinya bisa mikir dengan baik. Karena kalau gak bisa mikir, bahkan cenderung cekakak-cekikik sendiri tanpa alasan, mau jadi apa?

F – Figur
lihat figurnya di masyarakat. Figur seorang kriminal tentu berbeda dengan figur seorang yang baik-baik saja. Walau ada juga sih, kalau dimasyarakat nampak pendiam dan tak banyak tingkah, tiba-tiba baru ketahuan kalau bergabung dengan kelompok teroris. Paling tidak, ada usaha untuk mengetahui hal ini.

G – Gaul
bukan berarti harus seseorang yang selalu mengikuti tren pergaulan. Kalau misalnya musim rebonding, maka ikutan rebonding, kalau lagi musim cat rambut pirang ikut pula cat rambut. Kalau lagi musim durian lantas tiap malam harus makan durian. Maksudnya adalah seseorang yang bisa menempatkan diri dalam wadah pergaulan yang berbeda tentu lebih baik.

H – Harapan
apakah dia seseorang yang memiliki harapan dalam hidupnya? Bagi saya, memiliki harapan itu adalah salah satu bentuk sikap hidup optimis. Tapi tentu saja harapan yang kemudian diturunkan dalam bentuk tindakan nyata. Yaaa… macam yang beberapa hari lalu saya tulis dalam posting berjudul Stop Dreaming Start Action itu lho … Dari sini kita juga bisa dapat gambaran ringkas, seseorang itu bisa diharapkan atau tidak.

I – Interest
agak bahasa inggris ya? ya terpaksa. Maksudnya adalah ketertarikannya pada hal apa saja, itu perlu untuk diketahui. Tentu akan sangat runyam jika Anda merayu habis-habisan dengan menyuplik lirik lagu malaysia, tapi ternyata si dia sangat anti lagu malaysia.

J – Jaim (Jaga Image)
kalau yang satu ini agak ribet, kalo saya sih gak suka seseorang yang jaga image atau jaga citra. Nantinya hanya akan sibuk menjaga dan memperbaiki citra yang sangat artifisial itu. Seseorang yang selalu jaim hanya akan bikin pusing, percayalah.

K – Kharisma
biasanya orang berkharisma punya kepribadian kuat dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang disekitarnya sesuai emosi dan tingkat intelektualitasanya. Ini menurut Susan Wilson Solovic. Walau katanya lagi kharisma itu dapat dibangun.

L – Lemah Lembut
saya meyakini, bahwa dalam diri tiap orang selalu ada sisi kelembutan, lelaki atau perempuan, sama saja. karena itu cukup 2 anak saja. Tinggal sisi mana yang dominan. Mengetahui sifat apa yang dominan dari seseorang tentu akan sangat memudahkan kita dalam mengambil keputusan.

M – …
Naaaahhh… bagian M ini yang paling penting! Karena bisa jadi seluruh pra-syarat lain sudah didapatkan namun yang satu ini tidak, maka semuanya akan berantakan. Persoalan M ini mampu meluluhlantakkan segala apa yang telah diusahakan. Karena unsur M ini adalah persoalan MAU atau tidak. Sia-sia rasanya segala usaha dan penelisikan dilakukan, kalau ternyata yang bersangkutan tidak mau alias menolak. Karenanya, usahakanlah yang bersangkutan adalah seseorang yang mau dan menerima untuk dijadikan pendamping hidup.

Namun, sekalipun unsur M adalah yang paling penting, tidak pas pula jika menjadikan unsur M ini sebagai satu-satunya pertimbangan. Entahlah kalau dalam keadaan yang sudah amat sangat kepepet + terdesak. Tapi tetap, sekalipun sudah kepepet, unsur M, alias Mau, menjadi faktor penentu dan melupakan unsur-unsur lainnya.

Sebab kadang, pada sisi lain, kita senang menyusahkan diri sendiri, dengan mencari yang begitu dan begini, sebagai sebuah pra-syarat, sementara belum tentu Mau, bisa jadi unsur M ini adalah sodaraan dengan takdir, minimal sodara sepupu.

Demikianlah Panduan Mencari Jodoh ini dibuat, disusun dan dipublikasikan kepada khalayak ramai dalam keadaan sadar serta tanpa disertai tekanan dari pihak manapun juga. Namun jika ternyata hal ini menimbulkan tekanan batin pada pihak-pihak tertentu, hanya ada 2 kata, mohon maaf. Lagi pula, panduan ini terlepas dari masalah jodoh yang menjadi salah satu rahasia terbesar dalam kehidupan, di samping umur dan rejeki. Namanya juga usaha.

Penghargaan kepada:
Ilfarm Make Anyrata a.k.a I’il
atas inspirasinya, Malang 1999


---
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama, yang terbit pada tanggal sebagaimana adanya. Sayang sekali tidak dapat dipulihkan berikut komentar kawan² yang ada padanya.

Komentar