RT Terkotor di Kota Banjarbaru

Suatu pagi di Sragen, sebuah daerah yang terkenal akan pelayanan publiknya di negeri ini, saya saat itu bersama dengan salah satu kepala kantor di Banjarbaru tengah menikmati sarapan di salah satu warung di ruas jalan utama Kota Sragen.Mata saya tanpa sengaja melihat seorang pemilik toko yang asyik menyapu jalan. Tidak hanya menyapu halaman tokonya saja, tapi benar-benar menyapu jalan raya, sampai dengan median jalan.

Sekeluarnya dari warung, sembari berjalan menuju Kantor Bupati Sragen yang menjadi tujuan, sebuah snapshot kecil itu terus membayangi saya. Bahkan sampai saat ini. Karena bagi saya hal itu bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang sebuah budaya. Itulah salah satu hal yang membuat saya kemudian terbayangkan sesuatu untuk Kota Banjarbaru, tempat tinggal saya.

Dalam sebuah perbicangan sampai jam 2 pagi beberapa hari kemarin dengan seorang rekan yang kebetulan dari Pemko Banjarbaru, saya melontarkan sebuah ucapan, “Kalau saja saya yang menjadi Walikota Banjarbaru, maka saya cukup mengeluarkan dana tak lebih dari 50 juta rupiah pertahun. Untuk terus menjaga dan meningkatkan kebersihan Kota Banjarbaru ini, di seluruh wilayahnya.”

Apalagi Banjarbaru baru saja memperoleh Adipura yang konon merupakan lambang pencapaian di bidang kebersihan wilayah itu. Sebagaimana kata orang bijak, *karena saya turut menyampaikannya, maka bisa jadi saya juga bijak ya?*, mempertahankan itu jauh lebih sulit dari pada meraihnya.

Bagi saya bukan persoalan adipura atau tidaknya, tapi persoalan budaya akan kebersihan lingkungannya yang sangat penting. Adipura itu cuma sekedar bonus, door prize. Tapi jika budaya itu sudah terbangun, maka yang akan diuntungkan bukan orang lain, tapi masyarakat sendiri. Apalagi saya termasuk orang yang meyakini bahwa 2 (dua) hal utama dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia adalah pendidikan dan kesehatan.

Karena itulah, saya merasa perlu adanya sebuah sistem yang secara sistemik perlahan-lahan mampu membangun kultur peduli akan kebersihan lingkungan. Bukan berarti Banjarbaru tidak bersih. Justru karena bagi saya Banjarbaru ini bersih, karenanya perlu terus di jaga dan ditingkatkan.

Program RT Terkotor dan Terbersih se-Kota Banjarbaru © wahyu.web.id
Program RT Terkotor dan Terbersih se-Kota Banjarbaru © wahyu.web.id

Kembali ke soal duit 50 juta tadi ya…

Begini sodara-sodara… dengan dana itu, saya *kalap… membayangkan sudah jadi Walikota Banjarbaru* akan membuat sebuah program RT Terbersih dan RT Terkotor se-Kota Banjarbaru. Program yang dilakukan secara kontinyu alias terus menerus saban tahun, bahkan bisa jadi 1 tahun itu 2 kali.

Bagi saya, penekanan utama justru pada pengumuman atau publikasi RT paling kotor tersebut, yang dapat menjadi semacam shock therapy bagi mereka yang memperolehnya. Jangan salah, bukan berarti RT yang memperoleh predikat terkotor ini tidak memperoleh hadiah ya… sebab mereka juga akan diberikan hadiah dalam bentuk piagam dan publikasi gratis. Apalagi tidak semua ketua RT itu memiliki peluang macam Manohara, yang selalu mendapat publikasi luas dan berhasil membuat saya bosan melihat wajahnya di tipi.

Menggunakan konsep reward and punishment, itulah dasarnya, terutama pada bagian punishment-nya itu, bukan mustahil dapat membentuk sebuah budaya peduli akan kebersihan. Apalagi publikasi tentang mereka yang paling bersih tentu sudah biasa, maka kemudian yang diperlukan adalah langkah yang tidak biasa.

Apakah ada implikasinya? owhh… tentu, tentu ada. Terutama bagi mereka yang mendapatkan predikat sebagai RT paling kotor di Banjarbaru.

Bisa jadi Ketua RT-nya akan merasa pusing-pusing, mual-mual, mengalami gangguan tidur, bibir pecah-pecah, serta gangguan pencernaan *lho… perasaan kok ngawur ya? jelas sekali kalau ini ngawur*. Cuma maksud saya adalah, rasa malu, yaa… malu. Karena program macam ini dapat menimbulkan rasa malu pada pihak-pihak tertentu. Tapi sebagaimana prinsip yang saya anut, bermasalah dengan 1 orang untuk membangkitkan 99 orang lainnya itu adalah sebuah hal yang wajar.

Riak kecil untuk kepentingan yang lebih besar itu tak masalah. Kalau memang harus demikian, lagi pula kita tak mungkin menyenangkan seluruh orang, itu hanya sebuah utopia. Ada perbedaan yang sangat jelas antara malu akibat kesalahan sendiri dan dipermalukan

Lagi pula, ada perbedaan yang sangat jelas antara malu akibat kesalahan sendiri dan dipermalukan. Sementara program ini bukanlah untuk mempermalukan, tapi menimbulkan efek malu.

Namun kemudian, juga tetap diperlukan adanya guideline yang rigid tentang mekanisme penilaian agar tidak bias. Inilah jalan tengah agar tidak muncul riak-riak yang tidak perlu atau bahkan mungkin resistensi dari kelompok tertentu. Guideline ini memberikan batasan atau parameter yang jelas, bagaimana sebuah RT itu dikatakan kotor. Tentu pula menggunakan sistem indeks yang dapat mengakomodir perbedaan kondisi wilayah RT yang ada di Banjarbaru. Karena tidak bisa dipungkiri, secara normatif, tentu lebih mudah mengelola kebersihan dan kerapian lingkungan kompleks perumahan dari pada yang bukan.

Seusai saya menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya tentang hal itu, tiba-tiba beliau menyahut,… “…kalau tidak salah, kalau bisa itu akan direncanakan mulai tahun 2010…”.

Saya jelas kaget dan senang, ternyata ada pikiran yang sama, dan kemudian pada suatu siang, iseng-iseng saya kontak Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Ruang Kota Banjarbaru, Bapak Drs. Hilman Karim, MM., untuk sekedar bertanya tentang kebenaran bahwa ada pemikiran dan konsep sejenis di Banjarbaru.

Beliau, Pak Hilman, menyampaikan bahwa benar ada konsep yang beliau miliki tentang hal sejenis dan sekaligus berharap agar bisa direalisasikan pada tahun yang akan datang. Saking senangnya saya, tak lagi bertanya lebih jauh macam apa detil konsep yang beliau miliki. Cukuplah saya senang bahwa akan ada sebuah sistem yang mampu terus menjaga dan meningkatkan kebersihan Banjarbaru ini, serta secara perlahan dapat menumbuhkan budaya positif secara komunal.

Apalagi saya meyakini, bahwa efek positif yang ditimbulkan oleh hal macam ini jauh lebih banyak dari pada tidaknya *yang cuma rasa malu itu saja*, dan efek positif itu tidak hanya soal kebersihan dan kesehatan.

Kalau tidak salah, sudah ada pula daerah yang melakukan hal sejenis, paling tidak yang saya ketahui adalah Kota Sukabumi, dengan program Kelurahan Terbersih dan Terkotornya.

-----
Catatan khusus:
Tulisan ini berhasil dipulihkan sebagai dokumentasi dari blog lama (pakacil.com) yang memang sudah tidak aktif lagi. Tanggal diatur sama sebagaimana tulisan pertama kali diterbitkan.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru