Bukan Cerita Lucu!

Sebelumnya perlu diingatkan bahwa kisah  ini mengandung unsur kekerasan dan hilangnya nyawa orang lain! Peristiwa adalah benar adanya, hanya nama pelaku yang disamarkan untuk menjaga harga diri, martabat dan nama baik yang bersangkutan … *takut dituntut*

Malang, tahun 9-Sekian, *sowri lupa*

Sudah lama saya tidak bersua dengan seorang kawan yang satu itu yang juga merangkap adik tingkat saya di sebuah fakultas, namun beda jurusan. Seorang kawan, berjenis kelamin laki-laki, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya, red.). *Bunga? Kurang pas ya???* Okei.. akan saya ganti, sebut saja Pria (tetap bukan nama sebenarnya, red.).

Pria adalah seorang mahasiswa berambut gondrong, rambut yang bergelombang cenderung ikal itu menjadi salah satu tanda pengenal sekaligus pengecoh, jika melihat Pria dari jauh. Ia seorang penggemar dan pemain bola fakultas kami. *sudah, cukup disini prolog ini*

Setelah sekian lama tak muncul ke kampus, entah kenapa siang menjelang sore itu, saat saya duduk di kantin dan tengah berbincang dengan seorang teman perempuan, Pria muncul dengan bentuk yang tidak sebagaimana biasanya. Kali ini dengan ditambah sejumlah ‘aksesoris’ yang melekat erat dan temporer pada tubuhnya.

Sejumlah mata luka yang mulai mengering dan tangan yang masih harus mengenakan, apa sih itu namanya, saya lupa… yang jelas kalau tangan patah lantas kemudian macam digatung itu lho… yahh.. itulah pokoknya bentuk dan gambarannya.

Melihat potongan Pria yang begitu rupa, saya sontak terdiam dan menduga-duga apa yang terjadi, tidak berani bergurau sebagaimana biasanya. Saya dan seorang teman yang sudah duduk lama di kantin kemudian hanya bisa bertanya, “kenapa kamu?”

Pertanyaan standar banget ya? Tapi ya memang pertanyaan itu jauh lebih baik dari pada bertanya, “kamu baik-baik saja?” lha… dari potongan dan jahitan saja sudah terlihat kok kalau dalam keadaan kurang baik.

Walhasil, berceritalah Pria tentang apa yang menimpanya …

Pada suatu hari… Pria pulang kampung, dengan menggunakan motor sendirian, maklum saat itu dia masih jomblo. Belum lagi sampai ke kampung halaman dan rumah, sebuah kabupaten di Jawa Timur, ia mengalami kecelakaan.

Saat itu Pria tengah berkendara dengan cukup kencang, namun masih wajar ucapnya. Namun akibat truk yang parkir di sisi jalan, ia sontak kaget demi melihat seorang kakek tua *memang ada yang muda???* tiba-tiba muncul dari depan truk yang parkir di sisi jalan itu.

Namun Pria masih kontrol, ia dengan sigap menginjak dan meremas *bener ga sih istilahnya?* rem tangan dengan kuat. Sakit kuat dan pakemnya, motor tak perlu waktu lama untuk berhenti, namun justru Pria yang kemudian terlontar dari motornya.

Celakanya, begitu Pria terlontar dari motornya, itu yang namanya sepeda motor langsung lepas kendali dan seketika motor langsung ngeloyor lagi dan brukk!!! menghantam sang kakek. Itulah kejadian dalam beberapa detik yang diingat oleh Pria, karena selanjutnya saat ia bangun sudah ada di rumah sakit.

Berikut ini adalah peristiwa terkait yang dijelaskan oleh seorang saksi kepada Pria (setelah ia sadar, dan kemudian diceritakan oleh Pria pada kami).

Setelah tabrakan itu, masyarakat sekitar berhamburan untuk memberikan pertolongan kepada sang kakek dan mencari keberadaan Pria!

"Si penubruk (Pria), kabur!", demikian keyakinan warga sekitar, karena tak melihat keberadaannya di sekitar tekape. Namun kemudian, seorang anak kecil menunjuk ke arah dalam sebuah got dan berteriak, "Ini ada tasnya!". yaa… ternyata bocah itu melihat tas ransel Pria. Sejumlah orang berlarian ke arah got, dan begitu tas di tarik, tubuh Pria ikut terangkat ke atas dalam keadaan tidak sadar.

Rupanya waktu Pria terlontar dari motor itu, ia langsung terbang ke sisi jalan yang lain dan mendarat di sebuah selokan. Akhirnya dapat dibayangkan bagaimana kecepatannya mengendarai sepeda motor.

***
Mendengar kisah Pria, terutama soal motor yang jalan sendiri dan tuduhan kabur plus bagaiman ia bisa terbang terlontar jauh ditambah penemuan tas itu, saat itu saya dan teman tersenyum, kemudian tertawa. Persoalan tawa ini memang terkait erat dengan gaya Pria bercerita.

Melihat kami tertawa, Pria protes dan berkata, "Ini bukan cerita lucu!", dengan gaya tersendiri. Bukannya diam, kami malah tertawa lagi. *memang payahh*

Cerita Pria ini memang terus saya ingat, karena ada beberapa hal yang memang membuat saya tak bisa lupa atau selalu saja ada hal-hal yang membuat saya teringat. Apalagi jika melihat lalu-lintas sehari-hari.

Apalagi jika kerap kali saya melihat anak-anak muda yang masih ingusan, yang masih merengek minta uang bensin pada orang tua, pada sore hari keliling-keliling tidak jelas, kerap kali tak peduli pengguna jalan lain, menggeber motor dengan kecepatan tinggi, ada yang sambil bercanda, ada yang sambil SMS-an. Trus ada lagi yang melakukan atraksi mengangkat roda depan di jalan raya!

Belum lagi anak-anak kecil yang masih berseragam putih merah (SD), sudah diberikan ijin oleh orang tuanya untuk mengendarai motor. Dan ini cukup banyak terjadi di sini, di Banjarbaru ini. Bahkan saya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana seorang pelajar SMP panik hanya karena melihat seorang Polisi, pikirnya di akan kena razia.

Entah kenapa, saya masih tidak bisa menilai itu sebuah kehebatan, tapi sebuah kebodohan. Kalau terjadi apa-apa pada anak-anak itu, saya benar-benar tidak bisa menemukan sisi lucunya.

---
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.com)

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!