Harapan Bersama Warung Lalapan

Saya terdiam, melongo, tak bersuara. Itulah reaksi saya pertama kali melihat lalapan sewaktu dulu baru tinggal di Bandung pada medio 90-an. Reaksi itu timbul setelah saya bertanya, "Bi, sayurnya mana ya?". Bibi yang masak untuk kami menjawab, "Itu, di meja kan ada, Den...". Saya langsung menuju meja makan dan membuka tudung saji. Tarrrraaaa… tampak terlihat kumpulan dedaunan berwarna hijau disana. Itulah yang membuat saya terdiam, melongo dan tak bersuara itu. "Ooo… jadi inilah yang dinamakan orang lalapan itu…", demikian saya membatin.

Ya… kali ini saya memang akan bercerita tentang lalapan. Sedikit tentang mereka yang bergelut dalam bidang usaha warung lalapan ini. Tentu saja hal ini ditunjang oleh sebuah kenyataan tak terbantahkan bahwa lalapan lele dan bebek merupakan salah satu makanan favorit saya.

Jika anda berkeliling di Kota Banjarbaru, atau bahkan seluruh kota di negara ini, bukan mustahil Anda akan menemukan jenis usaha yang satu ini. Usaha warung makan lalapan dengan berbagai nama. Di Banjarbaru, saya memiliki 2 (dua) buah warung makan lalapan langganan. Demikian pula kalau saya ke Malang, masih ada salah satu warung lalapan saya yang masih buka, sementara yang satu lagi sudah tutup. Karena ibu yang berjualan sudah tua dan katanya ingin istirahat. Niat yang saya dengar langsung dari beliau bertahun-tahun lalu.

Di salah satu bilangan jalan Kota Banjarbaru, terdapat satu warung lalapan langganan saya. Kadang saya makan ditempat, atau kadang dibungkus. Pemilik dan pengelola warung makan itu masih muda, lebih muda dari pada saya, dan memiliki 1 (satu) orang sebagai tenaga bantuan.

Warung Lalapan di Banjarbaru
Mempersiapkan Lalapan Pelanggan
"Usaha ini merupakan usaha sendiri Mas. Modalnya adalah hasil saya menabung dari kecil dan mendapat sedikit bantuan dari orang tua", demikian jelasnya pada suatu malam sewaktu nongkrong dan berbincang di samping warungnya. Ya… kadang saya hanya mampir untuk sekedar ngobrol, kalau ia lagi tak ada pelanggan.

Warungnya merupakan warung lalapan pertama di daerah Jl. Panglima Batur Banjarbaru. Kalau saya bilang, ia adalah perintis lalapan di daerah Panglima Batur Banjarbaru ini. Sebab sebelumnya yang ada hanya nasi goreng, mie goreng, sate serta rumah makan lainnya. Kini, sudah ada beberapa warung lalapan di sepanjang Jalan Panglima Batur Banjarbaru ini.

Warung lalapan bernama "Cak Abu" ini menyediakan menu sebagaimana warung lalapan lainnya, ada lalapan lele, ayam, bebek, nila, bawal, dan lain-lain. Saya hanya ingat betul soal lele, bebek, bawal. Karena itulah order dominan saya. Salah satu kunci enak lalapan kalau menurut saya terletak pada sambalnya. Nah, saya cocok dengan sambal yang ada di sini. Pas… apalagi usaha warung lalapan ini jelas sama dengan usaha berbasis lidah lainnya. Rasa, soal rasa.

Pernah saya diceritakan awal mula ia membangun usaha itu, dan sampai saat ini ia masih ingat berapa perdapatannya pada hari pertama, dan tiap hari berikutnya selama satu minggu pertama. Saat masih merintis. Beruntung, karena ia merupakan orang pertama yang buka lalapan di Panglima Batur Banjarbaru, maka tak memakan waktu lama baginya untuk mendapatkan stabilitas pemasukan.

Bicara soal income dari usaha ini. Wahh… jangan pernah dikira ini usaha biasa. Pendapatannya jelas mengalahkan gaji seorang KEPALA DINAS! Tekankan ya… ini gaji, bukan penghasilan. Karena gaji seorang kepala dinas bisa diketahui, tapi penghasilannya tidak.

Namun yang perlu diingat, soal pendapatan ini bagi saya adalah soal rejeki, tidak semua orang yang membuka usaha ini akan mendapatkan hasil yang sama. Buktinya jelas, di sepanjang jalan Panglima Batur Banjarbaru ini, tidak semua lalapan itu ramai, ada yang saya lewat selalu sepi. Padahal yang jualan perempuan berparas relatif manis. "Itu lalapan yang di jalan A. Yani, penghasilan mereka jauh lebih besar Mas", demikian katanya suatu waktu. Tapi ia tekankan juga, bahwa ia sudah bersyukur dengan apa yang didapatkannya.

Usaha warung lalapan di Banjarbaru ini, mungkin pula di merata daerah, perlahan-lahan juga sudah mewujud menjadi semacam jaringan yang biasanya berbasis pada keluarga. Bisa adik, anak, ponakan atau lainnya.

Keringat yang mengucur akibat panas kompor dan minyak penggorengan saat mempersiapkan pesanan pelanggan, serta sore dan tengah malam harus mendorong gerobak untuk membuka dan menutup warung, merupakan rutinitas yang harus dilakoninya sebagai pengelola warung lalapan.

Hanya satu saat ini yang saya inginkan darinya. Yakni menyediakan layanan khusus order by phone, tentu saja tidak untuk semua pelanggan, hanya langganan khusus yang dipercaya, untuk menghindari orang iseng nelpon order tapi tak pernah diambil. Maunya saya itu, saya telp, "Bos, tolong lalapan lele satu porsi, bungkus pakai nasi. Lelenya digoreng jangan kering ya. Sebentar lagi saya kesana…". Ngeeeng…. saya meluncur dari rumah dan setibanya di warung, saya sudah ambil bungkusan jadi. Ini sih maunya saya.

Cara ini sudah ada yang menerapkan kok, saya juga sebabnya. Siang itu saya lagi berada di Kabupaten lain, angkat telp dan berkata, "…pepes patinnya masih ada kan? tolong disisakan satu buat saya. Nanti jam 3 sore saya sampai di Banjarbaru. Makasih ya…". Klik… jam 3 sore tiba di Banjarbaru, dan pepes patin saya dalam keadaan aman terkendali.

Lalapan, enak bukan?
Banyak harapan yang bisa diwujudkan dengan usaha warung lalapan ini.

#Update
Posisi warung Cak Abu yang dikelola oleh Hadi sudah pindah ke dekat bundaran PDAM Banjarbaru, samping kanan salon yang lupa namanya.

Komentar