Memang Tanpa Tanda Terima

“Dua ribu saja Mas… !”
“Saya cuma ada lima ribuan, bagaimana?”

“Kalau bisa uang pas saja…”
“Lho, memangnya kenapa? kan nanti ada kembaliannya…”

“Itu dia masalahnya, kalau lebih tak pernah ada kembalian…”
“Oooo….”.
Kemudian saya berakhir dengan kebengongan dan kebingungan.

Singkat dan jelas! Sebuah dialog saya dengan sopir mobil pick-up carter pada suatu sore di ruas jalan A. Yani, Liang Anggang. Pada sebuah tempat yang dikenal dengan nama jembatan timbang.

Sebelumnya...

Sang sopir pick-up carteran, dengan taat membelokkan mobilnya menuju jembatan timbang, mungkin karena merasa mobilnya adalah mobil angkutan yang menggunakan ruas jalan milik negara makanya harus masuk. Sebagai pengguna jasa carteran, saya tentu hanya  bisa manut. Dari pada diturunkan ditengah jalan.

Di tempat bernama jembatan timbang itu, sudah banyak berderet mobil angkutan di dominasi oleh truk, hanya sedikit sekali mobil pick-up macam yang saya tumpangi. Ahha… ini merupakan pengalaman pertama bagi saya masuk lokasi jembatan timbang itu, yang padahal sudah puluhan tahun saya lewati. Luar biasa… untung saja kali ini tak disertai dengan rasa gugup dan keringat dingin, saking pengalaman pertamanya.
Sang Sopir turun dari mobilnya, dan saya bertanya, “Berapa bayarnya?”
Dua ribu saja, Mas!”, jawabnya
Saya cuma ada lima ribuan”, sambung saya.
Kalau bisa uang pas saja Mas”, tegasnya
Lho, memangnya kenapa? Kan nanti ada kembaliannya…”
Itu dia masalahnya, kalau lebih tak pernah ada kembalian…”
Oooo….”.
Kemudian saya berakhir dengan kebengongan dan kebingungan.
Jangan dikira kebengongan dan kebingunan saya berakhir, mata dan kepala saya celingukan mencari sesuatu. Saya mencari jembatan timbang-nya. Kok ya tidak ketemu.

Gak ada hubungannya! Cuma ilustrasi timbangan
Ah.. jujur saja, akhir-akhir ini saya sangat tidak memperhatikan, apakah lokasi itu masih menjadi lokasi bernama Jembatan Timbang, atau Pos Retribusi. Jadi mohon maaf saja kalau saya masih menyebutkanya sebagai jembatan timbang, karena itu namanya yang memang masih familiar sampai saat ini. Kalau ternyata nama dan fungsinya sudah berubah menjadi Pos Retribusi dan/atau sejenisnya, maka itulah adanya dan sebenarnya.

Baiklah, anggap saja saya tidak tau dan sudah berubah menjadi Pos Retribusi, maka yang kemudian terjadi justru semakin membuat saya bengong dan bingung. Sang Sopir kembali dari menyerahkan retribusi kepada petugas yang ada di lokasi. Cukup murah, 2000 rupiah sahaje.

“Selalu bayar ya Mas kalau bawa angkutan dan lewat sini?”, tanya saya.
“Iya Mas, harus bayar. Apalagi ada petugas yang jaga. Kalau kita terus dan gak masuk ini, bisa susah”, jawabnya.
“Maksudnya?” tanya saya penasaran.
“hehehe”, sopir hanya tertawa.

Pasal yang satu ini, kenapa lebih baik masuk, sebenarnya saya juga sudah pernah mendapatkan testimoni dari seorang sopir truk yang pernah saya ajak ngobrol gak karuan.

“Selalu bayar dua ribu?”, tanya saya masih berlanjut.
“Iya Mas, kan cuma pick-up. Kalau truk ya lebih banyak bayarnya”, jawabnya.

“Ada tanda terimanya?”, saya mulai usil.
“Gak pernah ada tanda terima Mas…!” jawabnya lagi.

“Ada petugas yang nyatat tiap orang yang bayar?”
“Gak liat Mas, tapi rasanya duitnya langsung dikumpulkan saja tuh”.

STOP…!!!
Itu bagian yang paling menarik.  Retribusi tanpa tanda terima?
Perhatian utama saya hanya pada tanda terima yang seyogyanya diberikan kepada publik yang membayarkan retribusi kepada pemerintah sebagai bukti yang sah. Bukan macam transaksi di kios atau warung.

Tapi… ya sudahlah… mungkin ada hal yang tidak saya ketahui.
Sementara perjalanan masih sisa sedikit lagi menuju Banjarbaru.
Perbincangan masih terus berlanjut.

---
Tulisan yang berhasil dipulihkan dari blog lama. Syukurlah...

Komentar