Karedit

Jalan hidup yang kemudian membawanya ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin setelah beberapa tahun berada di Kalimantan Tengah. Sebelumnya kami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, kadang bahasa Banjar karena saya sudah menduga ada logat asli yang tersimpan dari nada bicaranya.

Benar saja, dia seorang lelaki asli Tasikmalaya yang memiliki seorang putera yang sudah 5 tahun usianya. Profesi pertamanya saat datang ke Kalimantan beberapa tahun silam adalah menjadi seorang tukang kredit keliling.

“Memang ada kelemahan mas, karena kita tidak berbadan hukum seperti finance sepeda motor itu. Modal kita adalah kepercayaan“, jelasnya seraya memberikan komparasi dengan lembaga finance atau pembiayaan kredit sepeda motor yang lagi merajalela itu dengan sistem kerja kredit keliling mereka. Jawaban diberikan setelah saya bertanya bagaimana sistem yang dibangun antara para tukang kredit keliling dengan konsumennya.

Saya hanya pernah melihat di televisi, kalau para pelaku bisnis kredit keliling tersebut hanya bermodalkan catatan, sebuah pembukuan sederhana tentang klien dan pembayarannya. Ternyata memang lebih kurang macam itu. Sementara acara di televisi memberikan semacam stereotype para pelaku bisnis kredit keliling yang selalu meneriakkan kata “Kareediiiiit…“.

Setelah dinilai berhasil oleh Bos atau pemilik modal, ia kemudian di rolling ke Banjarmasin. Nah, kalau yang ini kemudian hal baru lagi bagi saya, ternyata bisnis kredit keliling ini melibatkan jaringan kerja yang luas dan beroperasi antar propinsi. Sepintas bisnis kecil, namun ternyata memiliki omzet yang tidak sedikit. Merekapun mengenal istilah rolling atau mutasi lokasi.

Jalan hidup di Banjarmasin, ternyata tidak berpihak padanya dalam menjalankan bisnis kredit keliling di Banjarmasin. Masuk ke daerah-daerah tertentu memasarkan barangnya, kemudian membuat dirinya terbentur dengan kredit macet para klien. Saat sang isteri dengan percaya diri mengambil barang-barang kreditan, sang suami entah ada dimana. Namun tunggu saja saat tiba waktu pembayaran, maka sang suami yang akan berada di depan pintu dengan mata melotot sambil berkata, “siapa suruh kasih kredit ke isteri saya ?!”.

Sambil tersenyum lelaki muda itu bercerita tentang lika-liku menjalankan bisnis kredit keliling sembali secara perlahan saya mencoba untuk belajar sesuatu.

“Seandainya waktu itu saya memilih untuk rolling ke HSU, mungkin saya akan berhasil mas“, demikian ujarnya sambil menceritakan bahwa rekannya yang juga di rolling dan mengambil lokasi di HSU. “Namun saya yakin, jika memang ada rejeki, maka saya juga akan berhasil, yang penting saya jalani dulu“. Nah… saya suka prinsipnya yang ini.

Sekalipun ada prinsip yang lain yang juga saya pegang, bahwa kita harus tetap melakukan kalkulasi yang rasional.

Bagaimanapun, saya merasa banyak hal yang saya dapatkan dari perbincangan dengan mantan pelaku bisnis kredit keliling ini yang sekarang sudah alih profesi menjadi seorang sopir mobil pick-up carteran untuk angkutan barang dan sekali waktu menjadi seorang kernet truk untuk menghidupi isteri dan puteranya.

Tidak mudah menjalankan usaha kredit keliling ini, namun prinsip kepercayaannya itu yang tetap membuat saya kagum. Ada “manajemen resiko” yang unik di sana, tentu saja ditambah dengan sejumlah prinsip dasar lainnya.

Yaa… curi-curi ilmu praktis macam ini memang senang saya lakukan, sekalian menyalurkan hobi ngobrol dan bertemu dengan macam kalangan masyarakat, dari pada jadi macam katak dalam baskom.

---
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.com)

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru